Simbol Penghormatan, Ini 3 Fakta Unik Gamelan Carabalen Keraton Surakarta
Merdeka.com - Dalam tradisi budaya Jawa, alat musik gamelan punya nama yang bermacam-macam. Salah satunya adalah Gamelan Carabalen milik Keraton Surakarta.
Dilansir dari Plengdut.com, Gamelan Carabalen biasanya dimainkan untuk menghormati kedatangan tamu. Menurut Serat Wedhapradangga, Gamelan Carabalen dibuat pertama kali pada zaman Prabu Suryawisesa dari Kerajaan Jenggala pada tahun 1145 Saka atau 1223 Masehi.
“Biasanya gamelan ini diletakkan di pintu masuk bagian samping pintu gerbang, kemudian ketika ada tamu datang gamelan itu dimainkan,” kata Aloysius Suwardi, seniman dan pengajar karawitan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dikutip dari kanal YouTube BRIN Indonesia.Berikut selengkapnya:
Makna Harfiah Gamelan Corobalen

©YouTube/BRIN
Menurut Rudy Sulistanto, seniman Keraton Surakarta, penamaan “Corobalen” pada alat musik itu terdiri dari dua kata yaitu “coro” dan “bali”. Menurutnya, penamaan itu terinspirasi dari sebuah alat musik dari Bali yang dimainkan seperti gamelan.
Rudy juga mengatakan ada kemungkinan penamaan itu diambil dari cara memainkan gamelan itu yang “dibolan-baleni” atau diulang-ulang.
“Orientasinya hanya seputar nada-nada itu. Jadi dimainkannya hanya nada yang berulang-ulang. Tapi bunyi yang diulang-ulang itu didengarkan oleh telinga, itu rasanya begitu merasuk pada kita,” terang Rudy.
Gamelan "Woro-Woro"

©Plengdut.com
Bagi Rudy, bunyi dari Gamelan Corobalen menjadi semacam pengumuman atau “woro-woro” bagi warga di sekeliling Keraton. Bahkan pada zaman dulu bunyi gamelan itu terbawa angin dan terdengar hingga Klaten.
Ia mengatakan, saat warga mendengar gamelan itu ditabuh, akan timbul pertanyaan dalam benak mereka acara apa yang akan diadakan oleh keraton.
“Jadi kalau gamelan ini dibunyikan, akan timbul pertanyaan,’Itu keraton mau ada acara apa?’ apa ada yang melahirkan, apa ada prosesi lamaran, dan sebagainya. Yang seperti ini kan jadi informasi. Kok bisa terdengar sampai ke Klaten? Itu kan terbawa angin karena dulu belum ada kendaraan, bangunan belum banyak. Jadi gamelan ini memang suaranya keras,” kata Rudy.
Simbol Penghormatan

©Plengdut.com
Menurut Bapak Put, Abdi Dalem Keraton Surakarta, Gamelan Corobalen biasanya dibunyikan saat ada penyambutan tamu, peringatan hari lahir, dan ulang tahun Sinuwun. Dia menambahkan, gamelan ini dulunya dibunyikan setiap hari Sabtu sore antara waktu Ashar dan Maghrib.
“Tapi gamelan ini sudah tidak dibunyikan sejak Sinuwun ke-12 (Sri Susuhunan Pakubuwana XII) turun tahta. Pada era sinuwun yang sekarang sudah tidak diaktifkan lagi. Sesekali pernah diaktifkan saat Jumeneng, saat kirab besar, waktu itu gamelannya juga ikut diarak para abdi dalem,” kata Pak Put dikutip dari kanal YouTube BRIN.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya