Tata Cara Melakukan Aqiqah untuk Anak, Wujud Syukur dan Sunah dalam Islam

Kelahiran anak adalah momen bahagia, dirayakan dengan ibadah aqiqah sebagai syukur dan sunah dalam Islam.

Rahma Aisy
Oleh Rahma Aisy - Reporter
Tata Cara Melakukan Aqiqah untuk Anak, Wujud Syukur dan Sunah dalam Islam
Tata Cara Melakukan Aqiqah untuk Anak, Wujud Syukur dan Sunah dalam Islam (Merdeka.com)

Kelahiran seorang anak adalah momen yang penuh kebahagiaan bagi setiap orang tua. Tangis pertama sang bayi menjadi pertanda lahirnya harapan baru dan anugerah tak ternilai dari Sang Pencipta. Dalam ajaran Islam, momen istimewa ini dirayakan melalui ibadah aqiqah sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.

Aqiqah bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah ibadah yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan simbolik. Pelaksanaannya yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW menjadikan aqiqah sebagai salah satu sunah muakkadah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan oleh setiap orang tua muslim. Seiring waktu, praktik aqiqah terus berkembang namun tetap berpegang pada prinsip utama: menyembelih hewan, mencukur rambut bayi, serta memberi nama yang baik.

Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang pengertian aqiqah, hukum, waktu pelaksanaan, hingga tata cara yang dianjurkan dalam Islam. Mari simak panduan ini sebagai bekal menjalankan ibadah aqiqah dengan lebih khusyuk dan sesuai syariat.

Aqiqah berasal dari bahasa Arab “al-Aqqu” yang berarti “memotong”, merujuk pada penyembelihan hewan dalam rangka menyambut kelahiran seorang anak. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan aqiqah sebagai penyembelihan hewan ternak sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran anak. Meski serupa dengan kurban, aqiqah memiliki waktu pelaksanaan dan tujuan yang berbeda.

Pelaksanaan aqiqah merupakan ajaran Rasulullah SAW yang diwariskan kepada umatnya. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Seorang anak tergadaikan dengan aqiqahnya, maka sembelihlah hewan untuknya pada hari ketujuh, beri nama, dan cukurlah rambutnya.” (HR. Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasai 7/166, Ibnu Majah 3165). Hadits ini menjadi dasar kuat bahwa aqiqah adalah sunnah muakkad, yaitu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan jika memiliki kemampuan.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga menunjukkan contoh pelaksanaan aqiqah dengan menyembelih hewan untuk cucu-cucu beliau, Hasan dan Husain. Sehingga, umat Islam dianjurkan meneladani praktik ini sebagai bagian dari bentuk syukur dan cinta kepada Rasulullah.

Bagi yang tidak mampu secara ekonomi, tidak ada dosa jika tidak melaksanakan aqiqah. Islam memberikan keringanan dalam hal ini, namun tetap menekankan bahwa bagi yang memiliki kemampuan, melaksanakan aqiqah adalah wujud keimanan dan bentuk kepedulian sosial kepada sesama.

Kapan waktu terbaik melaksanakan aqiqah? Mayoritas ulama sepakat bahwa hari ketujuh setelah kelahiran adalah waktu yang paling utama. Jika tidak memungkinkan, maka pelaksanaan bisa dilakukan pada hari ke-14 atau ke-21. Bahkan jika masih belum mampu, orang tua bisa melaksanakannya hingga anak menginjak usia baligh.

Namun, apabila anak meninggal sebelum hari ketujuh, maka kewajiban aqiqah menjadi gugur. Hal ini berdasarkan pendapat beberapa ulama yang menyatakan bahwa aqiqah hanya dilakukan jika anak masih hidup hingga hari ketujuh.

Dari segi hewan, aqiqah dianjurkan menggunakan kambing atau domba yang sehat dan layak sembelih, sebagaimana syarat hewan kurban. Untuk anak laki-laki, dianjurkan menyembelih dua ekor kambing. Sedangkan untuk anak perempuan cukup satu ekor. Jika orang tua hanya mampu satu ekor untuk anak laki-laki, itu pun sudah mencukupi sunah aqiqah.

Hewan yang digunakan tidak boleh cacat, tidak terlalu kurus, serta telah cukup umur sesuai ketentuan syariat: minimal satu tahun untuk kambing dan dua tahun untuk sapi. Penyembelihan juga sebaiknya dilakukan dengan cara yang sesuai adab Islam—menggunakan pisau tajam dan membaca doa penyembelihan seperti:

“Bismillahi wallahu akbar. Allahumma minka wa laka. Allahumma taqabbal minni. Hadzihi ‘aqiqatu (nama bayi).”

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, milik-Mu hewan aqiqah ini. Inilah aqiqahnya (sebutkan nama bayi)."

Aqiqah bukan hanya tentang menyembelih hewan. Ada beberapa amalan lain yang dianjurkan dalam Islam, yaitu mencukur rambut bayi dan memberi nama yang baik. Mencukur rambut ini dilakukan di hari ketujuh kelahiran. Islam tidak memberikan aturan ketat tentang bagaimana mencukurnya, namun sebaiknya dilakukan dengan lembut dan hati-hati.

Pemberian nama yang baik juga menjadi bagian penting dari aqiqah. Nama adalah doa dan harapan orang tua terhadap anak. Rasulullah SAW menganjurkan agar orang tua memilih nama-nama yang memiliki makna baik dan tidak mengandung unsur negatif.

Setelah hewan disembelih, dagingnya tidak diperjualbelikan. Daging aqiqah lebih utama dibagikan dalam keadaan sudah dimasak, sebagai bentuk sedekah kepada keluarga, kerabat, dan fakir miskin. Ini berbeda dengan kurban yang boleh dibagikan dalam bentuk mentah.

Tulang-tulang hewan juga disarankan untuk tidak dipatahkan, melainkan dipotong di bagian persendiannya sebagai simbol harapan keselamatan anggota tubuh anak.Dalam acara syukuran, dibacakan pula doa untuk keselamatan dan keberkahan si anak. Doa tersebut antara lain:

“Allaahummahfadzhu min syarril jinni wal insi wa ummish shibyaani... (hingga akhir doa).”

Artinya: "Ya Allah, jagalah dia dari kejelekan jin, manusia, dan segala kejelekan serta maksiat. Jadikanlah dia termasuk ahli ilmu, kebaikan, dan Alquran."

Selain sebagai ibadah dan bentuk syukur kepada Allah, aqiqah memiliki dimensi sosial yang besar. Dengan berbagi daging kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat, aqiqah menjadi sarana mempererat silaturahmi serta menunjukkan kepedulian terhadap sesama.

Di era modern saat ini, banyak orang tua yang memilih jasa layanan aqiqah untuk mempermudah pelaksanaan. Meski demikian, penting untuk memastikan bahwa proses penyembelihan dilakukan sesuai syariat dan tetap disertai dengan niat ibadah.

Aqiqah juga menjadi sarana mendidik anak secara tidak langsung tentang pentingnya berbagi, berkurban, dan mensyukuri karunia Allah. Bahkan ketika si anak tumbuh dewasa, mengetahui bahwa dirinya pernah diaqiqahkan akan memberikan nilai spiritual tersendiri.

Melaksanakan aqiqah membutuhkan persiapan, baik secara mental maupun finansial. Oleh karena itu, sebaiknya rencana aqiqah sudah dipertimbangkan sejak masa kehamilan. Diskusikan dengan pasangan dan keluarga waktu yang tepat, jenis hewan yang akan disembelih, serta susunan acara syukuran.

Bagi sebagian keluarga, aqiqah bisa menjadi momen berkumpul yang sangat bermakna. Momen ini tak hanya diisi dengan doa dan makan bersama, namun juga dengan ceramah agama atau berbagi kebahagiaan bersama anak-anak yatim.

Aqiqah adalah investasi spiritual jangka panjang untuk anak. Ia bukan sekadar tradisi, melainkan ibadah yang mencerminkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, laksanakanlah aqiqah dengan penuh keikhlasan dan kesadaran sebagai bentuk ibadah dan wujud kasih sayang orang tua terhadap sang buah hati.

Aqiqah adalah salah satu bentuk pengamalan sunah Rasulullah yang sarat makna. Dari mulai menyembelih hewan hingga memberi nama, seluruh rangkaiannya menyampaikan pesan syukur, kebaikan, dan kepedulian. Sebuah ajaran yang tak hanya menyejukkan hati orang tua, tetapi juga menghadirkan keberkahan bagi sang anak dan lingkungan sekitar.

Jangan ragu untuk mempersiapkan aqiqah dengan sebaik-baiknya. Jadikan setiap detik dalam pelaksanaannya sebagai momen berharga yang kelak akan dikenang dengan syukur dan cinta. Sebab, di balik aqiqah, tersimpan doa-doa terbaik untuk masa depan anak yang baru saja membuka lembaran hidupnya di dunia ini.

Yuk, laksanakan aqiqah dengan penuh cinta dan niat yang tulus. Semoga Allah memberkahi setiap langkah kita dalam menunaikan ibadah ini.

Rekomendasi