Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Temaram di Pelabuhan Sunda Kelapa

Temaram di Pelabuhan Sunda Kelapa Salat Idul Fitri 1435 H. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Menikmati suasana Kota Tua di Jakarta, tak akan afdol jika tak berkunjung ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Sekali merengkuh dayung, dari Pelabuhan Sunda Kelapa anda bisa melanjutkan perjalanan ke situs-situs lain di sekitarnya seperti Museum Bahari, Jembatan Intan, Menara Syahbandar atau menyusuri Pasar Ikan.

Seperti pelabuhan lain di manapun, Pelabuhan Sunda Kelapa juga kental dengan aroma perdagangan.

Pelabuhan itu kini menjadi pelabuhan antar pulau dan simpul distribusi barang-barang dari berbagai macam seperti motor, semen, batu bata, furniture lemari, kasur dan lain-lain.

Kapal-kapal besar parkir di pelabuhan Sunda Kelapa, dan nelayan-nelayan sedang sibuk memperbaiki kapalnya.

Berkeliling sekitar pelabuhan, truk-truk kontainer sedang menurunkan barang untuk dimasukan ke dalam kapal.

Pelabuhan Sunda Kelapa sudah ada sejak abad ke-12, dan merupakan pelabuhan yang sibuk milik Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran.

Kapal-kapal asing yang berasal dari China, Jepang, India Selatan dan Timur Tengah membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah.

Tome Pires, salah seorang penjelajah pertama asal Portugis yang mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Pulau Jawa antara tahun 1512 dan tahun 1515, menggambarkan Pelabuhan Sunda Kelapa ramai disinggahi pedagang-pedagang dan pelaut dari luar seperti dari Sumatera, Malaka, Sulawesi Selatan, Jawa dan Madura. Di Sunda Kelapa banyak diperdagangkan lada, beras, asam, hewan potong, emas, sayuran serta buah-buahan.

Menjelang abad ke-16 Belanda yang mulai menjelajahi dunia mencari jalan ke timur, menugaskan Cornelis de Houtman untuk berlayar ke daerah yang sekarang disebut Indonesia.

Ekspedisi itu walaupun mahal namun dianggap berhasil setelah didirikannya VOC. Maka dalam perkembangan selanjutnya pada tanggal 30 Mei 1619, Jayakarta direbut Belanda di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen yang sekaligus memusnahkannya.

Di atas puing-puing Jayakarta didirikan sebuah kota baru. J.P.Coen pada awalnya ingin menamai kota ini Nieuw Hoorn sesuai kota asalnya Hoorndi Belanda, tetapi akhirnya dipilih nama Batavia. Belanda yang kemudian berhasil menguasainya cukup lama pelabuhan itu hingga lebih dari 300 tahun. (mdk/cob)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP