Memahami Hadits tentang Lailatul Qadar yang Menggambarkan Keistimewaannya

Hadits mengenai Lailatul Qadar menjelaskan keistimewaan malam tersebut, waktu kedatangannya, serta keutamaan ibadah yang dilakukan pada malam itu.

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Memahami Hadits tentang Lailatul Qadar yang Menggambarkan Keistimewaannya
Buat yang mencari tahu kapan malam Lailatul Qadar, inilah jawabannya. (Ilustrasi: Pexels.com) (© 2025 Liputan6.com)

Lailatul Qadar adalah malam yang sangat istimewa dalam agama Islam, yang hanya muncul di bulan Ramadan. Dalam banyak hadits, Rasulullah SAW memberikan penjelasan mendalam mengenai keistimewaan malam ini, termasuk keutamaan, tanda-tanda, serta doa yang sebaiknya dibaca ketika malam itu tiba. Malam Lailatul Qadar dianggap lebih baik daripada seribu bulan, sehingga memberikan kesempatan besar bagi umat Islam untuk mendapatkan ampunan serta pahala yang berlipat ganda.

Keutamaan malam ini juga tercantum dalam Al-Qur'an dan diperkuat oleh berbagai riwayat hadits dari Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad. Hadits-hadits tersebut memberikan petunjuk jelas bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah, berdoa, dan memperbanyak amal pada malam-malam terakhir bulan Ramadan, terutama pada malam ganjil.

Walaupun waktu pasti terjadinya malam Lailatul Qadar tidak dapat diketahui, hadits menyatakan bahwa malam tersebut jatuh pada salah satu malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan. Oleh karena itu, kesungguhan serta niat yang tulus dalam mencarinya menjadi kunci utama untuk mendapatkan keberkahan dari malam yang penuh rahmat ini.

Meskipun tidak diketahui secara pasti kapan malam Lailatul Qadar terjadi, hadits menyebutkan bahwa malam tersebut berada pada salah satu malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan. Kesungguhan dan niat ikhlas dalam mencarinya menjadi kunci utama untuk meraih keberkahan malam yang penuh rahmat ini.

Keutamaan Lailatul Qadar telah dijelaskan dalam berbagai riwayat yang dapat dipercaya. Dalam Surah Al-Qadr ayat 3, Allah SWT berfirman, "Lailatul Qadri khairun min alfi syahr," yang berarti "Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." Penegasan mengenai keutamaan malam ini juga terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Dalam salah satu riwayatnya, Rasulullah SAW bersabda: "Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan." (HR Ahmad)

2. Petunjuk Waktu Lailatul Qadar dalam Hadits Shahih

Dalam usaha menemukan malam Lailatul Qadar, Rasulullah SAW memberikan arahan bahwa malam tersebut terdapat pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menyebutkan: "Carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, carilah pada malam-malam ganjil." (HR. Bukhari).

Lebih spesifik lagi, hadits riwayat Imam Ahmad dengan sanad shahih dari Ibnu Umar menegaskan:

"Barang siapa yang ingin mengintai malam Lailatul Qadar hendaklah ia mengintai pada malam dua puluh tujuh." (HR. Ahmad).

Namun begitu, banyak ulama berpendapat bahwa malam Lailatul Qadar tidak bisa dipastikan secara mutlak tanggalnya. Hal ini agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam beribadah selama sepuluh malam terakhir, bukan hanya pada satu malam saja.

3. Tanda-Tanda Datangnya Malam Lailatul Qadar Menurut Hadits

Sebagai wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, Rasulullah SAW menguraikan ciri-ciri fisik yang menandakan datangnya malam Lailatul Qadar agar dapat dikenali dengan mudah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau bersabda:

"Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan." (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi)

Tanda tersebut menunjukkan suasana alam yang berbeda dari biasanya. Udara terasa tenang, malamnya sejuk, tidak panas, dan tidak dingin. Cahaya matahari di pagi harinya pun tampak lebih lembut dari biasanya, seperti diselimuti kabut tipis.

Tanda-tanda ini menjadi petunjuk tambahan bagi umat Islam untuk mengetahui apakah malam sebelumnya adalah Lailatul Qadar, meskipun yang utama tetap pada kesungguhan ibadah tanpa menunggu kepastian tanda tersebut.

4. Doa yang Dianjurkan Rasulullah SAW di Malam Lailatul Qadar

Ketika Lailatul Qadar tiba, Rasulullah SAW mendorong umatnya untuk memperbanyak doa dan melakukan ibadah. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, terdapat sebuah riwayat yang menyatakan,

“Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja aku tahu bahwa suatu malam adalah malam lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ’ANNII (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Doa ini mengandung makna permohonan ampunan dari Allah SWT. Kalimat tersebut menegaskan bahwa Allah adalah Maha Pengampun dan mencintai ampunan, sehingga memohon ampunan pada malam tersebut sangat dianjurkan.

5. Keutamaan Ibadah di Malam Lailatul Qadar

Malam Lailatul Qadar memberikan kesempatan bagi setiap orang yang melaksanakan ibadah dengan tulus dan penuh keyakinan untuk mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, disebutkan:

"Siapa yang mengerjakan ibadah pada malam Qadar dengan iman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjadi dorongan bagi umat Islam agar tidak melewatkan kesempatan berharga ini, terutama bagi mereka yang ingin mendapatkan pengampunan total atas dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya.

Selain pengampunan dosa, malam ini juga menjadi momen dilipatgandakannya pahala setiap amal, termasuk sedekah, membaca Al-Qur’an, bahkan senyum kepada sesama.

6. Amalan di Malam Lailatul Qadar

Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh 'Aisyah radhiyallahu 'anha, terdapat kisah tentang cara Rasulullah SAW menjalani sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa ketika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau kencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah." (HR. Bukhari dan Muslim).

Salah satu yang dianjurkan adalah menghadiri sholat Isya dan Subuh berjamaah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ) Mengenai Lailatul Qadar

1. Kapan terjadinya malam Lailatul Qadar?

Malam Lailatul Qadar diyakini terjadi pada salah satu malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.

2. Apa tanda-tanda malam Lailatul Qadar menurut hadits

Malam Lailatul Qadar ditandai dengan suasana yang tenang, langit cerah tanpa bintang mencolok, dan matahari di pagi hari terbit tanpa sinar menyilaukan.

3. Apa doa yang dianjurkan Rasulullah untuk dibaca saat Lailatul Qadar?

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii” (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka ampunilah aku).

4. Apakah Lailatul Qadar hanya terjadi di malam ganjil

Mayoritas ulama meyakini malam ini berada di malam-malam ganjil, tetapi ada juga pendapat yang membolehkan di malam genap, sehingga seluruh 10 malam terakhir perlu diisi ibadah.

5. Bagaimana cara meraih keutamaan malam Lailatul Qadar?

Dengan memperbanyak ibadah seperti sholat malam, tilawah Al-Qur’an, dzikir, sedekah, dan doa dengan niat yang ikhlas dan penuh harap kepada Allah SWT.

Rekomendasi