Kisah Ranger Malaysia Rela Tukar Jam Tangan dengan Pisau Komando Kopassus

Kamis, 17 November 2022 08:07 Reporter : Ramadhian Fadillah
Kisah Ranger Malaysia Rela Tukar Jam Tangan dengan Pisau Komando Kopassus pisau komandokopassus. ©2022 tkardinpisau.co.id

Merdeka.com - Pemerintah Indonesia di era Orde Lama pernah mendukung perlawanan rakyat Serawak dalam konfrontasi dengan Malaysia. Pasukan elite TNI dikirim untuk melatih dan membantu Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku).

Mereka menghadapi pasukan Malaysia yang didukung oleh Tentara Inggris. Dalam konflik tertutup ini, Inggris sampai menurunkan pasukan elite SAS. Di tengah belantara Kalimantan, saling sergap antara dua pasukan ini terjadi.

Namun, angin politik berubah. Saat Orde Lama tumbang, pemerintahan Orde Baru menghentikan konflik tersebut. Mereka membuka hubungan diplomatik dengan Malaysia.

Indonesia juga mengimbau para gerilyawan PGRS agar menghentikan perlawanan dan menyerahkan senjata. Namun imbauan itu tak ditanggapi. Hanya 99 orang yang menyerah, sementara 739 orang masuk hutan dan meneruskan perjuangan mereka.

Dulu kawan, sekarang lawan. Dulu guru dan murid, kini harus berhadapan di medan tempur. Begitulah sejarah mencatat konflik bersenjata di Kalimantan Utara ini.

Kemampuan para gerilyawan PGRS terbilang cukup tangguh karena dilatih dengan baik oleh pasukan TNI. Salah satu aksi mereka menyerang Pangkalan Udara AURI di Sangau Ledo. Pasukan ini berhasil merebut 133 pucuk senjata, dua senapan mesin berat dan berpeti-peti amunisi.

2 dari 4 halaman

Operasi Besar-Besaran

Menanggapi hal ini, pemerintah Indonesia dan Malaysia menggelar operasi militer besar-besaran, mengejar sisa-sisa gerilyawan PGRS/Paraku. Bulan Maret 1969, Mabes ABRI mengirimkan Detasemen Tempur 13/RPKAD ke Kalimantan untuk menumpas para gerilyawan ini.

Sementara Malaysia mengirimkan satuan Ranger untuk membantu tugas pasukan baret merah Indonesia.

Nama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kini bernama Kopassus, rupanya sudah lama disegani oleh para Ranger Malaysia. Mereka merasa senang kini bisa bermitra dengan RPKAD. Apalagi setelah mendengar semasa konflik bagaimana RPKAD dan SAS kerap 'kucing-kucingan'hingga terlibat kontak senjata.

3 dari 4 halaman

Rela Tukar Jam dengan Pisau Komando

pisau komandonbspkopassus

Kapten Inf Soegito, Komandan Denpur 13/RPKAD menulis Ranger Malaysia sangat mengagumi pasukan RPKAD. Mereka rela menukar arloji mereka dengan pisau komamdo RPKAD untuk kenang-kenangan.

"Beberapa anggota Ranger Malaysia yang begitu kagum dengan RPKAD bahkan rela menukar jam tangannya dengan pisau komando RPKAD," kenang Soegito.

Kisah ini dituliskan Beny Adrian dalam buku Letjen (Purn) Soegito, Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen tahun 2015.

Jam tangan pada saat itu barang yang terbilang cukup mewah di dalam negeri. Apalagi penghasilan anggota TNI saat itu juga tidak besar. Sekadar cukup untuk hidup.

4 dari 4 halaman

Packration Vs Beras dan Ikan Asin

Pengalaman lain yang menarik adalah soal logistik. Para anggota RPKAD juga senang bermitra dengan tentara Malaysia.

Saat itu logistik tentara Malaysia sudah cukup modern. Mereka dibekali dengan packration atau ransum yang dikemas khusus dan berisi aneka makanan.

"Satu paket berisi macam-macam makanan dan minuman seperti susu, coklat, teh beras dan dendeng. Dua paket ini bisa untuk bekal lima hari," kata Soegito.

Kemewahan ini berbalik dengan logisik RPKAD yang hanya mengandalkan beras dan ikan asin. Hal ini membuat para anggota TNI sering putar otak untuk menambah gizi mereka.

"Karena itu packration sering menjadi incaran anggota Denpur pada saat diadakan pengamanan atau patroli bersama dengan tentara Malaysia," kata Soegito.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini