Menurut Ahli Perceraian di AS, Bukan Selingkuh Tapi Kebiasaan Sepele Ini yang Bisa Picu Perceraian
Penyalahgunaan alkohol dan narkoba terbukti jadi faktor utama perceraian, melebihi perbedaan nilai, agama, atau usia pasangan.
Saat membahas penyebab perceraian, banyak orang cenderung mengira bahwa perselingkuhan, perbedaan nilai-nilai hidup, atau ketidakcocokan usia menjadi alasan utama di balik runtuhnya sebuah rumah tangga. Namun, sebuah temuan mengejutkan dari Amerika Serikat menyoroti faktor lain yang kerap diremehkan, namun memiliki dampak sangat besar: penggunaan zat adiktif atau penyalahgunaan alkohol dan narkoba.
James Sexton, salah satu pengacara perceraian terkemuka di AS, menyampaikan pengamatannya berdasarkan pengalaman menangani ribuan kasus perceraian. Dalam wawancara bersama The Diary Of A CEO podcast, Sexton menegaskan bahwa kebiasaan menggunakan alkohol atau zat adiktif secara berlebihan merupakan indikator kuat bahwa pernikahan berisiko berakhir di meja pengadilan.
“Jika satu atau kedua pasangan adalah pengguna berat alkohol atau narkoba, itu biasanya merupakan indikasi kuat bahwa pernikahan akan mengarah pada perceraian,” ujar Sexton.
Pernyataan ini sekaligus membantah anggapan umum bahwa perbedaan agama, ras, atau budaya merupakan pemicu utama perceraian. Menurut Sexton, pola-pola semacam itu justru tidak menunjukkan kecenderungan kuat dalam data dan kasus-kasus nyata.
Ketika Zat Adiktif Mengikis Pondasi Pernikahan
Penggunaan zat adiktif, baik alkohol maupun narkoba, ternyata lebih dari sekadar kebiasaan buruk. Menurut Neha Cadabam, seorang psikolog senior dan direktur eksekutif di Cadabams Hospitals, kebiasaan ini secara signifikan mengganggu komunikasi dan keintiman emosional dalam hubungan pernikahan.
“Ketika satu atau kedua pasangan sering menggunakan zat adiktif, itu dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrem, penurunan kemampuan berpikir jernih, dan kesulitan dalam menjaga komunikasi yang terbuka dan jujur,” ungkap Cadabam.
Lama-kelamaan, kata Cadabam, hal ini akan mengikis rasa saling percaya dan membuat resolusi konflik menjadi semakin sulit. Dalam banyak kasus, pasangan yang terlibat dalam penyalahgunaan zat lebih cenderung menghindari konflik daripada menyelesaikannya, menciptakan siklus penghindaran dan dendam yang terus berulang.
Lebih dari itu, keintiman emosional yang menjadi fondasi sebuah pernikahan sehat juga mengalami penurunan drastis. Prioritas yang berubah — dari pasangan hidup menjadi zat adiktif — menyebabkan pasangan merasa diabaikan, terasing, dan kehilangan kedekatan yang dulu pernah ada.
“Hubungan berubah dari saling mendukung menjadi hubungan yang penuh keterasingan, kesalahpahaman, dan jarak emosional yang terus membesar. Akhirnya, kondisi ini dapat mengarah langsung pada perceraian,” tambahnya.
Tanda-Tanda Awal yang Harus Diwaspadai
Sebagaimana penyakit yang membutuhkan deteksi dini agar tidak memburuk, kehancuran rumah tangga akibat penyalahgunaan zat juga dapat dicegah jika tanda-tandanya dikenali sejak awal. Cadabam menjabarkan beberapa gejala awal yang dapat menjadi sinyal bahaya dalam hubungan:
- Kebiasaan minum atau mengonsumsi zat menjadi sumber konflik yang berulang.
- Salah satu pasangan mulai menyembunyikan kebiasaan konsumsinya.
- Muncul perubahan perilaku seperti mudah marah, menarik diri, atau tidak dapat diandalkan.
- Masalah keuangan mulai muncul akibat pengeluaran untuk membeli zat tersebut.
- Penurunan kualitas dalam aktivitas bersama maupun keintiman.
Gejala-gejala ini kerap dianggap sepele atau hanya fase sesaat. Padahal, ketika dibiarkan, dampaknya dapat merusak secara permanen struktur hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Harapan untuk Pemulihan: Mungkin, Tapi Butuh Komitmen Bersama
Meski kondisi rumah tangga terasa berat, bukan berarti tak ada jalan keluar. Cadabam menekankan bahwa pemulihan tetap mungkin dilakukan, selama kedua belah pihak memiliki komitmen kuat untuk berubah dan terbuka dalam proses penyembuhan.
“Pasangan yang berhasil melewati tantangan ini biasanya melakukannya melalui komunikasi terbuka, terapi, dan menetapkan batasan yang jelas terkait penggunaan zat,” jelasnya.
Mereka yang menghadapi masalah penyalahgunaan zat sangat dianjurkan untuk mencari bantuan profesional, baik melalui terapis kecanduan, konseling pasangan, maupun kelompok pendukung seperti Alcoholics Anonymous atau Al-Anon.
Namun, langkah pertama yang tak kalah penting adalah kesadaran akan adanya masalah. Tanpa pengakuan dari pihak yang terlibat dalam kecanduan, proses penyembuhan akan sangat sulit dicapai.
“Pemulihan hanya mungkin terjadi jika individu yang mengalami kecanduan mengakui bahwa dirinya memiliki masalah dan bersedia melakukan perubahan,” tegas Cadabam.
Belajar dari Pengalaman: Menjaga Pernikahan di Tengah Tantangan
Pernikahan adalah komitmen jangka panjang yang tentu akan diuji oleh berbagai tantangan. Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh para ahli, salah satu tantangan paling serius dan kerap tersembunyi adalah penyalahgunaan zat.
Penting bagi pasangan untuk saling menjaga, tidak hanya secara fisik tetapi juga emosional. Komunikasi yang jujur, empati, serta dukungan dalam menghadapi masalah kecanduan dapat menjadi faktor pembeda antara perceraian dan pemulihan.
Dengan mengenali bahaya penggunaan zat sejak dini dan meresponsnya secara bijak, pasangan dapat menghindari jurang perceraian dan justru memperkuat pondasi rumah tangga mereka.