Istilah 'mahalnya mati di Jakarta' mungkin benar adanya. Bagaimana tidak, dalam keadaan berduka, ahli waris masih saja dipalak mafia makam demi mendapatkan sepetak lahan untuk jasad keluarga.Pemprov DKI Jakarta baru-baru ini menemukan banyak makam fiktif di sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU). Makam fiktif yang dimaksud, ada yang memang dipesan ahli waris, ada juga yang sengaja dibuat seperti makam oleh pihak tak bertanggung jawab untuk menunjukkan seolah-olah makam tak tersedia.Para mafia ini menggunakan sejumlah cara mengelabui ahli waris untuk mendapatkan pundi-pundi uang."Di makam yang pesanan-pesan seperti kemarin saya gali di Karet Bivak, Pasar Baru, di nisannya cuma inisial bayi, itu ada tiga. Jadi namanya bayi. Jelas fiktif sudah saya tertibkan," kata Kadis Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Djafar Muchlisin, di Ecovention, Ecopark Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Selasa (26/7)."Selain itu, di TPU Kawi-kawi, ada makam kembar. Yang satu nama asli, yang satu nama lainnya tapi palsu. Ada 2 nama. Ini juga dapat info dari petugas makam yang lama," sambungnya.Cara lainnya, seorang calo makam mengaku pada ahli warga yang datang ke TPU sudah tak ada lahan tersedia. Namun, bisa diupayakan dengan syarat menyediakan sejumlah uang. Lokasi makam fiktif ini letaknya berada di pinggir-pinggir TPU yang tak mudah terpantau. Biasanya, ahli waris dipalak Rp 3 juta sampai Rp 7 juta."Seperti yang banyak terjadi ada satu keluarga yang kelihatan mencari petak, nah kemudian dicegat di jalan. Di situlah ditawarkan, biasanya bilang di sini, penuh tapi diusahakan. Posisinya di belakang jauh dari pengamatan petugas kita, makam yang kemungkinan dijual secara fisik seperti kuburan, padahal bila dicek registrasinya tidak ada," bebernya.Biasanya, ulah makam fiktif ini dilakukan dari petugas level bawah hingga pejabat dinas makam."Jadi itu sudah terjadi sejak lama dan biasanya saling terkait. Dimulai dari level terbawah, sampai level pengawas di makam. Dalam struktur makam itu, kita ada pengawas, ada PHL, dan ada yang perawat makam yang masyarakat cari nafkah," jelasnya.Dari pengecekan sejumlah TPU di Jakarta Pusat, Timur dan Barat, ditemukan 203 makam fiktif, di mana 32 makam telah dibongkar.""Jadi ini masalahnya karena selama ini dari awal kita memang ingin untuk online, sejak adanya PTSP sudah online, tapi masalahnya data di lapangan. Ketika kita melakukan pendataan, baru menemukan masalah. Artinya ketika kita melakukan pendataan dilapangan baru ditemukan makam fiktif. Setelah kita melakukan pendataan yang akurat, kita akan melakukan online. Kalau soal lahan berkurang sebenarnya tidak berkurang, artinya bahwa kita di lapangan menemukan yang fiktif inilah yang mengurangi. Kedepan 230 ini bisa kita lakukan penertiban, sehingg masih tersedia lahan-lahan," jelas Djafar.
Modus mafia makam fiktif, pasang nisan bayi hingga palak ahli waris
Biasanya, ulah makam fiktif ini dilakukan dari petugas level bawah hingga pejabat dinas makam.