Alasan Dibalik Perayaan Tahun Baru Imlek yang Selalu Hujan, Benarkah Membawa Berkah?

Alasan dibalik perayaan tahun baru Imlek yang identik dengan hujan, benarkah membawa berkah?

Natasa Kumalasah Putri
Oleh Natasa Kumalasah Putri - Reporter
Alasan Dibalik Perayaan Tahun Baru Imlek yang Selalu Hujan, Benarkah Membawa Berkah?
Barongsai jadi salah satu tradisi dalam Imlek (dok.Pexels/Vladislav Vasnetsov) (© 2025 Liputan6.com)

Perayaan Tahun Baru China atau Imlek saat ini sangat dinanti oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Hari besar ini memiliki makna yang dalam dan menjadi kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul. Penentuan tanggal perayaan ini mengikuti sistem penanggalan Kalender China, yang dikenal sebagai Kalender Lunar.

Sistem ini memadukan pergerakan Bulan dan Matahari, berbeda dengan penanggalan Masehi yang berfokus pada perputaran Matahari. Oleh karena itu, tanggal perayaan Imlek berubah setiap tahunnya dalam kalender Masehi.

Pada tahun ini, perayaan Imlek akan berlangsung pada Rabu, 29 Januari 2025, yang menandai tahun ke-2576 Kongzili. Perayaan ini juga ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan SKB 3 Menteri Nomor 1017 Tahun 2024, 2 Tahun 2024, dan 2 Tahun 2024.

Setiap tahun dalam kalender Lunar diwakili oleh salah satu dari 12 zodiak hewan atau shio yang dianggap membawa makna keberuntungan terkait nasib dan kehidupan seseorang. Untuk tahun ini, Imlek 2025 diwakili oleh Shio Ular dari elemen Kayu, yang muncul sekali dalam setiap siklus 60 tahun.

Dalam perayaan ini, terdapat kepercayaan-kepercayaan khusus yang dipegang oleh masyarakat Tionghoa. Selain itu, Imlek sering kali diasosiasikan dengan musim hujan, yang memiliki makna tersendiri dan alasan mengapa perayaan ini sangat identik dengan musim tersebut.

Perayaan Imlek sangat dinanti oleh masyarakat Tionghoa, khususnya bagi umat Konghucu. Bagi mereka, Imlek merupakan waktu untuk mengungkapkan rasa syukur atas berbagai hal yang telah diterima. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, hujan yang turun saat Imlek dianggap sebagai simbol keberuntungan dan berkah.

Mengutip dari The Daily, dalam mitologi Tiongkok, naga dipandang sebagai makhluk suci yang dihormati dan sering diasosiasikan dengan air serta hujan. Naga diyakini memiliki kemampuan untuk mengatur curah hujan dan sering kali dipanggil dalam upacara untuk mendatangkan hujan, terutama di saat musim kemarau. Keterkaitan antara naga dan hujan semakin menguatkan makna hujan sebagai pertanda baik.

Hujan juga dipercaya sebagai tanda bahwa kekuatan dari langit memberikan berkah kepada bumi. Selain itu, terdapat banyak penafsiran yang bisa berbeda-beda antara daerah dan komunitas. Namun secara umum, hujan yang terjadi pada Tahun Baru Imlek dianggap sebagai pertanda keberuntungan dalam budaya Tiongkok, melambangkan kemakmuran, pembaruan, dan pengaruh positif.

Hujan yang turun saat perayaan Imlek tidak hanya dianggap sebagai tanda keberuntungan, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan prinsip Yin dan Yang. Dalam pandangan Feng Shui, hujan dianggap sebagai berkah yang membawa keseimbangan bagi alam. Fenomena hujan ini berfungsi sebagai penyeimbang bagi sinar matahari, sekaligus menjadi simbol energi air yang mengisyaratkan bahwa sungai kembali terisi dan tanah kembali subur.

Selain itu, literatur dari Association of Asian Studies mengemukakan bahwa konsep Yin melambangkan berbagai aspek seperti lambat, lembut, feminin, dingin, basah, menyebar, dan pasif. Aspek-aspek ini berkaitan erat dengan elemen bumi, bulan, air, serta feminitas dan malam, sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan air sering kali memiliki makna sakral dalam kepercayaan umat Konghucu, terutama saat perayaan Imlek.

Perayaan Tahun Baru Imlek ditentukan berdasarkan sistem penanggalan kalender Cina atau Lunar. Oleh karena itu, setiap tahunnya, perayaan ini selalu berlangsung antara tanggal 21 Januari hingga 21 Februari. Pada tahun ini, Tahun Baru Imlek akan dirayakan pada tanggal 29 Januari 2025.

Menurut prakiraan dari BMKG mengenai musim hujan tahun 2024/2025, bulan Januari adalah periode hujan di Indonesia. Prakiraan ini cenderung konsisten setiap tahun, di mana puncak musim hujan di Indonesia biasanya terjadi pada awal tahun.

BMKG juga menyatakan bahwa puncak musim hujan di Indonesia diprediksi berlangsung antara bulan Januari hingga Februari. Oleh sebab itu, perayaan Tahun Baru Imlek tidak dapat dipisahkan dari musim hujan, terutama di Indonesia. Kehadiran hujan saat Imlek bahkan menjadi ciri khas yang diakui oleh masyarakat Indonesia.

Rekomendasi