Mengenal Tren Kecantikan Korea 2025, Short Midface, Standar Baru atau Sekadar Inspirasi?

Tren Short Midface dari Korea memicu perdebatan antara standar kecantikan dan individualitas. Apakah ini inspirasi atau tekanan sosial?

Shalsha Ardya
Oleh Shalsha Ardya - Reporter
Mengenal Tren Kecantikan Korea 2025, Short Midface, Standar Baru atau Sekadar Inspirasi?
Mengenal Tren Kecantikan Korea 2025, Short Midface, Standar Baru atau Sekadar Inspirasi? (Merdeka.com)

Dalam dunia kecantikan yang terus berkembang, Korea Selatan kembali menunjukkan dominasinya dengan memperkenalkan tren baru yang dikenal sebagai "Short Midface." Tren ini merujuk pada proporsi wajah yang lebih pendek di area antara bawah mata hingga atas bibir, menciptakan kesan wajah yang lebih muda, segar, dan imut.

Dilansir dari Liputan6, tren ini semakin populer berkat selebritas papan atas seperti Jennie BLACKPINK dan Yuna ITZY, yang memiliki fitur wajah sesuai dengan konsep ini. Popularitasnya semakin meluas melalui media sosial dan tutorial kecantikan, membuat banyak orang tertarik untuk mencoba berbagai teknik makeup demi mendapatkan tampilan serupa.

Namun, seperti banyak tren kecantikan lainnya, Short Midface juga memicu diskusi yang lebih luas tentang individualitas dalam standar kecantikan. Beberapa pihak menilai bahwa tren ini, meskipun menarik, berisiko mempersempit definisi kecantikan dan menambah tekanan bagi mereka yang tidak memiliki proporsi wajah serupa.

Kritik ini muncul di berbagai platform media sosial, di mana warganet mengingatkan bahwa kecantikan seharusnya tidak terikat pada satu standar tertentu. Di sisi lain, ada pula yang menganggap tren ini sekadar inspirasi dan bentuk ekspresi diri, bukan aturan yang harus diikuti oleh semua orang.

Mengutip dari laman Koreaboo, Jumat (14/2/2025), istilah "short midface" merujuk pada proporsi wajah yang lebih pendek di area antara bawah mata hingga atas bibir, termasuk hidung dan filtrum. Proporsi ini dianggap memberikan kesan wajah yang lebih muda, segar, dan imut. Popularitas tren ini sebagian besar didorong oleh selebritas Korea seperti Jennie BLACKPINK dan Yuna ITZY, yang memiliki ciri khas wajah seperti ini.

Sebaliknya, selebritas lain seperti Taeyeon dari Girls' Generation dan SinB dari VIVIZ, meskipun memiliki kecantikan yang tak terbantahkan, dianggap memiliki proporsi wajah tengah yang lebih panjang. Tren ini, meskipun tidak dimaksudkan untuk merendahkan, secara tidak langsung menggeser perhatian publik ke tipe wajah tertentu yang dianggap lebih "ideal."

Tren Short Midface tidak hanya memengaruhi standar kecantikan, tetapi juga melahirkan berbagai tutorial tata rias untuk mencapai tampilan wajah seperti ini. Beberapa teknik makeup yang populer mencakup:

  1. Aplikasi Perona Pipi: Mengaplikasikan blush di atas pangkal hidung untuk menciptakan ilusi wajah lebih pendek.
  2. Overlip pada Bibir Atas: Teknik ini membantu memperpendek jarak antara hidung dan bibir.
  3. Aegyosal: Menonjolkan garis bawah mata untuk memberikan kesan mata yang lebih besar dan imut.

Tutorial ini dengan cepat menyebar di media sosial, menarik perhatian para penggemar kecantikan untuk mencoba langkah-langkah tersebut.

Namun, di balik popularitasnya, tren ini juga memunculkan kritik dari sejumlah pihak. Banyak yang mempertanyakan relevansi fokus pada proporsi wajah seperti ini, mengingat kecantikan adalah sesuatu yang sangat subjektif.

Beberapa warganet menyuarakan pandangan mereka tentang bagaimana tren seperti ini dapat mengikis individualitas. "Ini adalah penyakit," tulis seorang pengguna media sosial. Komentar lain berbunyi, "Orang perlu tahu bahwa sebenarnya, tidak ada yang benar-benar memperhatikan Anda," dan "Hiduplah dengan sedikit individualitas."

Pendapat ini mencerminkan kekhawatiran bahwa standar kecantikan yang terlalu spesifik dapat menimbulkan tekanan yang tidak sehat bagi masyarakat, terutama generasi muda. Fokus pada tren seperti Short Midface, meskipun tampak sepele, bisa menjadi indikator bagaimana standar kecantikan terus berkembang ke arah yang semakin detail dan sempit.

Meski begitu, banyak pula yang mendukung tren ini sebagai bentuk ekspresi diri. Mereka yang terinspirasi oleh idola mereka merasa tren ini tidak harus menjadi standar yang mengikat, melainkan inspirasi untuk mencoba sesuatu yang baru.

Tren kecantikan seperti Short Midface tidak hanya memengaruhi konsumen, tetapi juga mendorong industri kecantikan untuk beradaptasi. Sebuah laporan dari McKinsey pada September 2024 mengungkapkan bahwa penjualan produk kecantikan global mencapai 446 miliar dolar AS (sekitar Rp7 kuadriliun) pada tahun lalu dan diperkirakan akan tumbuh enam persen per tahun hingga 2028.

Melansir Business Insider, Kamis (31/10/2024), para pendiri perusahaan kecantikan seperti Babba Rivera dari Ceremonia, Candace Mitchell dari Myavana, dan Colleen Rothschild dari Colleen Rothschild Beauty, membahas bagaimana tren kecantikan tidak lagi hanya soal produk, tetapi juga pengalaman dan personalisasi.

Mitchell, yang memimpin perusahaan teknologi kecantikan Myavana, misalnya, menggunakan algoritma untuk memberikan rekomendasi produk yang dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan rambut pelanggan. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa tren kecantikan di masa depan mungkin akan semakin berfokus pada solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan individu.

Dalam perdebatan seputar Short Midface, penting untuk mengingat bahwa kecantikan adalah konsep yang beragam dan tidak bisa didefinisikan oleh satu standar saja. "Kita berbicara tentang sesuatu yang harus Anda ikuti secara konsisten, dan menurut saya, konsistensi akan menghasilkan rasa percaya diri," kata Colleen Rothschild dalam wawancaranya.

Alih-alih mengejar tren yang terus berubah, Rothschild merekomendasikan fokus pada produk-produk dasar dengan bahan-bahan yang sudah teruji seperti asam hialuronat dan vitamin E. "Terlalu banyak mencoba produk yang berbeda justru dapat mengiritasi kulit," tambahnya.

Pesan ini relevan bagi siapa saja yang mungkin merasa tertekan untuk mengikuti standar kecantikan tertentu. Tren seperti Short Midface dapat dilihat sebagai inspirasi, tetapi penting untuk tetap menghargai keunikan dan individualitas setiap orang.

Pada akhirnya, kecantikan bukan hanya tentang memenuhi standar yang ada, melainkan juga tentang bagaimana seseorang merasa nyaman dan percaya diri dengan dirinya sendiri. Tren seperti Short Midface mungkin akan terus berkembang, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat dapat belajar menghargai keunikan mereka sendiri.

Sebagai penutup, tren kecantikan akan selalu ada, tetapi cara kita meresponsnya yang akan menentukan apakah tren tersebut menjadi penghalang atau justru alat untuk mengekspresikan diri. "Setiap individu memiliki keunikan yang tidak bisa diukur hanya dari panjang atau pendeknya wajah tengah," ujar seorang pengguna media sosial, mengingatkan kita semua untuk tidak terjebak dalam standar yang sempit.

Tren kecantikan short midface ala Korea Selatan memang menarik perhatian banyak orang, terutama para penggemar K-pop dan K-beauty. Namun, penting untuk diingat bahwa kecantikan tidak bisa diukur hanya dari satu standar. Setiap individu memiliki keunikan dan keindahan tersendiri yang tidak bisa diseragamkan. Tren ini sebaiknya dijadikan sebagai inspirasi, bukan sebagai patokan yang harus diikuti oleh semua orang.

Sementara itu, industri kecantikan global terus berkembang dengan tren yang lebih simpel dan dipersonalisasi, menunjukkan bahwa kecantikan adalah tentang menemukan apa yang terbaik untuk diri sendiri, bukan mengikuti standar yang ditetapkan oleh orang lain.

Rekomendasi