Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah Inspirasi Tri Mumpuni, “Wanita Listrik” Asal Semarang yang Diakui Dunia

Kisah Inspirasi Tri Mumpuni, “Wanita Listrik” Asal Semarang yang Diakui Dunia Kisah Inspirasi Tri Mumpuni. ©2020 liputan6.com

Merdeka.com - Pada Minggu (20/12), Presiden Jokowi menyampaikan sebuah kabar gembira melalui akun media sosialnya. Kabar gembira itu adalah dua ilmuwan Indonesia yang telah mendapat pengakuan dunia.

Di samping Prof. Adi Utarini yang masuk 10 besar ilmuwan berpengaruh dunia versi jurnal ilmu pengetahuan Nature, ada nama Tri Mumpuni, yang masuk ke dalam 22 besar dalam daftar 500 ilmuwan Muslim paling berpengaruh di dunia yang diterbitkan Royal Islamic Strategic Studies Centre.

Sesuai namanya, Tri Mumpuni telah terbukti mumpuni dalam mengembangkan kemandirian masyarakat di kawasan-kawasan terpencil melalui pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH). Melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) yang dipegangnya, dia telah berjasa dalam pembangunan 65 PLTMH pada desa-desa terpencil di pelosok Nusantara.

Walaupun menjadi orang penting yang telah berjasa bagi kehidupan banyak orang, perempuan kelahiran Semarang 56 tahun silam itu merupakan sosok yang ramah dan rendah hati. Lalu bagaimana perjuangan Tri Mumpuni dalam mengembangkan energi listrik bagi masyarakat Indonesia? Berikut selengkapnya.

Masa Kecil Tri Mumpuni

kisah inspirasi tri mumpuni

©Webcitation.org

Melansir dari Webcitation.org, Tri Mumpuni adalah anak ketiga dari delapan bersaudara. Sejak menjalani masa kecil di Semarang, dia terbiasa melihat dan membantu ibunya yang aktif dalam kegiatan sosial. Tri Mumpuni bercerita, ayahnya adalah orang yang mengajarinya untuk berbagi dan ibunya mengajarinya untuk memberi.

Sejak kelas empat SD, Mumpuni sudah rajin ikut ibunya keliling desa untuk mengobati orang-orang yang terkena penyakit koreng. Di antara saudara-saudara lainnya, Mumpuni lah yang sering membantu ibunya yang merupakan lulusan Sekolah Kepandaian Putri itu. Dari sana Mumpuni belajar banyak hal tentang hidup.

“Pengalaman-pengalaman itu memperlihatkan kepada saya, dari proses hubungan manusia itu uang bukanlah segala-galanya,” kata perempuan yang akrab disapa Puni itu.

Membangun Pembangkit Listrik

kisah inspirasi tri mumpuni

©Webcitation.org

Sejak menikah, Tri Mumpuni bersama suaminya sering berkeliling ke desa-desa dan melihat sumber air yang melimpah namun belum terjamah aliran listrik. Kemudian mereka membicarakan ke kepala desa setempat untuk membangun pembangkit listrik dari aliran air sungai.

Salah satu desa yang pertama kali ia terangi listrik dari pembangkit adalah Dusun Palanggaran dan Cicemet yang berada di kaki Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat pada 1997. Untuk mencapai tempat itu, Tri Mumpuni beserta timnya harus berjalan kaki selama sembilan jam atau naik motor yang rodanya diberi rantai sebab jalan setapaknya licin.

Pada awalnya, Tri Mumpuni tidak mendapat uang dari manapun untuk mengerjakan proyeknya itu. Selain itu, masyarakat setempat juga susah dimintai iuran. Namun setelah enam bulan berlalu, Tri Mumpuni kembali ke Dusun Palanggaran.

Betapa kagetnya ia setelah mengetahui bahwa desa itu telah memiliki kas Rp 23 juta. Uang sebanyak itu kemudian dimanfaatkan untuk merenovasi jalan agar bisa dilalui kendaraan roda empat.

Membangun Komunitas

kisah inspirasi tri mumpuni

©Webcitation.org

Bagi Tri Mumpuni, listrik hanyalah alat untuk membangun potensi masyarakat desa. Oleh karena itu, ia melalui IBEKA, selalu menerjunkan tim sosial selama dua minggu sampai satu bulan. Di sana mereka membangun komunitas atau lembaga yang siap untuk mengurus turbin pembangkit listrik itu.

Selain itu, mereka juga diminta membuat susunan organisasi pengurus turbin seperti ketua, sekretaris, bendahara, sampai operator mesin. Mereka juga diajak menghitung biaya yang harus dibayar pelanggan sebagai dana pemeliharaan pembangkit itu.

“Kami akan mencari orang-orang berpengaruh di desa itu lalu membuat pertemuan dengan masyarakat di gereja bila di komunitas Kristiani, di masjid kalau komunitasnya Muslim, atau di rumah adat seperti di Kalimantan. Ternyata orang desa nyambung diajak bicara hal-hal seperti itu,” ungkap Tri Mumpuni.

Raih Penghargaan

kisah inspirasi tri mumpuni

©Webcitation.org

Kini, Tri Mumpuni telah berhasil membuat 61 desa terpencil yang awalnya gelap gulita menjadi terang benderang. Oleh Ketua DPD RI La Nyala Mattalitti, dia dijuluki sebagai “wanita listrik”. Atas jasanya dalam mengembangkan listrik di desa-desa, Tri Mumpuni bersama suaminya berhasil mendapatkan Nobel Ashden Awards di tahun 2012.

Mengenai jasa-jasa yang telah diberikannya pada dunia kelistrikan di Indonesia, Tri Mumpuni mengatakan hidupnya sangat berwarna. Satu hari dia bersama istri dan anaknya berada di desa terpencil pelosok Indonesia yang berada di tengah hutan, tapi di satu hari ia menghadiri kota-kota megapolitan seperti New York dan Beijing untuk ajang penghargaan.

“Suatu kali Ayu (anak Tri Mumpuni) bilang betapa tidak adilnya ketika 47 persen orang Indonesia belum dapat listrik. Kami katakan kalau yang lebih tidak adil lagi adalah uang untuk melistriki mereka dikorup. Ini kriminal,” tegas Tri Mumpuni dikutip merdeka.com dari Webcitation.org pada Rabu (23/12).

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP