Kualitas udara ibu kota Jakarta secara umum mengalami perbaikan, meski jika berdasarkan data angkanya masih fluktuatif.
Juru Bicara bidang iklim dan energi dari Greenpeace, Bondan Andriyanu mengatakan jernihnya langit Jakarta selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak secara otomatis menandakan hilangnya polusi. Di tengah pandemi Covid-19, kata Bondan, polusi sangat berkontribusi memperparah paparan virus Corona.
"Sekarang banyak yang berjemur, tapi alih-alih datanya (tingkat polusi) saja tidak tahu," kata Bondan dalam satu diskusi, Kamis (30/4).
Bondan mengatakan, untuk memastikan polusi di Jakarta masih dalam taraf aman, harus melihat data dari alat pemantau. Sayangnya, data dari alat pemantauan tidak mudah diakses oleh publik.
Menurutnya, data dari alat pemantauan yang dimiliki Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masih kurang dari cukup. Hal itu ditandai dengan minimnya alat pemantau di wilayah Bekasi, jakarta.
"Urgensinya adalah alat pantau, sebab sulit sekali memperoleh data untuk mengetahui tingkat polusi," ujarnya.
Sementara itu, BMKG menyatakan penerapan PSBB sedikit banyak berpengaruh terhadap kualitas udara di Jakarta. Dari berbagai indikator dan perhitungan yang signifikan mempengaruhi kualitas udara Jakarta dan sekitarnya adalah kendaraan umum dan pribadi.
"Kendaraan bermotor memang faktor nomor satu. Dan berhentinya pabrik (sementara) bisa berpengaruh juga ke kualitas udara Jakarta," tutur Kepala Sub Bidang Informasi Pencemaran Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Suradi.
Suradi menjelaskan, secara umum sejak awal Work From Home atau berkegiatan di rumah, hingga dua pekan setelahnya dan awal Ramadan ini, terlihat ada perbaikan kualitas udara. Sayangnya, geliat masyarakat yang melakukan panic buying dengan mobilitas warga yang kembali tinggi sempat menyebabkan polusi kembali terlihat meningkat di awal PSBB.
Di saat sama, ada juga pengaruh tidak turunnya hujan dalam beberapa waktu akan membuat kualitas udara memburuk. Hingga memasuki pekan pertama Ramadan, indikator kualitas udara masih menunjukkan angka yang naik turun di kategori Baik (0-50 mikrogram per meter kubik) dan Sedang (51-150 mikrogram per meter kubik).
Bukan PLTU
BMKG juga menganalisa faktor angin. Dari analisa ini, menegaskan tidak adanya pengaruh dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di kawasan Banten atau sisi barat Jakarta. Seperti diketahui, PLTU tetap beroperasi maksimal saat ini, demi menjamin pasokan listrik di ibukota lancar selama pandemi dan PSBB ini.
"PLTU justru enggak pengaruh. Kita perlu lihat juga bandingannya dengan April 2019, jika dibandingkan tahun lalu, kualitas udara Jakarta April tahun ini justru membaik," jelasnya.