PT KAI senantiasaconcerndalam melestarikan berbagai bangunan dalam wilayah kerjanya, khususnya yang berstatus bangunanheritage. Lawang Sewu adalah salah satu bangunan yang dirawat dan dikelola oleh PT KAI. Baru-baru ini Lawang Sewu Semarang berhasil tercatat dalam Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai Penyelenggara Pendukung Parade Busana Pengantin dengan variasi terbanyak.
Pencatatan rekor MURI yang dikukuhkan dalam bentuk piagam ini diterima oleh Manager Museum Management PT Kereta Api Indonesia (Persero), Sapto Hartoyo dandiserahkan oleh perwakilanMuseum Rekor Indonesia. Penyerahan piagam dilakukan pada acara Fashion Show Busana Pengantin di Borobudur Ballroom Pekan Raya Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah, jumat malam(31/7). Dengan didapatkannya pengakuan dari Museum Rekor Indonesia, Sapto berharap jumlah wisatawan yang berkunjung ke Lawang Sewu semakin meningkat seiring dengan prestasi yang berhasil didapatkan PT KAI. “Acara ini bisa menjadi salah satu sarana promosi untuk Lawang Sewu," tambah Sapto.
Lawang Sewu yang selalu identik dengan cerita mistis seakan sirna dengan banyaknya peragawan dan peragawati yang memakai busana pengantin, baik busana modern maupun tradisional. Sebanyak 135 vendor rias pengantin dengan 175 pasang busana pengantin mengikutipawai dari Lawang Sewu dan berakhir diPRPP Jawa Tengah, Semarang. Selain Lawang Sewu, parade busana pengantin ini juga melibatkan komunitas mobil mewah, komunitas motor gede (moge), bendi, dan mobil golf.Acara pembukaanparade yang digelar sore hari (31/7) di halaman Lawang Sewusebelum acara penerimaan piagam Muri ini merupakan kerjasama antara Museum Kereta Api dengan Mahkota Enterprise. Pelepasan peserta parade dilakukan oleh Sapto Hartoyo, ditandai dengan penyerahan secara simbolisWarak Ngendokkepada panitia penyelenggara.PT KAI tentu bangga dengan penghargaan ini, mengingat Lawang Sewu merupakan salah satu bangunanheritageyang dikelola dan dirawat oleh PT KAI. Bangunan bersejarah warisan zaman kolonial ini menjadi sumber ilmu pengetahuan tak hanya bagi kaum akademis, tapi juga bagi wisatawan. Arsitekturnya yang unik dan indah menyajikan pesona tersendiri, khususnya bagi para pecinta bangunanheritagemaupun fotografi.Lawang Sewu kini tak hanya sebagai museum, galeri, gedung pameran, tapi banyak juga pihak luar yang menyelenggarakan pagelaran musik dan pertemuan-pertemuan di gedung ini. Jika ingin mengunjungi Lawang Sewu, cukup dengan membayar Rp 10.000,- per orang dewasa dan Rp 5.000,- per anak, buka setiap hari pukul 08.00-21.00 WIB. Pada tahun 2014, tercatat 483.068 orang yang mengunjungi bangunan ‘seribu pintu’ ini.Ini menjadi salah satu bentuk pengabdian dan bukti tanggung jawab PT KAI untuk ikut melestarikan peninggalan bersejarah milik bangsa agar dapat dijadikan sumber pembelajaran dan dinikmati masyarakat Indonesia hingga lintas generasi.
Advertisement