Kisah Tarian Keurseus, Ajarkan Sopan Santun Ala Bangsawan Sunda Zaman Dulu

Tarian ini mengajarkan sopan santun ala bangsawan Sunda.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Kisah Tarian Keurseus, Ajarkan Sopan Santun Ala Bangsawan Sunda Zaman Dulu
Tarian ini mengajarkan sopan santun ala bangsawan Sunda. (© 2024 merdeka.com)

Tari keurseus jadi salah satu seni gerak tubuh yang lahir di Jawa Barat. Tarian ini unik, karena dilakukan secara luwes oleh laki-laki dan perempuan.

Di zaman dulu, tari keurseus dijadikan media untuk mengajarkan sopan santun oleh bangsawan Sunda.

Mengutip kanal YouTube Solihin Ahmed, tari keurseus sendiri akan diawali oleh laki-laki yang menari. Gerakan dimulai dengan menaikan tangan, lalu berjalan perlahan menuju tengah-tengah panggung.

Penari pria memakai pakaian tradisional serupa jas, lengkap dengan bendo (blangkon Sunda). Untuk bawahan, digunakan kain batik semacam sarung untuk menggambarkan sisi kelembutan dari tari keurseus. Menariknya, penari pria juga mengenakan selendang yang diikatkan di pinggang sebagai pelengkap tarian.

Sejarahnya Dimulai Pada 1915

Sejarahnya Dimulai Pada 1915
© 2024 merdeka.com

Menurut sejarahnya, tari keurseus sudah ada sejak zaman Belanda. Ketika itu susunan tari dilakukan bertahap oleh Lurah Rancaekek Bandung R. Sambas Wirakoesoemah pada 1915-1920 & 1926-1935.

Wirakoesoemah mencoba melakukan pembaharuan terhadap Tari Tayub yang sudah berkembang pada saat itu sebagai tari pergaulan kalangan menak.

Ia ingin menghilangkan beberapa unsur yang dianggap kurang pantas, sehingga mengubah stigma tarian ini yang awalnya identik dengan mabuk dan pelecehan terhadap ronggeng (penari perempuan), menjadi tarian kesopanan.

Munculkan Sisi Kesopanan dari Bangsawan Sunda

Dikarenakan Tari Tayub banyak dipentaskan dan dilakukan oleh kalangan bangsawan Sunda, Wirakoesoemah turut ingin menjadikan penemuannya sebagai tarian serupa.

Namun tarian ini ia modifikasi, agar memunculkan sisi sopan santun dan kelembutan dari para bangsawan Sunda agar tetap terhormat. Untuk mengenalkan ini, Ia lantas mendirikan sanggar pada 1920 dan diberi nama Wirahmasari.

Karena sosoknya yang merupakan putra dari wedana  dan berkerabat dengan petinggi di Bogor dan para seniman tayub, Tarian Keurseus ini kemudian mudah diterima dan disebarluaskan. Gerakannya juga lebih variatif dari segi ngibing (gerakan tangan dan kaki), juga musik gamelan yang makin berwarna.

Asal Usul Penamaan Keurseus

Asal Usul Penamaan Keurseus
© 2024 merdeka.com

Penamaan keurseus sendiri berasal dari proses latihan yang harus dilakukan satu per satu, dan terstruktur.

Beberapa orang Belanda menyebut jika pola berurutan dalam latihan menari ini disebut Cursus atau berlatih dengan keras.

Kata cursus ini kemudian dialihbahasakan ke dalam penyebutan orang Sunda hingga menjadi Keurseus.
Sampai saat ini, nama itu masih digunakan dalam setiap pertunjukan tarinya, walau berasal dari pengembangan tari tayub.

Gerakan dalam Tari Keurseus

Adapun tarian ini memiliki banyak gerakan seperti Sila Mando, Jengkeng, Adeg-adeg, Gedut, Gedig, Selut, Lontang, Jangkun Ilo, Mincid dan Tindak tilu lengkah opat.

Lalu ada pula, engkeg gigir, laraskonda, baksarai, mamandapan dan sebagainya, yang seluruhnya telah diajarkan di sekolah menak sebagai bekal kehormatan calon bangsawan. Bangsawan Sunda saat itu dituntut untuk bisa menari agar dipandang terhormat.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Untuk pakaian yang biasa digunakan adalah baju dengan model takwa tutup, prangwadana atau jas buka. Untuk bawahan digunakan kain batik Garutan atau priangan.

Disebarkan ke Seluruh Tanah Sunda

Agar makin dikenal, Wirakoesoemah juga meminat murid-murid dan rekan sesama senimah untuk menyebarkan tarian ini.

Beberapa pelaku tari keurseus saat itu di antaranya R. Ranoeatmadja (Garut), R. Nataamidjaja (Cianjur dan Ciamis), R. Kosasih Sastrawinata (Jakarta), R. Muslihat Natabradja (Sukabumu dan Ciamis), R. E Hasboelah Natabradja (Subang, Garut, Dayeuhkolot) dan R. Roebama Natabradja.

Rekomendasi