Bagi yang akan bersiap mudik ke Pandeglang, kue Jojorong mungkin bisa masuk daftar jajanan yang wajib dicicipi. Tak hanya perkara rasa yang lezat, kue ini juga punya cerita masa lalu sejak zaman kesultanan Banten.
Kue Jojorong jadi salah satu kudapan tradisional nenek moyang Banten yang masih bertahan di era gempuran kuliner modern. Makanan ini juga menyehatkan, karena memakai bahan-bahan alami termasuk bungkusnya dari daun pisang.
Menyantap kue ini dijamin membuat siapapun ketagihan, dengan rasa manis gurihnya yang menggugah selera. Yuk, kenalan dengan kue unik yang satu ini.
Advertisement
Mengutip YouTube seputar kebudayaan lokal Banten, Mang Dhepi, kue Jojorong menjadi kudapan warisan turun-temurun sejak zaman dulu.
Bahannya sederhana berupa tepung beras lembut, kemudian gula merah dan santan kental.
Semua bahan kemudian dimasukkan ke dalam cetakan daun pisang yang dibentuk mirip wadah dan diikat di masing-masing ujungnya.
Setelah semua bahan masuk, langkah terakhir adalah pengukusan menggunakan dandang selama beberapa menit hingga kue tersebut matang.
Advertisement
Kue ini memiliki rasa yang sangat lezat, dengan perpaduan gurih dari adonan tepung dan santan kentalnya. Rasa manis gula merah jadi penyeimbang, sehingga makin komplet dan menggoyang lidah.
Penggunaan daun pisang sebagai pembungkus rupanya menciptakan sensasi harum dari kue Jojorong ketika dikonsumsi.
Lebih nikmat jika kue Jojorong dikonsumsi berbarengan dengan secangkir teh maupun kopi pahit.
Advertisement
Mengutip Liputan6, kue ini juga punya banyak filosofi. Semisal dari namanya yakni Jojorong yang berarti cahaya bersinar.
Ini dilambangkan dari warna putih dari kue yang terletak di dalam wadah daun pisang.
Teksturnya yang lengket juga konon dimaknai sebagai lambang persatuan oleh masyarakat Banten tempo dulu. Rasa yang gurih serta manis juga mampu mempersatukan banyak orang, karena rasa ini banyak disukai.
Selain itu, kue Jojorong juga melambangkan kehormatan keluarga Banten zaman dulu yang membuat dan menyajikannya.
Advertisement
Kue Jojorong diperkirakan sudah ada sejak masa Kesultanan Banten yang berkuasa di paling barat Pulau Jawa tahun 1526 sampai 1816. Jika dihitung, kue ini memiliki usia sekitar 498 tahun dan masih diwariskan resep hingga cara penyajiannya terhadap anak cucu.
Dahulu kue Jojorong menjadi sajian sederhana bagi keraton untuk acara-acara kunjungan para petinggi. Kue ini disajikan dengan rasa manis dan gurih yang lezat, sebagai sambutan warga Banten yang ramah.
Seiring berjalannya waktu, kue Jojorong tak hanya menjadi warisan kuliner Kesultanan Banten, tetapi juga masyarakat luas. Kehadiran kue ini melambangkan persatuan, kemakmuran dan harapan bagi yang menyajikan atau memakannya.