Adu Pidato Aidit - Sukarno

Sabtu, 2 Oktober 2021 08:49 Reporter : Merdeka
Adu Pidato Aidit - Sukarno dn aidit. ©kepustakaan-presiden.pnri.go.id

Merdeka.com - Perang pidato secara terbuka pernah terjadi antara Ketua CC PKI dengan Presiden RI di tengah massa komunis yang gencar menuntut pembubaran HMI.

Penulis: Hendi Jo

Nada bicara Presiden Sukarno tiba-tiba mengeras. Sambil bicara tangannya agak mengepal. Bagi Si Bung Besar, laporan yang menyebut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi kontra revolusioner sungguh membuatnya marah dan kecewa. Dia kemudian memutuskan pemerintah akan membubarkan organisasi mahasiswa Islam Indonesia terbesar itu.

Demi mendengar kata-kata Presiden Sukarno, alih-alih langsung menurut, Menteri Agama Saifuddin Zuhri justru memperlihatkan wajah tak suka. Saifuddin Zuhri lantas bertanya alasan Bung Karno menyebut HMI sebagai organisasi kontra revolusioner.

"Kadar anti revolusi-nya sampai di mana,Pak?" tanya Zuhri, seperti dikisahkannya dalam buku 'Berangkat dari Pesantren'.

"Yaahh, mereka suka bersikap aneh, tukang kritik, bersikap liberal, seolah-olah hendak mengembalikan adat kebarat-baratan dan lain-lain," jawab Sukarno.

Zuhri terdiam sejenak. Dalam nada halus, dia mengingatkan jika tindakan pembubaran itu hanya akan membuat Presiden Sukarno jatuh kepada sesuatu yang berlebihan dan merusak hubungan antara sang presiden dengan umat Islam. Sukarno langsung menyelanya maka terjadilah 'perdebatan' panas. Di tengah perdebatan yang semakin sengit, tiba-tiba Saifuddin Zuhri menukas.

"Kalau Bapak tetap hendak membubarkan HMI, artinya pertimbangan saya bertentangan dengan gewetan (perasaan hati) Bapak, maka tugas saya sebagai pembantu Bapak cukuplah hanya sampai di sini," ujar Zuhri.

Sukarno terhenyak. Dia kemudian menurunkan tensi bicaranya.

"Oohhhhh, jangan berkata begitu. Saya tetap memerlukan saudara untuk membantu saya…" katanya.

Keduanya sejenak larut dalam hening. Tiba-tiba Si Bung Besar bersuara seolah memecahkan kesunyian: "Baiklah! HMI tidak saya bubarkan. Tetapi saya minta jaminan HMI akan menjadi organisasi yang progresif. Kau bersama Nasution, Ruslan Abdulgani dan Syarif Thayeb harus membimbing HMI."

Tanpa banyak kata, Zuhri langsung mengangguk. Besoknya media-media memuat berita bahwa HMI taka akan pernah dibubarkan. Itu jelas membuat organisasi-organisasi yang berafiliasi ke PKI berang. Aksi pengganyangan HMI pun tetap berlanjut dengan pengerahan demonstrasi-demonstrasi di berbagai daerah oleh Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan organ-organ kiri lainnya.

"Dapat dipahami jika situasi kemudian menjadi panas. Generasi Muda Islam (Gemuis) pada 13 September 1965 lantas mengadakan demonstrasi (tandingan) di Jalan Merdeka Barat dalam rangka solidaritas terhadap HMI," tulis Sulastomo dalam 'Hari-Hari yang Panjang 1963-1966'.

Di kampus UI Salemba, terjadi kekisruhan. Fahmi Idris, aktivis terkemuka HMI, menurunkan secara paksa seorang pemimpin mahasiswa yang dikenal pro PKI dari tempat pidato suatu forum seminar. Gegara-nya: sang pimpinan mahasiswa itu menyerukan aksi pengganyangan HMI di UI.

Aksi pengganyangan HMI terus berlanjut. Pada malam 29 September 1965, CGMI menghelat rapat terbuka "menuntut pembubaran HMI" yang dihadiri puluhan ribu anggota PKI di Istana Olahraga Senayan, Jakarta. Dalam bukunya Cakrawala Politik Era Sukarno, Ganis Harsono mengenang jika kegiatan itu juga menghadirkan Presiden Sukarno, Menteri Perguruan Tinggi & Ilmu Pendidikan Johannes Leimena, Menteri Penerangan Achmadi dan Ketua CC PKI D.N. Aidit.

Jawaban pemerintah sendiri awalnya akan disampaikan oleh Menteri Penerangan Achmadi. Namun begitu berdiri di depan mikrofon, teriakan-teriakan "bubarkan HMI" dari puluhan ribu peserta rapat umum malah makin menggila. Suara pidato Achmadi malah tenggelam. Karena kesal dan marah, Achmadi lantas meninggalkan podium.

Giliran Leimena yang naik ke podium. Dengan berteriak sekeras-kerasnya, sang menteri berkata kepada massa PKI:

"Pemerintah tidak mempunyai niat untuk membubarkan HMI! HMI adalah organisasi yang nasionalistik, patriotik dan loyal kepada pemerintah. Pemerintah banyak mendapatkan sokongan dari HMI dalam perjuangan melawan Nekolim!"

Pidato Leimena langsung disambut dengan cemoohan. Teriakan "ganyang HMI" dan "ganyang kontra revolusioner" malah semakin keras membahana. Presiden Sukarno pun turun tangan. Dia naik ke podium sambil mengangkat tangannya untuk menenangkan lautan massa. Sontak semua terdiam. Kemudian dengan suara khasnya yang mengguntur, Si Bung berkata:

"Saudara-saudara! Sebelum memulai pidato, saya ingin menyampaikan hal berikut ini. Saudara-saudara baru saja mendengar tentang kebijaksanaan pemerintah yang disampaikan oleh Pak Leimena mengenai kedudukan HMI. HMI tidak akan dibubarkan! Karena saudara-saudara telah mendengarkan kebijaksanaan pemerintah, mungkin saudara-saudara ingin pula mengetahui sikap Ketua Partai Komunis Indonesia, saudara Aidit. Dia hadir sekarang di sini. Walaupun dia tidak tercantum dalam daftar yang akan berpidato malam ini, ada baiknya kalau kita mendengar bagaimana sikapnya sebelum saya melanjutkan dengan pidato saya,setuju?!"

Massa menjawab ajakan Bung Karno dengan teriakan "setuju". Saat dipanggil namanya, menurut Ganis, Aidit sendiri terlihat bermuka masam dan malas-malasan saat naik ke atas podium.

"Kalau pemerintah tidak akan membubarkan HMI, maka janganlah kalian berteriak-teriak menuntut pembubaran HMI! Lebih baik kalian bubarkan sendiri! Dan kalau kalian tidak mampu melakukannya, lebih baik kalian jangan pakai celana lagi tapi tukar saja dengan sarung!" teriak orang nomor satu di PKI itu.

Pidato Aidit lantas tidak terbendung. Selain tetap memprovokasi pembubaran HMI, dia pun memperingatkan kepada massa partainya mengenai bahaya "pemimpin-pemimpin palsu yang merampok uang rakyat dan memelihara istri hingga sampat empat dan lima". Suatu pernyataan yang jelas menyindir pribadi Presiden Sukarno.

Selesai Aidit, Sukarno tampil lagi. Sambil berusaha untuk tetap tenang dan tampil elegan, dia kembali menegaskan bahwa tidak ada pembubaran terhadap HMI. Soal, organisasi kontra revolusioner, dia mengatakan sudah pasti soal itu akan ditangani oleh pemerintah.
"CGMI pun, apabila ternyata kontra revolusioner, juga akan dibubarkan!" ancam Sukarno.

Sejarah mencatat, itulah kontak terbuka paling menegangkan antara Aidit dengan Sukarno. Tampak sekali hubungan di antara keduanya tidak selalu harmonis. Ketegangan pun terus berlangsung hingga meletus peristiwa 30 September 1965 yang kemudian menurut Si Bung Besar salah satu penyebabnya adalah karena adanya 'para pimpinan PKI yang keblinger'. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini