Soto mendadak jadi perbincangan hangat beberapa hari terakhir, setelah jadi perdebatan di kalangan warganet, khususnya di Twitter. Di media sosial berbasis mikroblog tersebut, warganet tampak sibuk membandingkan sajian soto di beberapa daerah.
Perdebatan sendiri dipicu dari salah seorang warganet yang menilai lauk soto yang disajikan di Jawa, cenderung lebih sedikit, dibandingkan soto yang biasa dijumpainya di Sumatera. Rupanya hal ini mendadak jadi perbincangan hangat, karena tak sedikit warganet lainnya yang merasakan hal serupa.
Padahal penyajian soto biasanya memang mengikuti ciri khas daerah asalnya. Misalnya saja, ada Coto Makassar dan Soto Banjar yang lebih sering dinikmati dengan potongan ketupat atau lontong daripada nasi. Kemudian, ada Soto Betawi yang identik dengan empingnya, sementara Soto Lamongan populer dengan tambahan bubuk koyanya.
Soal banyak-sedikitnya lauk memang biasanya menyesuaikan harga soto yang ditawarkan. Lagi-lagi ini bergantung pada penjual masing-masing. Beruntunglah jika dapat soto dengan irisan ayam atau potongan daging ayam banyak dengan harga murah, tetapi jangan lantas dibandingkan dengan penjual soto lainnya. Siapa tahu memang harga bahan bakunya tak sama, kan?
Toh jika ingin lauk tambahan, tinggal ambil lagi, seperti babat, paru, atau perkedel yang biasanya disajikan di atas piring terpisah di atas meja. Tentunya harus tambah bayar, tergantung seberapa banyak tambahan lauk yang diambil. Jadi, debat soto ini sendiri pada akhirnya sekadar jadi obrolan pengusir penat di tengah kejenuhan berada di rumah saja. Bukan perdebatan krusial yang sampai memecah persatuan dan kesatuan bangsa.
Lantas, sudahkah mengenal sejarah soto ini sendiri?
Daripada memperpanjang perdebatan, sudahkah mengenal sejarah soto ini sendiri? Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa 2: Silang Budaya Jaringan Asia (1996), mengemukakan jika soto pertama kali dikenalkan di pesisir pantai utara Jawa atau tepatnya Semarang pada abad 19 Masehi, sebagai masakan berkuah dengan potongan jeroan.
Dalam catatan kakinya, Lombard menyebutkan jika awalnya soto dikenal sebagai caudo atau jao to, yang dalam dialek Hokian berarti jeroan yang dimasak dengan rempah. Kenapa jeroan? Karena harga daging saat itu sangat mahal, sehingga tak semua kalangan bisa membelinya. Sebagai hidangan yang dikenalkan oleh imigran dari Cina, jao to yang dimasak oleh orang Tionghoa awalnya menggunakan daging babi.
Jao to kemudian mengalami penyerapan kata, dan dilafalkan lebih mudah oleh masyarakat pribumi sebagai soto. Cara jualannya pun dipikul atau menggunakan gerobak. Oleh karena menggunakan jerohan penuh lemak, aslinya soto ini sendiri disebut oleh Lombard sebagai makanan dari kalangan menengah ke bawah.
Advertisement
Gara-gara dicap sebagai makanan pribumi, kalangam atas pun enggan menyantap soto, sebagaimana ulasan Rudolf Mrazek dalam bukunya Engineers of Happy Land (2018) tentang kehidupan borjuis orang Hindia Belanda. Selain itu, anggapan soto sebagai kuliner rendah juga menjadi alasan, kenapa kuliner ini tak ditemukan dalam buku resep makanan terkenal pada abad 19, Drukkerij Lie Tek Long Batavia.
Soto baru diakui sebagai makanan rakyat populer setelah Bung Karno meminta untuk memasukkan kuliner tersebut dalam buku resep gagasannya, Mustika Rasa (1967). Seiring berjalannya waktu, soto mengalami perkembangan pesat. Bukan hanya menggunakan jeroan, tetapi juga daging sapi, daging ayam, bebek, hingga kerbau.
Bahkan kini, setiap daerah nyaris punya sajian soto. Sebut saja Soto Betawi, Soto Mi Bogor, Soto Bandung, Soto Ayam Sunda di Pulau Jawa bagian Barat. Ada pula Soto Lamongan, Soto Madura, dan Soto Sulung dari Jawa Timur. Kemudian di Jawa Tengah, ada Soto Kudus, Soto Sokaraja, dan Soto Pekalongan. Sementara di luar Jawa, ada Soto Makassar, Soto Banjar, Soto Barenang Polaweli-Mandar, Soto Manado, Soto Sasak dari Lombok, hingga Soto Padang dan Soto Medan.
Membahas soto memang jadi lapar, tapi tenang, karena beragam kuliner soto yang lezat-lezat bisa dipesan dari rumah secara mudah dan praktis lewat manisdansedap.com. Di platform yang menjadi bagian dari KLY (KapanLagi Youniverse) sebagai Digital Media Network yang juga menaungi Liputan6.com, Merdeka.com, KapanLagi.com, Dream.co.id, Brilio.id, Fimela.com, Bola.com, Bola.net, dan Otosia.com, siapa saja bisa pre-order beragam jenis soto sesuai selera. Termasuk beberapa di antaranya di bawah ini:
Soto Betawi
Soto Ayam Medan
Advertisement
Soto Lamongan Cak To
Mau pesan makanan lainnya? Tentu juga ada di manisdansedap. Sebab, selain memudahkan pecinta kuliner untuk menemukan dan memesan beragam menu pre-order (PO) dari berbagai daerah di Indonesia, platform ini pun hadir untuk para pemilik UMKM. Berperan sebagai 'etalase', para seller bisa memajang jualannya dan bisa melakukan transaksi terpisah dari platform, berkat fitur tombol pembelian langsung menuju ke nomor whatsapp seller.