Anies Klaim Titik Penurunan Tanah di Jakarta Berkurang dari 20 Menjadi 5

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan titik-titik daratan Jakarta yang mengalami land subsidence atau penurunan daratan, terus berkurang. Ia menyebutkan dari 20 titik lokasi land subsidence, menjadi 5 titik.

Yunita Amalia
Oleh Yunita Amalia - Reporter
Anies Klaim Titik Penurunan Tanah di Jakarta Berkurang dari 20 Menjadi 5
Anies Baswedan resmikan kampung susun akuarium. ©Instagram/@aniesbaswedan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan titik-titik daratan Jakarta yang mengalami land subsidence atau penurunan daratan, terus berkurang. Ia menyebutkan dari 20 titik lokasi land subsidence, menjadi 5 titik.

"Permukaan tanah yang dulunya jumlah penurunan itu ada lebih dari 20 titik sekarang sudah turun menjadi 5 titik," ucap Anies dalam sambutan webinar, Rabu (1/9).

Penyebab berkurangnya titik land subsidence menurut Anies diakibatkan perluasan cakupan layanan perpipaan air bersih, sehingga penggunaan air tanah oleh masyarakat terus berkurang.

"Karena sudah ada pasokan air dari tempat lain dan dalam hal ini salah satunya lewat program PAM ini," tandasnya.

Sebelumnya Anies juga pernah menyampaikan capaian Pemprov DKI dengan mengurangi land subsidence dengan cara menghentikan reklamasi. Ia menegaskan keputusan itu tepat dilakukan dalam menyikapi penurunan land subsidence.

Keputusan ini diperkuat dari hasil penelitian Dhritiraj Sengupta, ilmuwan penginderaan jauh di East China Normal University.

Dalam penelitian Sengupta, dataran pulau artifisial atau pulau buatan lebih cepat terjadi land subsidence, bahkan per tahun, disebutkan terjadi penurunan tanah lebih dari 80 milimeter per tahun.

"Jadi ini adalah fakta yang membuat kita makin merasa yakin bahwa menghentikan, tidak meneruskan kegiatan reklamasi adalah langkah yang tepat untuk mengurangi dampak land subsidence," kata Anies dalam webinar yang dikutip melalui channel YouTube Ikatan Institut Teknologi Bandung, Selasa (10/8).

Dalam kesempatan itu, Anies menampilkan data beruba gambar peta yang memiliki titik titik merah, sebagai tanda terjadinya land subsidence. Dari data tersebut, pada tahun 2007 Jakarta Utara diproyeksikan mengalami land subsidence 22 milimeter per tahun.

Namun, melalui stasiun pengurukan, titik-titik merah berkurang atau terjadi perlambatan land subsidence hingga 2018 sebanyak 2 milimeter per tahun.

"We are on the right track ini harus terus dikawal ini harus terus dijaga supaya makin efektif dan kita harus makin komitmen pada kelestarian dan keadilan dan kita berharap warna merah ini nantinya hilang," harap Anies.

Ia pun menekankan kebijakan Pemprov DKI selama ini selalu menggunakan bukti-bukti ilmiah yang tersedia, dan harus tegas terhadap kelestarian dan keadilan sosial

"Jadi gunakan pendekatan ilmiah bukti ilmiah dan prioritasnya sustainability dan social justice."

Rekomendasi