Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kartolo: Saya bukan pemain ludruk

Kartolo: Saya bukan pemain ludruk Kartolo. ©2012 Merdeka.com/ Dwi Andi Susanto

Merdeka.com - Siapa yang tak kenal dengan Kartolo? Seorang pelawak dan pemain ludruk dari Pasuruan, Jawa Timur. Kartolo memulai karirnya dalam dunia seni ludruk sejak tahun 1960-an. Namun, tak disangka pernyataan mengejutkan keluar dari pemain ludruk terkenal ini.

"Saya ini kan bukan pemain ludruk," ungkapnya ketika ditemui Merdeka.com pada salah satu pagelaran ludruk yang diadakan Menkominfo di Pendopo Kabupaten Malang, Sabtu (13/10).

"Saya memang bermain ludruk, namun sejak tahun 1980-an sudah ada di lawak," jelasnya.

Meski sudah aral melintang dan membesarkan namanya di dunia ludruk, namun tampaknya Kartolo sudah tak mau dirinya disebut sebagai pemain ludruk, melainkan sebagai pelawak. Hal ini karena menurut pahamnya lawak dan ludruk adalah dua kesenian lokal yang berbeda.

Lawak hanya dilakukan oleh beberapa orang dan berisikan lawakan atau lelucon. Sementara ludruk adalah kesenian tradisional yang terdiri atas beberapa bagian, antara lain tarian remo di awal, lawakan, kemudian drama yang membuat penonton tertawa. Jumlah pemain ludruk pun tak bisa hanya sedikit.

Setidaknya ludruk harus dimainkan oleh kelompok yang terdiri atas pemain karawitan, sinden, penari remo, pemain ludruk, dan pelawak itu sendiri. Dalam satu kelompok ludruk, jumlah pemain bisa mencapai 50 orang.

Namun, hal berbeda diungkapkan oleh maestro ludruk lainnya yang berasal dari Malang yaitu Suyono. Seniman ludruk yang juga disebut sebagai senior dari Kartolo ini memiliki pendapat berbeda mengenai ludruk dan lawak. Menurut Suyono, pelawak sama saja dengan ludruk.

"Ya sama saja, lawak kan juga bagian dari acara ludruk. Bagian terpenting dari ludruk adalah tarian remo. Kalau ada remo, meskipun jumlah personil ludruk sedikit, tetap saja dinamakan ludruk," papar pria yang akrab dipanggil Yono ini pada Merdeka.com, Senin (15/10).

Meski terdapat perbedaan persepsi di antara seniman mengenai ludruk dan lawak, hal ini tak mengurangi kecintaan dan usaha mereka untuk terus melestarikan budaya lokal tanah air. (mdk/kun)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP