Bongkahan kayu sepanjang empat meter yang berlokasi di Dukuh Butuh, Desa Karangudi, Kecamatan Ngrampal, Sragen, itu terlihat keropos dimakan usia. Masyarakat setempat meyakini bahwa kayu itu telah berusia ratusan tahun. Selain itu, mereka meyakini pula bahwa kayu itu merupakan sisa perahu yang pernah dinaiki oleh Joko Tingkir saat melintas di Sungai Bengawan Solo pada abad ke-16.
Dilansir dari Liputan6.com, bongkahan kayu tersebut ditempatkan di dekat pohon kesambi yang umurnya lebih tua dari kayu itu. Lingkungan di sekitar pohon itu dikenal masyarakat dengan nama Punden Domba.
Sesepuh Dukuh Butuh, Mbah Naryo (74) mengaku pernah menyaksikan perahu itu berjalan sendiri waktu usianya masih kecil, yaitu ketika terjadi banjir yang menenggelamkan kawasan di sekitar Sungai Bengawan Solo. Berikut selengkapnya:
Advertisement
Ungkap Legenda Jaka Tingkir
Mbah Naryo sebenarnya tidak mengetahui secara pasti tentang asal muasal perahu itu. Namun dari cerita para sesepuh pada zamannya, dia mengatakan kalau dulunya Kiai Karebet (nama lain Jaka Tingkir) pernah berputar-putar mengendarai perahu itu hingga akhirnya tiba di dukuh tempatnya tinggal sekarang.
Di tempat itu, Jaka Tingkir menemukan apa yang ia butuhkan sehingga sekarang tempat itu diberi nama Dukuh Butuh. Sementara itu tempat tempat ia berputar-putar diberi nama Dukuh Nguter.
Di Kabupaten Sragen sendiri, Mbah Naryo mencatat ada empat dukuh yang bernama Butuh yaitu Dukuh Butuh di Banaran, Sambungmacan; Butuh di Wedi, Jenar; Butuh di Karangudi, Ngampal; dan Butuh di Gedongan, Plupuh.
Advertisement
Kisah Perjalanan Jaka Tingkir Bertemu Ayah dan Ibunya
Menurut pemerhati sejarah yang tinggal di Dukuh Butuh, Banaran, Sambungmacan, Priyanto (55), dulunya perahu itu digunakan Jaka Tingkir dalam perjalanan mencari ayah dan ibunya. Perahu itu sendiri diberikan oleh Ki Ageng Banyubiru yang kemudian meminta Jaka Tingkir untuk berlayar ke timur.
Selama pelayaran itu, Jaka Tingkir sempat berhenti di daerah Butuh Jenar dan Butuh Banaran. Di Butuh Banaran inilah ia akhirnya bertemu dengan Nyi Ageng Pengging yang tak lain adalah ibunya sendiri. Namun sebelum bertemu ayahnya, ibunya meminta Jaka Tingkir untuk belajar dari sosok syekh yang menjadi guru para wali bernama Syekh Imam Sampurna.
“Oleh Syekh Imam Sampurna, Jaka Tingkir diarahkan untuk mencari Sunan Kalijaga di Alas Ketangga. Dia pun kembali berlayar menuju ke Butuh Karanganyar, Ngawi, dan melanjutkan perjalanan menuju Alas Ketangga dengan berjalan kaki. SelaiN bertemu Sunan Kalijaga, di sana ia juga bertemu dengan Brawijaya V (Raja Majapahit). Oleh sang raja, Jaka Tingkir diberi wahyu," ujar Priyanto.
Advertisement
Akhir Petualangan
Setelah mendapat wahyu, Jaka Tingkir melanjutkan petualangan mencari ayahnya, Kebo Kenanga. Saat hendak mengambil perahu, ada raja buaya yang menghadang yang dikenal dengan nama Raja Puan.
Dia sendiri sebenarnya merupakan seorang manusia yang dikutuk oleh Brawijaya V menjadi buaya. Saat bertemu Jaka Tingkir dia ingat akan pesan Brawijaya V yang mengatakan ia harus membantu pemuda bernama Tingkir kalau ingin menjadi manusia kembali.
“Akhirnya Jaka Tingkir menaiki perahu dengan melawan arus Sungai Bengawan Solo menuju barat dengan didorong kawanan buaya anak buah Raja Puan hingga akhirnya tiba di Butuh, Gedongan dan bertemu dengan sang ayahanda,” kata Priyanto dikutip dari Liputan6.com.