Aroma daging yang dipanggang di atas arang perlahan memenuhi ruangan begitu seseorang melangkah masuk ke restoran ini. Di tengah ruangan, sebuah meja panggang menjadi pusat perhatian. Para tamu duduk mengelilinginya, menyaksikan langsung proses memasak hidangan utama: hamburg yang dipanggang satu per satu.
Restoran asal Tokyo, Hikiniku to Come, membuka gerai pertamanya di Jakarta pada Maret 2026 di Pondok Indah Mall 5. Konsep yang diusung sederhana, tetapi menghadirkan pengalaman bersantap yang berbeda—hamburg segar yang dipanggang tepat di hadapan tamu.
Area duduk dirancang seperti teater kecil dengan panggangan di tengah. Para koki membentuk daging giling menjadi patty, lalu memanggangnya di atas arang dengan waktu dan panas yang presisi. Proses ini bukan sekadar memasak, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman makan itu sendiri. Aroma daging yang perlahan matang, suara panggangan, hingga percakapan ringan antara koki dan tamu membangun suasana yang hangat.
Restoran ini didirikan oleh Shohei Yamamoto di kawasan Kichijoji, Tokyo, pada 2020. Ia mengaku sejak lama menyukai hidangan hamburg—steak daging giling yang populer di Jepang dan berbeda dari hamburger ala Barat.
"Saya selalu menyukai hamburg. Tapi saya jarang menemukan restoran yang menyajikannya benar-benar segar setelah dipanggang," ujar Yamamoto saat ditemui di Jakarta. "Biasanya pengalaman itu hanya bisa didapatkan ketika memasak sendiri di rumah. Dari situ saya berpikir, seharusnya orang bisa menikmati freshly grilled hamburg di restoran juga."
Dari gagasan tersebut lahirlah konsep just made moments, yaitu pengalaman menyantap hidangan yang dibuat dan disajikan langsung saat itu juga.
Di restoran ini, hidangan utama disajikan dalam satu set nasi hamburg. Patty daging wagyu dipanggang bertahap dan disajikan hangat bersama nasi Jepang yang dimasak menggunakan hagama pot, teknik memasak nasi tradisional Jepang yang menghasilkan nasi pulen dengan aroma khas.
Teknik memasak ini juga menciptakan lapisan tipis kerak nasi yang renyah di bagian bawah panci, yang dalam tradisi Jepang dikenal sebagai okoge. Tekstur ini sering menjadi kejutan kecil bagi penikmat nasi hangat yang baru dimasak.
Menurut Yamamoto, kualitas hidangan dijaga melalui tiga prinsip yang ia sebut Just Ground, Just Grilled, dan Just Cooked. Daging wagyu digiling segar setiap pagi, dipanggang langsung di hadapan tamu, lalu disajikan bersama nasi yang dimasak secara kontinu sepanjang hari.
Popularitas restoran ini di Jepang berkembang pesat sejak pertama kali dibuka di Tokyo. Empat gerainya di Jepang dikenal sering dipenuhi antrean pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara.
Ekspansi ke luar Jepang kemudian dilakukan ke sejumlah negara di Asia seperti Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, Thailand, Filipina, dan China, sebelum akhirnya hadir di Indonesia.
Di Jakarta, restoran ini dibawa oleh Boga Group, perusahaan jaringan restoran yang telah beroperasi lebih dari dua dekade di industri kuliner Indonesia.
Presiden Direktur Boga Group, Kusnadi Rahardja, mengatakan ia pertama kali mengenal restoran ini dari rekomendasi teman-temannya.
"Saya akhirnya pergi ke Jepang untuk mencobanya langsung. Pengalaman makan hamburg yang dipanggang satu per satu itu terasa berbeda," ujarnya.
Advertisement
Alih-alih menghadirkan banyak pilihan menu, restoran ini memilih fokus pada satu hidangan utama: Hamburg Rice Set. Konsep tersebut, menurut Kusnadi, justru menjadi kekuatan restoran ini.
"Bukan soal banyaknya pilihan menu, tetapi bagaimana satu hidangan bisa disiapkan dengan sangat baik," katanya.
Advertisement
Selain hidangan, suasana yang dihadirkan juga menjadi bagian dari pengalaman bersantap. Para tamu dapat berbincang langsung dengan staf yang memasak di depan mereka, menciptakan interaksi yang terasa lebih personal sesuatu yang sering ditemui dalam budaya pelayanan restoran di Jepang.
Bagi sebagian orang, pengalaman ini mungkin terasa seperti menyaksikan pertunjukan kecil di meja makan: daging dipanggang perlahan, nasi hangat mengepul, dan hidangan disajikan satu per satu dalam suasana yang tenang.
Di tengah banyaknya restoran yang menawarkan menu beragam, pendekatan sederhana dengan fokus pada satu hidangan justru menjadi cara berbeda untuk menikmati pengalaman makan.