Organda DKI sebut sopir angkot OK Otrip mulai ngeluh

"OK Otrip sering mengeluh karena persyaratan yang berat. Mereka harus delapan jam bekerja. Karena mereka biasa berganti orang. Harus ada tanda tangan dan sebagainya," kata Ketua DPD Organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan di Balai Kota, Selasa (30/1).

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Organda DKI sebut sopir angkot OK Otrip mulai ngeluh
Mikrolet OK Otrip. ©2018 Merdeka.com/Imam Buhori

Pemprov DKI Jakarta mulai melaksanakan program OK OTRIP sejak sekitar sebulan terakhir. Bagi warga yang memegang kartu OK Otrip, biaya transportasi bisa lebih murah dengan tarif Rp 3.500 dalam durasi tiga jam. Angkutan yang ikut dalam program ini yaitu Transjakarta dan angkot.

Namun Organda sering menerima keluhan dari para sopir angkot yang masuk dalam program ini. Salah satunya karena persyaratan yang dinilai rumit atau ribet.

"OK Otrip sering mengeluh karena persyaratan yang berat. Mereka harus delapan jam bekerja. Karena mereka biasa berganti orang. Harus ada tanda tangan dan sebagainya," kata Ketua DPD Organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan di Balai Kota, Selasa (30/1).

Organda meminta kepada Pemprov DKI Jakarta agar memberikan pelatihan kepada para sopir yang wilayah operasinya sesuai dengan program OK OTRIP ini. "Itulah kenapa kita minta Organda supaya nanti difasilitasi oleh Pemda, pendidikan-pendidikan pengemudi gitu. Karena itu kan perlu anggaran. Dan Organda kan tidak punya dana untuk itu," jelasnya.

Pendidikan atau pelatihan yang dimaksudkan Shafruhan tak hanya soal bagaimana cara mengemudi yang baik tapi juga soal etika dan penampilan. Faktor penampilan ini menurutnya berpengaruh terhadap kenyamanan penumpang.

"Kalau misalnya Anda lihat pengemudi kita pakaiannya juga tidak ok, membuat tidak nyaman juga penumpang melihatnya," kata dia.

Rekomendasi