Perjuangan 15 tahun merintis museum

Kisah perjuangan seorang budayawan yang mencoba mendobrak birokrasi untuk melindungi aset kebudayaan negeri.

Destriyana
Oleh Destriyana - Reporter
Perjuangan 15 tahun merintis museum
Dwi Cahyono. ©2012 Merdeka.com

Kemarin, Kamis (8/11), tim Merdeka.com memiliki kesempatan untuk berdiskusi dengan tokoh budayawan Malang, Dwi Cahyono. Dialah penggagas dan pelaksana festival tahunan Malang Tempo Doeloe, yang kini dikenal luas di seluruh Indonesia. Janjian bertemu pukul 09.00 WIB, Dwi akhirnya tiba 30 menit kemudian. Sembari melirik jam tangan hitam miliknya, sosok pria berkemeja putih itu langsung menggiring kami bertiga ke teras kayu. "Wah, sudah lama nunggu ya. Sebentar ya. Monggo duduk-duduk dulu," tandasnya. Kami pun saling melirik dan duduk terdiam. Lima menit kemudian, salah seorang dari kami mulai tak sabaran. Bukan karena menunggu sang narasumber yang lenyap di balik pintu. Ia tampak girang memainkan papan dakon usang yang dipajang di tengah teras. Ketika sedang asyik memindah biji-biji dakon, kami dikagetkan kedatangan seorang pramusaji yang hendak menyingkap pintu di belakang kursi. Engsel-engsel pintu berdecit cukup keras dan menimbulkan suara nyaring di langit-langit ruangan. Tak lama berselang, pria berkemeja putih itu kembali datang."Ayo silahkan masuk!" Ucapnya seraya menuntun kami memasuki rumah tua bergaya Jawa.Suasana ruangan itu sedikit senyap dan berbayang. Cahaya matahari tumpah di celah-celah jeruji jendela. Pandangan kami pun membentur temaram yang jatuh di atas bangku. Sikap ramah-tamah yang ditunjukkan oleh pria berkulit sawo matang itu membuat suasana yang semula kaku mencair seketika. Kami membuka obrolan santai dengan bertanya apa tujuan Dwi membuka Museum Malang Tempo Doeloe, yang dibangunnya dengan modal sendiri. Tanpa campur tangan pemerintah. "Tujuan akhirnya cuma satu, membangun Malang. Saya prihatin, ketika ada suatu pemerintahan tidak tahu cara membangun budaya sendiri. Kan tidak bisa asal bangun, tanpa terlebih dahulu tahu fondasi budaya kita," jawab Dwi sambil minta izin membuka ponsel bersabuk putih yang meraung-raung sejak beberapa menit lalu.

Kumpulkan aset budaya selama 15 tahunDiskusi kembali berlanjut, saat Dwi menutup sabuk ponselnya. Ia mulai menuturkan tentang perjuangannya selama 15 tahun untuk membangun museum, yang sekarang berdiri tepat di sebelah resto miliknya. Keluh dan kesah kian mendera budayawan berusia 46 tahun ini, tatkala mengenang susahnya mendobrak birokrasi yang alot. Selama 15 tahun pula, ia harus pasang badan untuk mengamankan barang-barang peninggalan sejarah yang dulunya dititipkan di restonya. "Saya hanya mengiventarisir dan menempatkan peninggalan sejarah ini pada posisi yang benar. Kita pun konsisten dengan upaya melindungi aset-aset budaya. Bahkan, sebagian besar barang-barang di museum itu dari hibah. Kita juga dapat data-datanya langsung dari Belanda dan beberapa peneliti asing yang ikut mengumpulkan data bersama kami," jelas Dwi saat ditemui di Rumah Makan Inggil, Kamis, (8/11).Keprihatinan Dwi terhadap kelesuan pemerintah dalam melindungi semua aset kebudayaan, semakin membulatkan tekadnya untuk mendirikan museum. Perjuangan tersebut tak berjalan semulus dibayangkan. Waktu, tenaga, dan materi harus direlakannya demi mengusung cita-cita mulia membangun rumah bagi budaya negeri yang termarginalkan. Konsep museum yang dianggapnya kuno tidak berhasil memenuhi ekspektasi masyarakat modern. Maka tak heran, jika banyak museum miskin pengunjung. Inilah masalah yang sedang dikritisi oleh Ketua Dewan Kesenian Malang tersebut."Selama 15 tahun, saya mempelajari 'Kenapa masyarakat tidak suka ke museum?'. Saya datangi beberapa museum di luar negeri sebagai perbandingan. Permasalahannya, ternyata bukan karena masyarakatnya yang tidak suka museum, tetapi packaging dari museum itu sendiri memang tidak menarik. Sangat tidak terkoneksi dengan kekinian," kritik tersebut disampaikannya secara lantang sebagai wujud kekecewaannya terhadap pengelolaan museum saat ini. Padahal dengan berkunjung ke museum, masyarakat bisa tahu bagaimana sejarah dan budaya bangsa. Kegigihan Dwi Cahyono dalam melestarikan warisan negeri bukan perjuangan yang mudah. Perjuangan itu 90 persennya rasa sakit, baru 10 persennya kenikmatan. Itulah kalimat yang sering diucapkannya. Tak ada kata menyerah untuk memperjuangkan nasib Indonesia yang tengah dirundung berbagai isu perpecahan dan korupsi yang merajalela. Kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, lantas kapan lagi.

Rekomendasi