Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Intip Suasana Ramadan di Masjid Tertua Yogyakarta, Ada Iringan Langgam Jawa

Intip Suasana Ramadan di Masjid Tertua Yogyakarta, Ada Iringan Langgam Jawa Potret Suasana Ramadan di Masjid Pathok Negoro Plosokuning. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Masjid Pathok Negoro Plosokuning di Jalan Plosokuning Raya Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai menampakkan aktivitas sore di bulan Ramadan, pada Jumat, (8/4). Terlihat sejumlah warga, dan takmir silih berganti menyiapkan tikar serta menyapu latar sebelum dimulainya pengajian Ramadan.

Lokasi cagar budaya tersebut memang selalu jadi tempat wisata religi favorit, terutama bagi masyarakat yang ngabuburit. Di sini pengunjung bisa menemukan berbagai keunikan, mulai dari struktur bangunan berusia 265 tahun hingga iringan langgam Jawa sebagai ciri khas.

Berdasarkan pantauan Merdeka di lokasi, seiring menjelang malam hari, jumlah jemaah akan semakin memenuhi area bangunan hingga pelataran masjid. Berikut ulasan selengkapnya.

Beribadah Sambil Belajar Sejarah

potret suasana ramadan di masjid pathok negoro plosokuning

©2022 Nurul Diva Kautsar/ Merdeka.com

Pilar serta atap kayu begaya lawas menjadi ciri khas dari Masjid Pathok Negoro Plosokuning. Wisatawan dan jemaah yang hadir seakan dibawa kembali ke era masjid ini dibangun ratusan tahun silam.

Ketua Takmir Masjid Pathok Negoro, Kamaludin Purnomo mengatakan jika masjid ini pertama kali dibangun oleh Sultan Hamengkubuono ke-1 bernama Bendara Raden Mas (BRM) Sujono, atau Pangeran Mangkubumi I. Disebutkan masjid di sana merupakan yang tertua di Yogyakarta versi beberapa literatur.

potret suasana ramadan di masjid pathok negoro plosokuning

Interior bangunan Masjid Pathok Negoro Plosokuning ©2022 Nurul Diva Kautsar/ Merdeka.com

“Masjid Pathok Negoro Plosokuning ini sudah ada sejak 1757 dan dulu memiliki fungsi sebagai penanda negara. Ini merupakan satu dari total empat masjid yang juga sebagai Pathok Negoro (pertahanan negara) seperti di Babadan, Mlangi dan Dongkelan,” terangnya saat diwawancarai.

Berbuka Bersama Ditemani Ikan Hias di Kolam

potret suasana ramadan di masjid pathok negoro plosokuning

Sejumlah warga menyiapkan menu takjil di Masjid Pathok Negoro Plosokuning ©2022 Nurul Diva Kautsar/ Merdeka.com

Pengajian sore menjadi kegiatan rutin dilaksanakan, sembari menanti kumandang azan magrib. Menurut Kamaludin, para pengisi pengajian berasal dari tokoh agama setempat.

Keunikan yang bisa dijumpai juga di sini, pada sisi serambi masjid terdapat kolam ikan yang mengelilingi masjid. Menurut Kamaludin, air dari kolam tersebut berasal dari sungai yang dialirkan dan biasa dipakai jemaah untuk berwudu.

potret suasana ramadan di masjid pathok negoro plosokuning

Menu kolak di Masjid Pathok Negoro Plosokuning ©2022 Nurul Diva Kautsar Merdeka.com

“Keunikan tentu arsitek budaya Jawa, kemudian wudhunya di kolam. Tapi itu dulu. Sekarang sudah ada keran, dan sumur jadi wudhunya di sana. Tapi yang fanatik masih ada yang wudhu di kolam. Ini airnya dari sungai Kelandohan,” lanjutnya.

Selain itu, tradisi memukul bedug saat menjelang tarawih juga memiliki nada yang khas dengan pola yang unik.

Banyak Pengunjung yang Datang hingga Dari Aceh

potret suasana ramadan di masjid pathok negoro plosokuning

Ketua Takmir Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Kamaludin Purnomo ©2022 Nurul Diva Kautsar/ Merdeka.com

Sementara itu, muazin di Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Jayuli Hartono mengatakan bahwa pengunjung di Masjid Plosokuning tak pernah sepi. Bahkan banyak di antaranya yang datang dari luar daerah, seperti Jawa Barat, Banten sampai Aceh.

“Pengunjung di sini memang banyak sekali, apalagi setelah hari ke-15 Ramadan itu banyak yang dari luar daerah seperti Nganjuk, Muntilan, Pekalongan, Cirebon, Banten, Tasikmalaya, sampai Aceh,” terangnya.

potret suasana ramadan di masjid pathok negoro plosokuning

Suasana mengaji kitab kuning di Masjid Pathok Negoro Plosokuning di bulan Ramadan ©2022 Merdeka.com

Ia mengatakan, jika warga setempat begitu terbuka dengan tamu dari luar daerah termasuk yang hendak berziarah ke makam Kyai Mursodo. Ia merupakan sesepuh dan tokoh berpengaruh dari Masjid Pathok Negoro Plosokuning.

Membuat Ibadah Ramadan Jadi Khusyuk

potret suasana ramadan di masjid pathok negoro plosokuning

©2022 Nurul Diva Kautsar/Merdeka.com

Keunikan Masjid Pathok Negoro Plosokuning tersebut juga dirasakan oleh pengunjung asal Kota Salatiga bernama Galih. Menurutnya, suasana di sini seakan membawanya ke masa lalu

“Suasananya berbeda. Seperti dibawa ke masa lalu,” terang pria berusia 24 tahun itu.

Selain itu, arsitektur di sana menurut Galih, berbentuk mirip keraton sehingga nuansa Yogyakarta begitu terasa. Terlebih dengan lantunan puji-pujian langgam Jawanya.

“Selain sejarahnya, arsitekturnya juga unik, sangat terasa sekali ornamen dan desain ala keraton Yogya. Azan dan puji-pujian menggunakan langgam Jawa. Ini sudah jarang ditemukan. Jemaah dan warga sekitar sangat terbuka dengan orang baru yang berkunjung ke sana,” lanjutnya.

potret suasana ramadan di masjid pathok negoro plosokuning

Suasana salat tarawih di Masjid Pathok Negoro Plosokuning ©2022 Nurul Diva Kautsar/ Merdeka.com

Hal senada juga dirasakan Risky, jemaah asal Riau. Ia mengatakan jika bangunan bersejarah di Masjid Pathok Negoro Plosokuning membuatnya nyaman melaksanakan ibadah.

"Ini cukup berkesan ya, terutama arsitektur bangunan berdesain Jawa ini yang berisi cerita sejarah," katanya.

Ia juga mengaku terkesan dengan keramah-tamahan warga di sekitar masjid. Juga variasi menu buka puasa yang disediakan, sangat berkesan.

"Saya terkesan dengan terbukanya orang-orang di sini, kita bisa banyak belajar soal Masjid Plosokuning dan kegiatan-kegiatan Ramadan di sini," tandasnya.

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP