Soal pemecatan PNS, Ahok ibaratkan seperti pertandingan sepak bola

Minggu, 11 Desember 2016 19:03 Reporter : Ira Astiana
Soal pemecatan PNS, Ahok ibaratkan seperti pertandingan sepak bola Ahok di Hanura. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dikenal sebagai pemimpin Jakarta yang sering memecat PNS. Hal tersebut dilakukan Ahok bukan tanpa alasan, namun melalui beberapa pertimbangan.

"Kami mecat enggak sembarangan mecat. Kami punya angka rapor yang dikenal dengan key indicator performance. Di situ kami nilai bagaimana performa PNS, yang tidak memenuhi tentu akan dipecat," kata Ahok dalam acara rapat kerja dan pelantikan Bappilu Partai Hanura di Hotel Sunlake Sunter, Jakarta Utara, Minggu (11/12).

Menurut Ahok, ketidakdisiplinan menjadi faktor utama PNS diberi hukuman berupa pemecatan. Jika diibaratkan, para PNS tersebut serupa pemain bola yang tengah melakukan pertandingan. Jika semangatnya menurun, sudah pasti akan diganti pemain baru yang lebih kompeten.

"Aku enggak mau cari musuh (dengan memecat). Tapi kalau kita jadi manajer pemain bola, terus ada pemain yang mainnya mulai turun, kita ganti rnggak? Ada yang bilang enggak enak malu dishot TV, enggak enak tunggu babak kedua atau tunggu pertandingan berikutnya aja. Kalau itu manajer gendeng," papar Ahok.

Ahok juga menyebut selalu tak sabar mengganti para PNS yang sudah banyak mengeruk keuntungan tanpa bekerja. Dia ingin mengganti PNS dengan generasi baru yang kerjanya dianggap lebih baik.

"Saya pengin ganti PNS dengan anak muda yang rajin. Yang sudah kaya-kaya ganti saja sudah. Ada yang bilang saya enggak sabar. Tapi saya bukan enggak sabar. Sebenarnya saya sudah sabar menanti. Saya tungguin anak muda, saya dorong dan yakinkan mereka untuk menjadi penggantinya," ujar Ahok.

Selain itu, menurut Ahok, penghasilan para PNS sekarang sudah lebih besar dibandingkan dulu. Jika posisi itu tidak diisi oleh para pekerja yang pantas, maka penghasilan tersebut tentu akan sia-sia.

"Sekarang banyak PNS yang bergaji besar dan merasa lebih bersyukur dan merasa bangga. Mereka yang dulunya hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekarang sudah bisa menggunakan uangnya untuk keluarga, pergi umrah, dan bawa orangtua naik haji," tuntas Ahok. [sho]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini