Jalan T.B. Simatupang merupakan salah satu jalur utama di Jakarta yang menghubungkan Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Nama jalan ini diambil dari Letnan Jenderal Tahi Bonar Simatupang, seorang pahlawan nasional Indonesia. Penamaan jalan ini sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi besar T.B. Simatupang kepada negara.
T.B. Simatupang lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, pada 28 Januari 1920. Ia dikenal sebagai jenderal ahli strategi perang yang berperan penting dalam sejarah militer Indonesia. Jalan ini tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur, tetapi juga sebagai monumen hidup yang mengabadikan jasa seorang patriot bangsa.
Jalan T.B. Simatupang membentang sepanjang 10,3 kilometer dan merupakan bagian dari Jakarta Outer Ring Road (JORR). Proyek pembangunan jalan ini dimulai pada akhir tahun 1990-an dan rampung secara bertahap. Awalnya, jalan ini direncanakan sebagai jalan arteri utama untuk mengurai beban lalu lintas di pusat kota.
Advertisement
Profil Singkat T.B. Simatupang
Tahi Bonar Simatupang adalah seorang tokoh militer dan tokoh Gereja di Indonesia. Ia merupakan salah satu konseptor peletak dasar-dasar kemiliteran Indonesia dan menerima gelar pahlawan nasional pada tahun 2013. Simatupang menempuh pendidikan militer di Koninklijke Militaire Academie (KMA) di Bandung pada tahun 1940.
Setelah Indonesia merdeka, T.B. Simatupang bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan ikut bergerilya bersama Jenderal Sudirman. Ia diangkat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI pada 1948-1949 dan mewakili TNI dalam delegasi Republik Indonesia pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag.
Pada usia 29 tahun, T.B. Simatupang diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia. Ia memilih pensiun dini dari militer pada usia 39 tahun dan kemudian aktif dalam pelayanan gereja serta menulis buku-buku keagamaan.
Advertisement
Peran dan Sejarah Jalan T.B. Simatupang di Jakarta
Jalan T.B. Simatupang berperan penting sebagai penghubung strategis antara Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Jalan ini dirancang untuk mengatasi kemacetan di wilayah metropolitan Jakarta dengan menghubungkan berbagai kawasan tanpa harus melalui pusat kota. Namun, pada dekade 2000-an, kawasan ini berkembang pesat menjadi pusat ekonomi baru.
Jalan ini awalnya direncanakan sebagai jalan arteri utama, tetapi kini telah menjadi kawasan komersial dengan banyak gedung perkantoran, hotel, dan fasilitas publik. Transformasi ini menyebabkan tingginya volume kendaraan dan kemacetan, terutama pada jam kerja.
Menariknya, pada 1 November 2021, ditemukan penggilingan tebu tua di sekitar jalan ini yang diperkirakan berasal dari abad ke-18, menambah nilai sejarah jalan ini. Dengan demikian, Jalan T.B. Simatupang tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga menyimpan banyak cerita dan sejarah yang berharga.
Advertisement
Perjuangan TB Simatupang
TB Simatupang adalah salah seorang pahlawan nasional yang sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia. Pada akhir revolusi, ia menjadi Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) dan menjadi tokoh pemikir militer Indonesia.
Tepat hari ini, 28 Januari pada tahun 1920 silam, KSAP ke-2 itu lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, sebagai anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya merupakan seorang ambtenaar bernama Sutan Mangaraja Soaduan Simatupang dan ibunya bernama Mina Boru Sibutar.
Sepanjang hidupnya, TB Simatupang memberi andil besar bagi bangsa Indonesia, khususnya di dunia militer. Bahkan, ia dikenal sebagai salah satu peletak dasar Indonesia. Tak heran jika hingga hari ini namanya terus diingat dan dikenang oleh masyarakat, terutama di Sumatera Utara.
Lantas, seperti apa perjalanan hidup seorang TB Simatupang? Simak ulasannya yang merdeka.com lansir dari Historia dan Liputan6.com:
Bonar, nama kecil Simatupang, menempuh pendidikannya di HIS Pematangsiantar dan lulus pada 1934. Setelah lulus, ia melanjutkan sekolahnya di MULP Dr. Nomensen di Tarutung pada 2937, lalu ke AMS di Salemba, Batavia dan selesai pada 1940.
Semasa kecil, Bonar sudah dikenal sebagai siswa yang jenius dan pintar. Bahkan, ia pernah beberapa kali harus berdebat dengan gurunya saat di sekolah. Tidak jarang ia menentang gurunya yang dianggap terlalu merendahkan bangsa Indonesia.
Menurut gurunya, penduduk “Hindia Belanda” tidak akan mungkin bersatu untuk mencapai kemerdekaan karena perbedaan di antara suku-suku. Mendengar pernyatan itu, Bonar menganggap gurunya telah menyebarkan mitos yang tidak benar. Hal ini yang kemudian membuktikan bahwa Bonar sejak kecil sudah memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.
Setelah lulus dari AMS Batavia, TB Simatupang memutuskan untuk mengikuti ujian akademi militer kerajaan (KMA). Pada tahun 1942, ia lulus dari KMA dan mendapatkan gelar taruna mahkota dengan mahkota perak karena dinilai berprestasi, khususnya di bidan teori. Bersama A.H. Nasution dan lex Kawilarang, ia sering mendalami buku “Tentang Perang” karya Carl von Clausewitz.
Setelah menempuh pendidikan selama 2 tahun, ia lulus sebagai perwira muda dan menjadi perwira pribumi yang direkrut Jepang. Simatupang dan beberapa temannya kemudian ditempatkan di Resimen Pertama di Indonesia dengan pangkat Calon Perwira.
Pria kelahiran 28 Januari 1920 ini, bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Ia juga turut bergerilya bersama Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman melwan pasukan Belanda yang berniat menguasai kembali bekas koloninya tersebut. Sepanjang perang kemerdekaan Indonesia, ia pun diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang (WAKASAP) RI pada 1948 hingga 1949.
Advertisement
Karier militer TB Simatupang pernah menemui jalan terjal. Pada 17 Oktober 1952, terjadi gelombang demonstrasi yang menuntut pembubaran parlemen. Sebab, DPRS dianggap terlalu ikut campur urusan internal Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Hal ini berawal ketika Kolonel Bambang Soepeno menemui Presiden Soekarno dan meminta agar Kolonel Abdul Haris Nasution dicopot dari jabatannya sebagai KSAD (Kepala Staf TNI Angkatan Darat).
Di depan Soekarno, secara terang-terangan TB Simatupang menyatakan bahwa Presiden telah melakukan kesalahan besar dan sangat mendasar. Sistem Angkatan Bersenjata akan terganggu jika panglima devisi bisa dicopot, dan seterusnya. Selain itu, Simatupang juga dengan menyatakan bahwa selama ia menjabat sebagai KSAP, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Pada tahun 1953, Presiden Soekarno menghapuskan jabatan KSAP, lalu pada 1954-1959, TB Simatupang diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI. Setelah resmi dipensiunkan dini dari dinas militer pada 21 Juli 2959, ia mengakhiri karier militernya dengan pangkat Letnan Jenderal.
Selama pensiun dari militer, ia banyak menyibukkan diri dengan membaca dan menulis buku. Selain itu, ia juga terjun ke pelayanan Gereja dan aktif memberi sumbangsih pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat. Hal ini yang kemudian ia dianggap sebagai salah seorang Jenderal yang jenius sekaligus religius.
Pada tahun 1990, TB Simatupang wafat dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sepanjang hidupnya, ia telah memberi sumbangsih besar bagi bangsa Indonesia. Atas jasa-jasa tersebut, pada tahun 2013, Presiden SBY memberikan gelar pahlawan nasional kepada TB Simatupang.
Sebagai salah satu jalan di Jakarta, lalu lintas di ruas jalan TB Simatupang menghubungkan wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur dikenal horor. Namun horor dimaksud bukan berarti angker terhadap mistis, melainkan kemacetan di jalan tersebut.
Pelbagai langkah dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk mengurai kemacetan di Jalan TB Simatupang. Teranyar, Pemprov Jakarta akan segera menerapkan pengaturan lalu lintas guna mengurai kemacetan parah yang kerap terjadi di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Langkah ini diambil setelah mendapatkan persetujuan dan izin dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk melakukan pengalihan arus serta pengaturan di dalam dan luar jalan tol.
"Masyarakat dari Jalan Fatmawati yang akan menuju Lebak Bulus, selain menggunakan jalan eksisting, dapat juga menggunakan tambahan satu lajur paling kiri dari gerbang tol Fatmawati 2 dan tanpa dipungut biaya,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (14/9).
Menurut Syafrin, pengelola jalan tol bersedia membuka satu lajur di gerbang tol tersebut untuk kanalisasi lalu lintas dari arah Fatmawati menuju off ramp Lebak Bulus.
Syafrin melanjutkan bahwa kebijakan ini berlaku hanya untuk kendaraan roda empat. Artinya, kebijakan ini tidak berlaku untuk kendaraan roda dua atau kendaraan lebih dari roda empat. Adapun tahapan uji coba akan dilaksanakan pada Senin-Jumat, 15-19 September 2025, pukul 17.00-20.00 WIB.
“Hal ini merujuk pada data Dishub DKI Jakarta terkait volume kendaraan yang tinggi pada jam sibuk (peak hours) tersebut,” ucap Syafrin.
Sementara itu, Gubernur Jakarta, Pramono Anung mengatakan telah memperoleh izin dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk melakukan pengalihan arus lalu lintas, termasuk pengaturan di dalam ruas jalan tol di kawasan TB Simatupang.
“Prinsipnya, izin sudah keluar untuk pengaturan lalu lintas di dalam dan di luar jalan tol,” ujar Pramono usai meresmikan Gereja Katolik Paroki Kalvari, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Minggu (14/9).
Advertisement