Peristiwa 21 Februari: Terbunuhnya Malcolm X, Tokoh Pejuang HAM Amerika
Merdeka.com - Malcolm X adalah salah seorang pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) yang terkenal di dunia. Aktivis keturunan Afrika-Amerika ini dikenal lantang memperjuangkan hak-hak kulit hitam. Berkat perjuangannya, tokoh Muslim satu ini dikenang sebagai aktivis paling berpengaruh dalam sejarah.
Pria kelahiran 19 Mei 1925 ini, sejak kecil sudah dikenal sebagai siswa cerdas dan fokus. Salah satu impian terbesar dalam hidup Malcolm ialah menjadi seorang pengacara. Namun, ia kehilangan ketertarikan pada sekolah saat guru favoritnya mengatakan bahwa impian menjadi pengacara adalah sesuatu yang mustahil bagi ras kulit hitam, sehingga ia harus berhenti sekolah di usia 15 tahun.
Pada 1946, pejuang HAM ini ditangkap atas tuduhan pencurian dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Selama di penjara, Malcolm X banyak banyak belajar tentang ajaran Islam sunni. Tak hanya itu, ia juga lebih memahami ketertindasan dan ketidakadilan yang menimpa ras hitam sepanjang sejarah.
Tepat hari ini 21 Februari, pada 1965, tokoh yang selalu memperjuangkan hak-hak ras kulit hitam ini harus tewas di ujung peluru oleh tiga orang Afrika-Amerika. Lantas, siapa sebenarnya Malcolm X dan apa latar belakang pembunuhannya? Simak ulasannya yang dilansir dari ejournal.upi.edu dan Time:
Sepak Terjang Malcolm X, Sosok Pejuang HAM di Amerika

www.pastposters.com
Pada pertengahan 2020 lalu, masyarakat Amerika Serikat dikejutkan oleh kematian seorang warga sipil bernama George Folyd. Kasus tewasnya salah seorang pria berkulit hitam tersebut diduga karena tidak bisa bernapas saat dibekuk petugas kepolisian. Kasus tersebut dianggap sebagai diskriminasi ras yang dilakukan oleh oknum polisi berkulit putih.
Kematian George Folyd menambah daftar panjang kasus diskriminasi ras di Amerika Serikat. Sebagaimana kita tahu, konfilk ras merupakan sejarah kelam di Negeri Paman Sam. Jauh sebelumnya, upaya penyelesain ras ini sudah dibuat oleh Presiden Abraham Lincoln, yang mana presiden Amerika Serikat ke-16 itu mengeluarkan peraturan mengenai persamaan hak bagi setiap warga.
Banyaknya tindakan diskriminatif yang dilakukan orang kulit putih terhadap orang kulit hitam, maka bermunculan gerakan-gerakan yang dimotori oleh para aktivis negro yang menuntut kesamaan hak sipil. Salah satu tokoh yang memperjuangkan hak-hak warga sipil adalah Malcolm X.
Nama Malcolm X mulai mencuat ke dalam kehidupan politik Amerika Serikat pada tahun 1950-1960. Namanya semakin dikenal luas oleh masyarakat saat bergabung dengan organisasi Nation Of Islam (NOI) yang dipimpin oleh Elijah Muhammad. Bersama organisasi tersebut, membawanya terjun pada ide-ide perlawanan terhadap orang kulit putih yang dianggap bertindak sewenang-wenang.
Sepanjang hidupnya, Malcolm X dikenal refresif melawan perilaku diskriminasi dari orang kulit putih. Menurutnya, semua warga negara harus diberikan perilaku yang adil dan tidak membeda-bedakan warna kulit, agama, dan golongan. Oleh karena itu, aktivis muslim satu ini dianggap sebagai tokoh radikal bagi kalangan orang kulit putih.
Latar Belakang Pembunuhan Malcolm X

bossip.com
Pada Maret 1964, Malcolm X meninggalkan organisasi Nation of Islam (NOI) karena kecewa dengan ketua NOI, Elijah Muhammad. Setelah keluar dari organisasi NOI, banyak anggota memandang bahwa Malcolm adalah seorang penghianat organisasi. Hal ini pula yang menyebabkan ia menerima banyak ancaman pembunuhan dari dalam grup tersebut.
Melansir dari Time, tak lama setelah keluar dari NOI, Malcolm X mendirikan dua organisasi baru, yakni Muslim Mosque, Inc (MMI) dan Organization of Afro-American Unity (QAAU). Sama yang terjadi pada banyak organisasi dan aktivis hak-hak sipil, Malcolm juga diawasi oleh pemerintah federal dan negara bagian New York.
Seminggu sebelum pembunuhan Malcolm X, rumahnya yang berada di wilayah Queens, New York City, dibom saat istri dan anaknya tidur di dalam. Meski tidak ada korban jiwa, jelas peristiwa pengeboman tersebut menjadi tanda bahwa Malcolm X tengah berada dalam bahaya.
21 Februari 1965: Terbunuhnya Malcolm X di Audubon Ballroom
Pada 21 Februari 1965, Malcolm X tengah bersiap untuk berbicara pada sebuah acara Organisasi Persatuan Afro-Amerika (QAAU) di Audubon Ballroom, Manhattan, New York City. Tiba-tiba keributan pecah di antara 400 orang penonton, dan terdengar seseorang berteriak,"Negro! Keluarkan tangamu dari sakuku!"
Saat itu, Malcolm dan pengawalnya pindah dan berusaha menenangkan keributan. Kemudian seorang pria bergegas ke depan dan menembaknya sekali di dada dengan senapan jenis sawed-off berlaras ganda. Sementara itu, dua orang lainnya naik panggung dan menambaki Malcolm menggunakan pistol semi-otomatis.
Tak lama setelah kejadian itu, Malcolm X dibawa ke Columbia Presbyterian Hospital, dan dinyatakan meninggal. Menurut laporan otopsi, tubuhya memiliki 21luka tembak.
Sempai saat ini, tewasnya Malcolm X masih menjadi misteri. Banyak yang menduga bahwa Malcolm X dibunuh oleh organisasi NOI. Kendati demikian, pihak NOI mengaku tidak terlibat dalam pembunuhan Malcolm X. Terlepas dari itu, impiannya menyebarkan visi anti-rasisme dan nilai-nilai Islam yang humanis, berhasil menggugah kalangan Afrika-Amerika dan dunia.
(mdk/jen)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya