Manfaat dan Kegunaan Clay Mask, Jadi Rahasia Kulit Sehat dan Bersinar Sejak Zaman Kuno

Manfaat clay mask untuk kulit, dari menyerap minyak hingga redakan jerawat, lengkap dengan panduan memilih sesuai jenis kulit.

Shalsha Ardya
Oleh Shalsha Ardya - Reporter
Manfaat dan Kegunaan Clay Mask, Jadi Rahasia Kulit Sehat dan Bersinar Sejak Zaman Kuno
Ilustrasi Menggunakan Clay Mask Credit: unsplash.com/Raphael (@ 2023 merdeka.com)

Clay mask atau masker tanah liat adalah salah satu produk perawatan kulit yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu dan tetap populer hingga kini. Terbuat dari tanah liat alami yang kaya mineral, masker ini dipercaya mampu memberikan berbagai manfaat, seperti menyerap minyak berlebih, membersihkan pori-pori, hingga meredakan peradangan pada kulit.

Dilansir dari Health, sejak zaman kuno, tokoh-tokoh terkenal seperti Aristoteles dan Cleopatra telah memanfaatkan masker ini sebagai bagian dari rutinitas kecantikan mereka. Hingga saat ini, clay mask tetap menjadi pilihan favorit dalam dunia skincare karena kemampuannya merawat kulit secara alami dan efektif.

Sejarah dan Nilai Tradisional Clay Mask

Cleopatra
Cleopatra @ 2025 merdeka.com

Catatan sejarah menunjukkan bahwa clay mask telah digunakan sejak zaman kuno karena sifat terapeutik yang dimilikinya. Aristoteles tercatat menggunakan "healing clay" atau tanah liat penyembuh, sementara Cleopatra, ratu legendaris Mesir yang dikenal merawat kecantikannya dengan membalut tubuhnya menggunakan lumpur atau tanah liat dari Laut Mati.

Meskipun riset ilmiah tentang efektivitas clay mask saat ini masih terbatas, studi yang tersedia menunjukkan hasil yang positif. Clay mask berpotensi memperbaiki tekstur dan warna kulit, menyerap minyak, serta membantu mengatasi jerawat. Namun, penggunaannya tidak disarankan setiap hari. Cukup satu hingga dua kali seminggu untuk memperoleh manfaatnya sekaligus meminimalkan risiko iritasi kulit.

Jenis-Jenis Clay Mask dan Fungsinya

Ilustrasi Bentonite Clay (©Pinterest)
Ilustrasi Bentonite Clay (©Pinterest) @ 2025 merdeka.com

1. Bentonite Clay

Bentonite clay merupakan tanah liat yang sangat menyerap, terbentuk dari abu vulkanik yang telah mengalami pelapukan. Nama "bentonite" diambil dari Fort Benton, Montana—tempat ditemukannya untuk pertama kali. Kini, bentonite diproduksi di berbagai wilayah seperti Wyoming, California, hingga Brasil dan Kanada.

Di luar dunia kecantikan, bentonite juga digunakan dalam industri, salah satunya untuk menyerap minyak dari limbah makanan cepat saji. Penelitian menunjukkan bahwa bentonite mampu menyerap 50–70% minyak dari berat keringnya, bahkan tujuh kali lebih efektif dibanding karbon aktif.

Dalam dunia perawatan kulit, bentonite sangat efektif untuk menyerap minyak berlebih dan mengatasi jerawat. Selain itu, clay ini memiliki sifat antibakteri dan antiinflamasi. Namun, karena daya serapnya sangat tinggi, bentonite kurang cocok untuk kulit kering.

2. Kaolin Clay

Ilustrasi Kaolin Clay (©Pinterest)
Ilustrasi Kaolin Clay (©Pinterest) @ 2025 merdeka.com

Kaolin clay merupakan tanah liat putih lembut yang pertama kali ditemukan di bukit Kao-ling, Tiongkok. Selain digunakan dalam produk kecantikan, kaolin juga menjadi bahan dasar porselen dan kertas. Pada abad ke-18, seorang misionaris Jesuit asal Prancis membawa kaolin ke Eropa.

Masker berbahan kaolin biasanya digunakan untuk mengontrol produksi sebum tanpa membuat kulit menjadi terlalu kering. Kaolin juga mampu menyerap kotoran dan bisa membantu mengatasi jerawat.

Sebuah studi menemukan bahwa penggunaan masker kaolin (dan bentonite) secara rutin dapat mengurangi ketidaksempurnaan kulit, menurunkan rasa tidak nyaman, serta mengurangi jumlah jerawat.

Kaolin tergolong jenis tanah liat yang ringan, sehingga cocok untuk hampir semua jenis kulit, termasuk kulit sensitif. Selain putih, kaolin juga hadir dalam warna lain tergantung campuran mineralnya. Contohnya, Australian pink clay atau kaolin berwarna merah muda sangat cocok untuk kulit sensitif.

3. French Green Clay

Ilustrasi French Green Clay (©Pinterest)
Ilustrasi French Green Clay (©Pinterest) @ 2025 merdeka.com

French green clay, atau dikenal sebagai "healing clay", berasal dari wilayah pesisir Prancis. Warna hijaunya berasal dari bahan tumbuhan yang membusuk secara alami. Seperti jenis tanah liat lainnya, green clay mampu menarik kotoran dari pori-pori kulit dan diduga dapat meningkatkan sirkulasi darah.

Meski belum banyak diteliti, sebuah studi lama menunjukkan bahwa green clay dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Para peneliti bahkan menyebut clay ini bisa digunakan untuk mengobati penyakit kulit seperti borok Buruli, yang menyebabkan kerusakan kulit kronis.

Walau hasilnya menjanjikan, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan manfaatnya terhadap kesehatan kulit manusia.

4. Rhassoul Clay

Ilustrasi Rhassoul Clay (©Pinterest)
Ilustrasi Rhassoul Clay (©Pinterest) @ 2025 merdeka.com

Rhassoul clay, juga dikenal sebagai ghassoul atau red clay, berasal dari Maroko. Nama "rhassoul" diambil dari bahasa Arab "ghasala" yang berarti "mencuci". Selama berabad-abad, clay ini digunakan sebagai perawatan kulit dan rambut oleh masyarakat Timur Tengah dan Afrika Utara.

Pendukung rhassoul clay mengklaim bahwa clay ini sangat baik untuk kulit sensitif dan kulit matang. Selain memperbaiki tekstur, rhassoul dipercaya dapat meningkatkan elastisitas kulit, mengangkat kotoran, serta melawan jerawat. Namun, bukti ilmiahnya masih terbatas.

Sebuah tinjauan terhadap tiga studi kasus berskala kecil menunjukkan bahwa rhassoul clay dapat membantu mengobati kerusakan kulit pada pasien dengan ostomi. Oleh karena itu, rhassoul dinilai sebagai solusi terjangkau untuk melindungi kulit dan mencegah kerusakan lebih lanjut.

Cara Menggunakan Clay Mask yang Tepat

Cegah Jerawat dan Kulit Kusam, Begini Rutinitas Perawatan Kulit Penting Saat Musim Hujan
<p>Ilustrasi clay mask. (c) Miriam Alonso/Pexels.com</p> @ 2025 merdeka.com

Meski setiap jenis clay memiliki karakteristik berbeda, metode penggunaannya umumnya sama. Berikut panduan umum untuk mengaplikasikan clay mask:

  1. Bersihkan wajah terlebih dahulu. Gunakan pembersih lembut tanpa alkohol, lalu bilas dengan air hangat dan keringkan dengan handuk bersih. Kulit yang bersih memungkinkan tanah liat menyerap lebih efektif.
  2. Aplikasikan masker. Oleskan masker dalam lapisan tipis menggunakan jari manis (untuk tekanan paling ringan), atau gunakan aplikator seperti kuas. Hindari area mata.
  3. Tunggu hingga masker mengering. Biasanya membutuhkan waktu 5–10 menit. Saat mengering, masker akan menarik minyak, sel kulit mati, dan kotoran dari kulit.
  4. Bilas masker. Gunakan air hangat (bukan panas) agar kulit tidak kering. Pastikan masker terangkat seluruhnya.
  5. Gunakan pelembap. Setelah kulit bersih, aplikasikan pelembap yang sesuai jenis kulit. Untuk kulit kering, pilih pelembap dengan ceramide atau asam hialuronat.

Hindari pelembap berbahan organik jika kulit sensitif, karena beberapa bahan alami bisa menimbulkan iritasi.

Disarankan untuk menggunakan clay mask hanya satu atau dua kali seminggu. Pemakaian berlebihan justru dapat menyebabkan iritasi atau kulit terlalu kering.

Efek Samping dan Tips Keamanan

Meskipun sebagian besar orang dapat menggunakan clay mask tanpa masalah, kemungkinan alergi atau iritasi tetap ada, terutama jika digunakan terlalu sering. Pengguna dengan kulit kering atau sensitif sebaiknya lebih berhati-hati.

Para dermatolog umumnya menyarankan untuk melakukan uji coba terlebih dahulu di area kecil, seperti lipatan siku bagian dalam. Gunakan produk sebanyak seukuran koin dan aplikasikan seperti di wajah. Lakukan dua kali seminggu selama dua minggu. Jika tidak ada reaksi negatif, barulah coba di wajah.

Apabila muncul iritasi, segera bilas dan kompres area tersebut dengan kain dingin. Oleskan petroleum jelly bila perlu. Jika gejala tidak membaik, segera konsultasikan ke dokter kulit.

Menyesuaikan Clay Mask dengan Jenis Kulit dan Masalah Spesifik

[Fimela] Ilustrasi jenis kulit wajah
Ilustrasi jenis kulit wajah | pexels.com @ 2023 merdeka.com

Pemilihan clay mask yang tepat sangat bergantung pada jenis kulit dan masalah yang dihadapi. Berikut panduan singkat untuk membantu Anda menentukan pilihan:

  1. Kulit kering: Cenderung kasar, bersisik, atau terasa tertarik. Pilih clay ringan seperti kaolin.
  2. Kulit berminyak: Tampak mengilap dan memproduksi minyak berlebih. Gunakan bentonite untuk menyerap sebum.
  3. Kulit kombinasi: Area wajah seperti T-zone berminyak, sementara bagian lain kering. Gunakan masker secara selektif pada area tertentu.
  4. Kulit normal: Tidak terlalu berminyak atau kering, cenderung tidak sensitif.
  5. Kulit sensitif: Mudah memerah, terasa terbakar, atau gatal setelah memakai produk tertentu. Pilih masker berbahan lembut dan hindari bahan organik yang berpotensi iritatif.

Selain jenis kulit, pertimbangkan juga tujuan penggunaan clay mask. Apakah Anda ingin mengontrol minyak, mencerahkan wajah, mengurangi jerawat, atau sekadar menyegarkan tampilan kulit? Untuk kulit sangat berminyak, bentonite adalah pilihan tepat. Sementara itu, bagi kulit kusam dan kasar, kaolin dapat menjadi solusi yang lebih lembut. French green clay cocok untuk membantu membersihkan komedo, sedangkan rhassoul bisa membantu memperbaiki elastisitas kulit.

Clay mask bukan sekadar tren kecantikan masa kini, tetapi juga merupakan warisan perawatan kulit yang telah terbukti digunakan selama berabad-abad. Dengan kandungan mineral alaminya, masker tanah liat mampu menyerap kotoran, menenangkan peradangan, dan memperbaiki tampilan kulit secara keseluruhan.

Namun, seperti halnya produk perawatan kulit lainnya, efektivitas clay mask bergantung pada pemilihan produk yang sesuai dan penggunaan yang bijak. Kenali jenis kulit Anda, pilih masker yang tepat, dan konsultasikan pada dermatolog bila perlu. Perawatan kulit tidak harus mahal atau rumit. Dengan clay mask, Anda bisa mulai dari sesuatu yang alami—dan telah terbukti sejak zaman dahulu kala.

Rekomendasi