Melihat Cantiknya Kelom Geulis, Sandal Perempuan Khas Tasikmalaya yang Warna-warni dan Cocok Jadi Oleh-Oleh

Selain model dan motifnya yang beragam, harga yang ditawarkan juga murah sehingga kelom geulis sangat cocok dibawa sebagai buah tangan untuk orang terkasih.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Melihat Cantiknya Kelom Geulis, Sandal Perempuan Khas Tasikmalaya yang Warna-warni dan Cocok Jadi Oleh-Oleh
Kelom Geulis Khas Tasikmalaya (Disparbud Jawa Barat)

Jika ingin berburu oleh-oleh khas Tasikmalaya, mungkin kelom geulis bisa jadi salah satu alternatifnya. Kelom geulis merupakan sandal untuk perempuan, dengan warna-warni yang cantik dan kekinian.

Sandal ini terbuat dari kayu mahoni, dengan bentuk serupa model selop. Motifnya juga menyesuaikan kebutuhan saat ini, alias cukup kekinian. Ada ukuran untuk anak-anak, remaja hingga dewasa.

Selain model dan motifnya yang beragam, harga yang ditawarkan juga murah sehingga kelom geulis sangat cocok dibawa sebagai buah tangan untuk orang terkasih.

Kelom geulis jadi salah satu warisan seni warga Tasik sejak puluhan tahun silam. Daripada penasaran, yuk ikuti kisah tentang kelom geulis yang cantik saat dikenakan.

Mengutip situs Kemdikbud, kelom geulis sebenarnya melekat dengan orang Belanda dan Sunda sejak awal abad ke-20 silam. Kelom diperkirakan berasal dari bahasa Belanda yakni ‘kelompen’ yang artinya sandal kayu dan geulis dalam bahasa Sunda berarti cantik.

Di masanya, sandal ini banyak digunakan warga setempat sebagai perhiasan kaki agar tampak indah dan memiliki daya tarik.

Lambat laun, sandal kelom semakin akrab dengan perempuan Sunda dan menjadi pelengkap untuk menghadiri acara-acara penting seperti pernikahan maupun bepergian ke luar kota.

Pada awal tahun 1950-an, kerajinan kelom geulis mulai muncul berkat inisiatif seorang warga Gobras bernama Pohar (atau Ohir, menurut versi lain). Pohar sering bepergian ke Bandung, kemungkinan besar bekerja sebagai buruh di sebuah tempat produksi sandal.

Bersama Suryo, Ujer, dan Acep Umar, Pohar merencanakan pembuatan sandal dari kayu, yang dikenal sebagai kelom geulis mentah atau bodasan. Keempatnya kemudian berhasil menciptakan kelom geulis tanpa ukiran. Namun, mereka menghadapi kesulitan menyelesaikan bagian alasnya yang rumit.

Kurangnya pengetahuan dan keterampilan membuat mereka memutuskan untuk membawa produk mentah tersebut ke Bandung untuk dijual. Namun di luar dugaan, ternyata laku keras.

Kesuksesan ini mendorong mereka untuk menerima pesanan dari Bandung untuk kelom geulis dengan desain yang lebih menarik, termasuk ukiran hiasan. Permintaan ini kemudian bertambah hingga ke luar daerah.

Kemudian, mereka terpikirkan untuk menciptakan kelom dengan menambahkan motif yang disukai perempuan. Dari sana, lahirlah motif bunga yang idenya berasal dari lingkungan sekitar tempat produksi.

Tak hanya itu, karena sejak melakukan inovasi sejumlah motif turut lahir seperti garis, tumbuhan, sampai batik hingga memancing datangnya konsumen dari luar Jawa Barat.

Keberhasilan ini lantas membuat warga setempat tertarik. Alhasil banyak warga dari Tasikmalaya yang kemudian membuat terobosan kelom unik, penuh warna dan cantik hingga lahirlah istilah kelom geulis.

Di era sekarang, para perajin terus melakukan inovasi demi menarik pelanggan. Salah satu inovasi yang menarik berikutnya adalah kelom geulis ukir yang dibuat di atas alas kayu.

Kelom ini kemudian menjadi produk yang paling banyak dicari konsumen. Dari sana, lahirlah motif ukir yang legendaris yakni motif barong (naga) serta barongsai dengan perpaduan warna merah yang cantik.

Mengutip situs disparbud.jabarprov.go.id, kelom memiliki banyak keunggulan karena motif ukir membuat hasil visualnya seolah menyala dan berwarna cerah mencolok. Selain itu, ada juga kelom motif bordir hingga batik yang digambar menggunakan canting.

Rekomendasi