Perusahaan penerbitan Inggris, Puffin Books dikritik habis-habisan atas karya-karya klasik Roald Dahl yang mereka terbitkan. Roald Dahl adalah penulis yang dikenal lewat buku anak populer seperti Charlie and The Chocolate Factory dan Matilda.
Penerbit yang merupakan bagian dari Penguin Random House ini menuliskan ulang karya-karya Dahl dengan menyensor dan mengganti kata-kata yang dianggap sensitif.
Tujuan penggantian kata adalah menjadikan buku-buku tersebut lebih 'ramah' untuk pembaca anak-anak di zaman ini. Sayangnya, langkah tersebut justru membuat mereka dicibir habis-habisan.
Advertisement
Penggantian Kata-Kata Sensitif
Menurut laporan Daily Telegraph, ulasan edisi terbaru buku-buku Dahl menyebutkan pengubahan bagian dari cerita asli yang berhubungan dengan berat badan, kesehatan mental, gender, dan ras. Misalnya Augustus Gloop, tokoh bocah lelaki rakus di Charlie And The Chocolate Factory. Awalnya, ia digambarkan 'sangat gemuk'. Namun, frasa tersebut telah digantikan dengan kata 'besar'.
Dalam edisi terbaru Witches, perempuan berkekuatan supranatural yang sedang menyamar sebagai manusia digambarkan bekerja sebagai 'ilmuwan atau memimpin perusahaan', bukan lagi sebagai 'penjaga kasir di supermarket atau sekretaris untuk bosnya'. Kata 'hitam' juga dihilangkan dari buku Fantastic Mr. Fox yang terbit pada 1970-an.
Perubahan pada buku Dahl memicu polemik baru mengenai kepekaan budaya atau cultural sensitivity. Pihak yang mendukungnya menganggap pemutakhiran karya-karya Dahl sebagai upaya untuk menjauhkan anak muda dari stereotip budaya, etnis, dan gender di media.
Sementara itu, para kritikus berpendapat bahwa adanya perubahan untuk menyesuaikan audiens abad ke-21 yang semakin sensitif berisiko merusak mahakarya para seniman. Penyensoran dengan menghilangkan kata-kata yang mungkin menyinggung juga menghalangi pembaca untuk menghadapi realita secara apa adanya.
Advertisement
Dikritik Para Penulis
Salman Rushdie, penulis yang memenangkan penghargaan Booker Prize adalah salah satu dari pihak yang marah terhadap penulisan ulang karya Dahl. Dilansir dari CNA (20/2/2023), Rushdie menyampaikan kekecewaannya melalui Twitter. "Roald Dahl memang bukan malaikat, tetapi penyensoran ini sangat absurd," cuitnya. "Puffin Books dan Dahl Estate seharusnya malu."
Selain itu, PEN America, sebuah komunitas berisi 7.500 penulis yang kerap mengadvokasi kebebasan berekspresi, mengaku khawatir dengan laporan perubahan pada buku-buku Dahl.
"Jika kita mulai mencoba mengoreksi hal-hal yang remeh alih-alih membiarkan pembaca menerima dan bereaksi terhadap buku seperti yang dituliskan oleh pengarangnya, kita dapat mendistorsi karya penulis hebat dan mengaburkan peran penting yang ditawarkan sastra pada masyarakat," ujar kepala eksekutif PEN America, Suzanne Nossel.
Advertisement
Ditulis Ulang untuk Menyesuaikan dengan Zaman
Pihak yang mengontrol hak atas buku tersebut, The Roald Dahl Story Company mengatakan bahwa mereka bekerja sama dengan Puffin untuk meninjau teks agar selaras dengan perkembangan zaman. Mereka ingin memastikan bahwa "cerita dan karakter Dahl yang luar biasa dapat terus dinikmati oleh semua anak saat ini."
Aspek kebahasaan ditinjau dengan bekerja sama dengan Inclusive Minds, sebuah kolektif yang bertujuan untuk membuat bacaan anak lebih inklusif dan mudah diakses. Menurut perusahaan itu, setiap perubahan yang ada bersifat "kecil dan dipertimbangkan dengan hati-hati".
Analisis terhadap teks bacaan Dahl dimulai pada 2020, sebelum Netflix membeli The Roald Dahl Story Company dan memulai rencana untuk memproduksi film generasi baru berdasarkan buku-buku milik Dahl. "Saat menerbitkan cetakan baru dari buku yang ditulis bertahun-tahun yang lalu, adalah hal yang wajar untuk meninjau bahasa yang digunakan bersamaan dengan memperbarui detail lainnya, termasuk sampul buku dan tata letak halaman," kata perusahaan itu.
"Prinsip kami selama ini adalah untuk tetap mempertahankan alur cerita, karakter, dan sifat memberontak serta semangat yang tajam dari teks aslinya." Di sisi lain, pihak Puffin belum bersedia berkomentar perihal isu ini.
Reporter: Dyra Daniera
Sumber: Liputan6.com