GERD dan anxiety adalah dua gangguan kesehatan yang kini banyak ditemui. Penyakit ini kerap diderita manusia dalam usia produktif. Tak sedikit juga yang sudah menderitanya sejak usia remaja. GERD dan anxiety biasanya diawali rasa tidak nyaman di badan, jantung berdebar, dan rasa khawatir berlebihan yang datang secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Tak jarang, penderita sudah menghabiskan jutaan rupiah untuk berobat, tapi gejala tidak kunjung sembuh.
Walaupun penderita GERD dan anxiety sudah sering membicarakan kondisi mereka kepada keluarga atau teman, tanggapannya tak selalu positif. Kadang bahkan dibilang lebay, padahal gangguan kesehatan ini memang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gejalanya datang tiba tiba; dimulai dari rasa tidak nyaman di sekujur tubuh, keliyengan seperti mau pingsan, sesak napas, jantung berdegup kencang, rasa tercekik di leher, ataupun nyeri di bagian dada. Gejala yang umum disebut dengan istilah panic attack ini jelas membuat para penderita khawatir.
Menurut Erik Wibowo, pendiri yayasan Anxiety Care Indonesia, Sebagian besar penderita mengeluhkan gejala lambung yang menetap (seperti GERD, maag, dyspepsia) sampai keluhan yang lebih serius. Ketika gejalanya kambuh, mereka sering langsung pergi ke IGD.
Advertisement
Mengenal General Anxiety Disorder (GAD)
Gejala GERD kadang diperburuk gangguan kesehatan mental General Anxiety Disorder (GAD). Ini adalah kondisi di mana kejiwaan penderita tak seimbang, biasanya ditandai rasa cemas berlebihan dengan frekuensi tinggi.
Dimulai dengan itikad baik, Erik Wibowo yang juga seorang penderita GERD dan anxiety sejak 2008 berniat membantu sesama penderita. Selain menulis tiga buah buku tentang cara sembuh dari GERD dan anxiety, ia mengelola channel YouTube, erikwibowo sejak 2018. Saat ini, dia aktif sebagai pembicara, pengajar, dan motivator khusus untuk masalah GERD dan anxiety. Ia aktif menyebarkan info tentang dua gangguan kesehatan ini.
"Saya mulai dari menulis tiga buah buku, lalu membuat channel YouTube khusus untuk para penderita GERD dan anxiety. Lalu pada tahun 2020 saya mulai mendirikan sebuah Yayasan Anxiety Care Indonesia (ACI) sebagai wadah untuk menampung para penderita di seluruh Indonesia. Motto kita adalah we survive together, di mana di sana kita bisa saling sharing, saling menguatkan, saling sembuh dan tumbuh bersama, agar bisa keluar dari penyakit ini dan hidup seperti orang normal pada umumnya," cerita Erik pada webinar peringatan Hari Kesehatan Mental Dunia pada 10 Oktober 2022 lalu.
Advertisement
Metode 4P, Kunci Kesembuhan di Anxiety Care Indonesia
Anxiety Care Indonesia (ACI) yang dibentuk tanggal 20 Februari 2020 sudah memiliki ribuan member yang tersebar di 14 wilayah di Indonesia. Mereka semua tergabung dalam grup regional dan saling menguatkan di tengah perjuangan bertahan dari GERD dan anxiety.
Para member ACI mengggunakan metode 4P untuk membantu kesembuhan, yaitu menjaga pola makan, pola hidup, pola pikir, dan pola sifat. Metode ini memang sederhana, tapi terbukti ampuh dalam membantu kesembuhan. Metode ini jugalah yang mengikat para member di komunitas ACI. Mereka fokus pada kesembuhan dan pantang terhadap postingan negatif atau berkeluh-kesah yang justru bisa memperburuk kondisi mental member lain.
ACI bertujuan mengedukasi masyarakat terhadap bahaya GERD dan anxiety, fokus dalam membantu penyembuhan penderita, dan mengadakan riset untuk menemuka formula perawatan yang pas untuk para penderita. Yayasan ACI diperkuat oleh komite dokter dan para pakar kesehatan mental, mulai dari psikiater, psikolog, ahli terapi, sampai pakar hipnoterapi. Selain itu, yayasan juga mempunyai beberapa mentor untuk memotivasi para penderita agar sembuh.
“Kebanyakan dari member kami setelah ikut ACI keadaannya sudah membaik, jadi selain saling menguatkan, kita juga sering mengadakan acara online ataupun offline dan juga membantu kegiatan kemanusiaan seperti membantu korban banjir, COVID, Jumat berkah, ataupun membantu korban Semeru. Di situ, member yang dulunya gak bisa ke luar rumah kini turun ke jalan membantu sesama manusia untuk program kemanusiaan. Ini sungguh suatu keajaiban,” ujar Erik.
Advertisement
Melawan Penyakit 'Zaman Now'
Kesulitan ekonomi, pandemi COVID, dan kebiasaan hidup masyarakat 'zaman now' yang serba instan dapat memacu pertumbuhan penyakit GERD dan anxiety. Menurut survei Global Health Data Exchange 2017, Indonesia jadi negara dengan jumlah penderita gangguan kejiwaan tertinggi di Asia Tenggara. Gangguan kejiwaan yang paling tinggi adalah kecemasan (anxiety disorder) dengan jumlah penderita lebih dari 8,4 juta jiwa.
Selain itu, gaya hidup dan kebiasaan makan yang buruk dan pola pikir stress juga memicu kenaikan jumlah pengidap penyakit dyspepsia atau GERD pada usia produktif yaitu usia 25—35 tahun.
“Para member kita kebanyakan ada di rentang usia 25—35 tahun, yang kedua terbanyak ada di usia 35—45 tahun. Member termuda kami berumur 16 tahun dan yang tertua yang saya ingat ada wanita berumur sekitar 60 tahun. Rata-rata dari mereka mengalami sakit lambung yang tidak kunjung sembuh berbulan-bulan dan disertai oleh rasa cemas akut yang berlebihan mengenai takut terkena penyakit berat, takut berkegiatan di luar rumah, atau takut karena merasa dirinya sebentar lagi akan mati,” tambah Erik.
Yayasan Anxiety Care Indonesia saat ini masih bergerak mandiri. Mereka membuka donasi di Kitabisa dan website resmi yayasan. Harapannya, komunitas ini akan mendapat dukungan dari pemerintah, komunitas terkait, maupun donatur agar bisa melakukan lebih banyak untuk para penderita GERD dan anxiety.