Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tak Hanya Soal Perempuan, Ini Pergolakan Batin RA Kartini yang Jarang Diketahui

Tak Hanya Soal Perempuan, Ini Pergolakan Batin RA Kartini yang Jarang Diketahui RA Kartini. ©2018 Merdeka.com/Jayanti

Merdeka.com - Raden Ajeng (RA) Kartini selama ini banyak dikenal sebagai pahlawan kesetaraan terhadap hak-hak kaum perempuan di Indonesia. Karena jasanya, kini banyak perempuan-perempuan Indonesia yang ikut berperan dalam sektor ruang publik dan tak hanya menghiasi kegiatan-kegiatan rumah tangga.

Tak banyak yang mengetahui jika dulu pergolakan pemikiran Kartini tak hanya berkutat soal ketimpangan derajat sosial laki-laki dan perempuan. Namun juga hal-hal lain seperti isu humanisme.

Hal itulah yang tertuang dalam sebuah karya tulis yang Ia buat saat usia 19 tahun berjudul “Van een Vergeten Uithoekje” atau “Pojok yang Dilupakan”. Tulisan ini bercerita tentang tanah kelahirannya, Jepara, yang punya banyak seniman ukir sejati namun banyak dilupakan orang dan hasil kerjanya tak mendapat penghargaan yang berarti.

Lalu seperti apa pergolakan Kartini dalam tulisan itu? Berikut selengkapnya:

Langkah Nyata Kartini

foto ra kartini

©2013 Merdeka.com/parwito

Berangkat dari tulisan itu, Kartini kemudian giat mempromosikan hasil ukiran para pengrajin dari daerah Belakang Gunung, Jepara dan dipasarkan ke Semarang, Batavia, hingga Belanda. Bahkan, dia juga mengirimkan hadiah ulang tahun kepada Sri Baginda Ratu Wilhelmina saat sang ratu masih berusia 24 tahun.

Akhirnya, seluruh upaya Kartini berbuah manakala permintaan akan produk-produk hasil industri ukir Jepara terdongkrak hingga berkali-kali lipat. Para pengrajin pun bisa menjual karya mereka dengan harga tinggi.

Hal itu tentu berdampak pada tingkat kesejahteraan para pengrajin yang meningkat. Cara yang sama juga Kartini lakukan terhadap pengrajin emas dan tenun di sana.

Kekaguman Kartini Terhadap Batik

ilustrasi batik

©2013 Merdeka.com/Shutterstock/pzAxe

Pada tahun 1898, Ratu Wilhelmina hadir dalam sebuah pameran karya wanita di Den Haag, Belanda. Di sana, dipamerkan berbagai hasil kerajinan tangan dan kerja pabrik karya kaum perempuan.

Dilansir dari Indonesia.go.id, pada waktu itu Ratu Wilhelmina berhenti cukup lama di sebuah ruang pamer bernama “Jawa”. Di sana, dipamerkan aneka kerajinan tangan hasil karya perempuan di Hindia Belanda. Ia lalu terpikat pada hasil karya batik yang dipamerkan di sana.

Selain memeriksa bagian batik dengan seksama, Ratu Wilhelmina juga sempat membaca brosur yang berisi seluk beluk kain batik. Narasi brosur berjudul “Handschrift Jepara” yang ditulis dengan bahasa Belanda yang tertata sangat baik itu merupakan tulisan Kartini.

Jadi Referensi Ilmuwan Belanda

008 nfi

©2018 Merdeka.com/Jayanti

Tulisan Kartini soal batik dimasukkan sebagai referensi oleh dua antropolog kondang asal Belanda, GP Rouffaer dan HH Juynboll. Dalam buku mereka yang berjudul “De Batik-kunst I Nederlandsch-Indie En Haar-Geschiedenis”, tertulis bahwa tulisan RA Kartini soal batik merupakan bagian penting dari buku itu dari bagian pertama.

Mendengar tulisannya tentang batik akan dipublikasikan, Kartini begitu antusias. Ia menulis kepada sahabat penanya, Estelle Zeehandelar, dengan nada girang dan antusias terhadap berita gembira itu.

“Sebuah karangan tentang batik, yang tahun lalu kutulis buat Pameran Nasional Karya Wanita, dan sejak itu tak terdengar kabar beritanya, akan diterbitkan dalam karya-standar tentang batik, yang akan segera terbit,” tulis Kartini kepada Estelle dikutip Merdeka.com dari Indonesia.go.id pada Rabu (21/4).

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP