Peristiwa 29 Januari 1950: Jendral Sudirman Tutup Usia di Usia 34 Tahun

Jiwa pengorbanan, kedisiplinan, kepemimpinan, dan semangat pantang menyerah Jenderal Sudirman patut dijadikan teladan hidup oleh generasi muda penerus bangsa. Beliaulah peletak dasar tentara Indonesia di awal berdirinya dengan segala bentuk tantangan dan hambatannya.

Novi Fuji Astuti
Oleh Novi Fuji Astuti - Reporter
Peristiwa 29 Januari 1950: Jendral Sudirman Tutup Usia di Usia 34 Tahun
jendral sudirman. liputan6.com

Indonesia memiliki banyak tokoh pejuang yang hebat. Mereka telah memberikan segenap jiwa dan raganya untuk kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semangat juang dan pantang menyerah dari para pahlawan akan selalu dikenang oleh generasi pemuda penerus bangsa. Selain itu, peri kehidupan para tokoh juga dapat dijadikan pelajaran berharga dalam meraih cita-cita bagi generasi muda zaman sekarang.

Salah satu tokoh besar yang dimiliki bangsa Indonesia adalah Jenderal Sudirman. Beliau adalah sosok pejuang yang sangat dihormati dan disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Jiwa pengorbanan, kedisiplinan, kepemimpinan, dan semangat pantang menyerah Jenderal Sudirman patut dijadikan teladan hidup oleh generasi muda penerus bangsa. Beliaulah peletak dasar tentara Indonesia di awal berdirinya dengan segala bentuk tantangan dan hambatannya.

Pada 29 Januari 1950, Jenderal Sudirman tutup usia di umur 34 tahun di Magelang. Berikut informasi lengkapnya telah dirangkum merdeka.com melalui researchgate.net dan berbagai sumber lainnya.

Kelahiran Sang Jendral


Jenderal Sudirman lahir pada 24 Januari 1916 di Desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan suami istri seorang pedagang genteng yakni Karsid Kartawiradji dan Siyem.

Pada usia 7 tahun Sudirman memasuki Hollandsche School (HIS) setingkat sekolah dasar di Cilacap. Selanjutnya pada tahun 1930 tamat dari HIS dan pada tahun 1932 memasuki Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) setingkat SLTP.

Setahun kemudian, Sudirman pindah ke Perguruan Parama Wiworo Tomo dan tamat pada tahun 1935. Di sekolah Sudirman termasuk siswa yang cerdas. Selain sekolah, Sudirman juga aktif di organisasi kepanduan (sekarang Pramuka) Hizbul Wathon (HW) yang diasuh oleh Muhammadiyah. Melalui kegiatan kepanduan ini bakat-bakat pemimpin Sudirman mulai kelihatan.

Masa Kemerdekaan


Sudirman merupakan salah satu pejuang kemerdekaan dan bapak Tentara Nasional Indonesia (TNI). Oleh pemerintahan Republik Indonesia (RI) Sudirman dianugerahi gelar pahlawan kemerdekaan nasional.

Sekalipun secara formal dia bukan lulusan Akademi Militer (AKMIL), namun karena bakat, semangat, dan disiplin yang tinggi serta rasa tanggung jawab dan panggilan hati nurani untuk berjuang mencapai dan menegakkan kemerdekaan Indonesia, maka ia cepat mencuat sebagai pemimpin di lingkungan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).

Pada awal pendudukan Jepang di Indonesia, Sudirman meninggalkan profesi sebagai guru dan mengikuti latihan militer pada saat Jepang membentuk Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Seusai mengikuti latihan, dia diangkat menjadi Daidancho (Komandon Batalion PETA) di Banyumas. Perhatian Sudirman terhadap kesejahteraan para prajurit sangat besar tak jarang ia bersitegang dengan para pengawas Jepang untuk membela kepentingan bawahannya.

Pada November 1948, meski dalam keadaan sakit Sudirman tetap melakukan koordinasi dengan para komandan agar semua kekuatan bersenjata bersiap siaga saat Belanda mulai menguasai Indonesia kembali. Pada Desember 1948 Sudirman melakukan perlawanan terhadap Agresi Militer II Belanda yang terjadi di Yogyakarta.

Beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, Jenderal Sudirman melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Hingga akhirnya Belanda mulai menarik diri, Jenderal Sudirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949 oleh Presiden Soekarno.

Jendral Sudirman Tutup Usia


Pemberontakan di Madiun, dan ketidakstabilan politik yang sedang berlangsung, melemahkan kondisi kesehatan Sudirman. Pada 1948 Sudirman didiagnosis mengidap tuberkulosis (TBC). Sudirman terus berjuang melawan TBC dengan melakukan pemeriksaan di Panti Rapih, Yogyakarta. Ia dipindahkan ke sebuah rumah di Magelang pada Desember 1949.

Meskipun sedang sakit, Sudirman saat itu juga diangkat sebagai panglima besar TNI di negara baru bernama Republik Indonesia Serikat.

Selang sebulan, tepatnya pada 18.30 tanggal 29 Januari 1950 Jenderal Sudirman tutup usia di Magelang, Jawa Tengah. Kabar duka ini dilaporkan dalam sebuah siaran khusus di RRI.

Rekomendasi