Istilah "mahalnya mati di Jakarta" bisa jadi benar adanya. Bagaimana tidak, lahan makam kian sempit.
Alhasil, berbagai cara dilakukan ahli waris agar jasad keluarga mendapatkan tempat yang layak. Kondisi inilah yang dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk memperoleh pundi-pundi uang.
Duka ahli waris dijadikan 'alat' oleh mafia makam agar praktik culasnya berjalan mulus. Mereka memperjualbelikan makam dengan.harga fantastis.
Praktik curang mafia makam yang baru-baru ini terungkap adalah banyaknya liang lahat fiktif. Artinya, makam ada namun jasadnya belum ada. Ada dua kemungkinan terkait makam fiktif tersebut, memang dipesan warga, atau sengaja disamarkan agar ahli waris yang membutuhkan mau menawar dengan harga tinggi.
Kasus makam fiktif, sudah jauh hari diungkap Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.
"Banyak sekali makam yang fiktif-fiktif. 'Dicup' dulu tahu enggak," kata Ahok, sapaan Basuki, di Balai kota, Jln Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (9/6).
Jika ada warga yang ingin memakamkan, oknum PNS itu akan memberitahu tidak ada lahan kosong. Kecuali bagi mereka yang bersedia membayar lebih, maka akan langsung diarahkan ke lahan kosong itu.
"Jadi ada batu nisan yang belum pasti itu ada isinya. Makanya kalau ada yang nyogok, ditaruh di depan," jelas Ahok.
Temuan itu pula yang membuatnya merombak struktur kepemimpinan di Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta. Kepala Dinas Ratna Diah digantikan dengan Djafar Muchlisin.
Advertisement
Sepekan ini, Djafar langsung mengeksekusi temuan Ahok tersebut. Dia mengecek makam di sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU).
Hasilnya, sementara ini di TPU kawasan Jakarta Pusat, Timur dan Barat, terdapat 203 makam fiktif. Dari jumlah itu, 32 makam sudah dibongkar.
Petugas mengelabui makam fiktif itu dengan menanamkan nisan, membuat gundukan tanah bahkan ada yang ditanami rumput. Sekilas persis seperti makan yang sudah ada jasadnya.
"Biasanya makam fiktif ini bloknya bervariasi, yang pasti yang posisinya di belakang jauh dari pengamatan petugas kita," tambahnya.
Para mafia ini menggunakan sejumlah cara mengelabui ahli waris untuk mendapatkan pundi-pundi uang.
"Di makam yang pesanan-pesan seperti kemarin saya gali di Karet Bivak, Pasar Baru, di nisannya cuma inisial bayi, itu ada tiga. Jadi namanya bayi. Jelas fiktif sudah saya tertibkan," jelasnya
"Selain itu, di TPU Kawi-kawi, ada makam kembar. Yang satu nama asli, yang satu nama lainnya tapi palsu. Ada 2 nama. Ini juga dapat info dari petugas makam yang lama," sambung Djafar.
Cara lainnya, seorang calo makam mengaku pada ahli warga yang datang ke TPU sudah tak ada lahan tersedia. Namun, bisa diupayakan dengan syarat menyediakan sejumlah uang. Lokasi makam fiktif ini letaknya berada di pinggir-pinggir TPU yang tak mudah terpantau. Biasanya, ahli waris dipalak Rp 3 juta sampai Rp 7 juta.
"Seperti yang banyak terjadi ada satu keluarga yang kelihatan mencari petak, nah kemudian dicegat di jalan. Di situlah ditawarkan, biasanya bilang di sini, penuh tapi diusahakan. Posisinya di belakang jauh dari pengamatan petugas kita, makam yang kemungkinan dijual secara fisik seperti kuburan, padahal bila dicek registrasinya tidak ada," bebernya.
Advertisement
Biasanya, ulah makam fiktif ini dilakukan dari petugas level bawah hingga pejabat dinas makam.
"Jadi itu sudah terjadi sejak lama dan biasanya saling terkait. Dimulai dari level terbawah, sampai level pengawas di makam. Dalam struktur makam itu, kita ada pengawas, ada PHL, dan ada yang perawat makam yang masyarakat cari nafkah," jelasnya.
Diakuinya, kecurangan petugas makam sudah lama terjadi. Biasanya, keinginan keluarga yang ingin memakamkan kerabat secara berdekatan membuat sejumlah pihak tak bertanggung jawab memanfaatkannya.
"Biasanya, kebanyakan ingin dekat dengan keluarga, jadinya mereka menjadikan kesempatan kalau dilihat memang kosong," sambungnya.
Djafar mengaku diberi waktu tiga bulan menyelesaikan persoalan makam fiktif.
"Kita untuk melengkapi data, kalau data sudah lengkap baru kita kerjasama dengan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP). Data-data ini akan kita serahkan ke PTSP sehingga ketika masyarakat membutuhkan makam cukup saja datang ke PTSP dan melihat data masih ada atau tidak," jelasnya.
"Data yang saya masukkan adalah data petak, artinya ada tersedia enggak petak kosong di situ, kalau masih tersedia cukup di PTSP, selanjutnya tinggal melihat lokasi di mana dan dilakukan penggalian," pungkasnya.
Pihaknya akan terus mendatangi sejumlaj TPU untuk mencari makam.fiktif karena diduga masih banyak. Apalagi kabarnya, di TPU Tegal Alur Kalideres, ada seratus lebih makam fiktif