Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoto mengaku masih kekurangan personel melakukan pengawasan di wilayah hukumnya. Pengakuan Kapolda Metro Jaya itu disampaikan menjawab soal aksi tawuran kerap terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya.
"Ini tadi menjadi salah satu sorotan dari anggota Komisi juga bahwa kalau mungkin apa polisi RW dihidupkan? sebenarnya mungkin kalau jumlah polisinya banyak," kata Karyoto usai menggelar pertemuan dengan Komisi III DPR RI, BNN dan Kajati DKI Jakarta di Mapolda Metro Jaya, Kamis (8/5).
Karyoto mengungkapkan jumlah polisi di Jakarta 29 ribu. Jumlah itu masih dikurangi 3 atau 4 ribu ASN. Sementara penduduk Jakarta mencapai 22 juta. Perbandingan itu membuat kepolisian kesulitan menangani tawuran.
Untuk itu, menurut Karyoto, sangat tidak mungkin jika harus menghidupkan kembali polisi RW sebagaimana ditanyakan DPR. Sebab Karyoto mengatakan pembentukan polisi RW tidak akan cukup dengan melihat jumlah personel saat ini.
Sedangkan Karyoto menambahkan, polisi RW bertugas memantau setiap orang suka keluar malam dari setiap rumah. Dengan menghitung jumlah personel saat ini polisi RW sulit kembali dihidupkan.
"Kalau satu polisi harus menjaga 758, ini yang sangat tidak mungkin ketika kita harus menghidupkan polisi RW. Artinya, kalau harus dihidupkan polisi RW kan 1 RW itu satu polisi. Belum mencukupi jumlahnya. Kalau jumlahnya ada, sangat bagus. Jadi bisa melakukan deteksi sejak awal," ujar Karyoto.
Advertisement
Pencegahan Tawuran
Meski begitu, Karyoto mengaku telah berupaya mencegah aksi tawuran. Salah satunya dengan mengikuti sejumlah akun di media sosial seperti Instagram (IG). Pemantauan tersebut menurut Karyoto lantaran fenomena tawuran saat ini beralih melalui media sosial.
"Nah, kemudian upaya pemberantasan pencegahan tawuran, kami sudah aktif sejak mengikuti IG. Tawuran sekarang modelnya pakai IG, istilahnya IG, tantang menantang, kemudian ketemu di suatu tempat dan live IG. Tawuran live IG. Kalau itu cuma main-main sih enggak apa-apa, tapi ini kan tawurannya beneran, matinya juga beneran juga. Nah ini yang jadi masalah," kata Karyoto.
Jenderal polisi bintang dua ini menegaskan sudah berupaya semaksimal mungkin dengan menangani puluhan perkara tawuran. Selain itu, Polda Metro Jaya juga melakukan upaya persuasif kepada masyarakat, sekolah-sekolah bahkan melaksanakan penyuluhan dengan melibatkan beberapa mahasiswa sebagai narasumber.
"Setelah berkolaborasi dengan kami, membawakan naskah tentang bagaimana mencegah tawuran, bagaimana mencegah narkoba, dan bagaimana juga mencegah korupsi. Kami lakukan," ujar Karyoto.
Kemudian, dalam upaya penindakan sudah banyak anggotanya yang disebut disiram air keras oleh para terduga pelaku aksi tawuran.
"Dan dalam hal penindakan, sudah banyak dari rekan-rekan kami, anggota kami yang disiram air keras oleh pelaku tawuran sehingga kami sekarang kalau patroli sudah pakai full face ya, helm yang dilindungi. Kami dilindungi itu," paparnya
"Nah, nanti kalau ada apa-apa, kalau ada pelaku tawuran yang ditindak tegas, ya kami ini sesuai dengan prosedur. Kalau dia sudah membahayakan keselamatan orang lain, keselamatan petugas, kami akan melakukan tindakan tegas yang terukur," pungkasnya.