Ulama Syiah berpengaruh di Irak tinggalkan dunia politik
Merdeka.com - Ulama Syiah Irak, Moqtada al-Sadr, pemimpin sebuah gerakan politik berpengaruh dan seorang tokoh penting dalam pembentukan Irak setelah Saddam Hussein, mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia politik dua bulan sebelum pemilihan legislatif.
"Saya mengumumkan saya tidak akan melakukan intervensi dalam semua masalah politik dan tidak ada blok yang mewakili kami sejak sekarang, tidak akan ada posisi di dalam atau di luar pemerintah maupun parlemen," kata Sadr dalam sebuah pernyataan tertulis yang diterima AFP, seperti dilansir situs asiaone.com, Ahad (16/2).
Kelompok Sadr kini menguasai enam jabatan kabinet serta 40 kursi di parlemen yang memiliki 325 kursi itu.
Dia juga mengatakan kantor-kantor politik gerakannya akan ditutup, tetapi yang lainnya berkaitan dengan kesejahteraan sosial, media, dan pendidikan akan tetap buka.
Tidak dijelaskan dengan segera apakah keputusan itu bersifat sementara atau permanen, di mana para pejabat kelompok Sadr terkejut dengan pengumuman mengatakan mereka tidak berada dalam posisi mengklarifikasikan.
Seorang pejabat dari kantor Sadr mengemukakan tidak seorang pun ingin mendiskusikan masalah ini karena itu adalah sebuah keputusan yang mengejutkan.
"Saya kira tidak akan dicabut, karena itu adalah sebuah keputusan yang sangat kuat," ujar pejabat tidak disebutkan identitasnya itu.
Jika dikonfirmasikan sebagai penutupan permanen, pengumuman Sadr itu membawa pada berakhirnya karir politik yang berlangsung selama lebih dari satu dasawarsa.
Karirnya dimulai dengan kritikan tajamnya terhadap invasi pimpinan Amerika Serikat atas Irak, di mana gerakannya akhirnya memperoleh kursi di parlemen, jabatan kabinet dan memainkan tokoh politik.
Milisi Tentara Mahdi yang dipimpin Sadr juga berulang kali terlibat pertempuran dengan pasukan Amerika dan memainkan peran penting dalam konflik sektarian yang kejam antara kelompok Sunni dan Syiah, yang menewaskan puluhan ribu orang.
Sadr menangguhkan kegiatan milisi itu pada 2008 setelah pertempuran besar melawan pasukan keamanan Irak dan Amerika.
Sadr mengatakan keputusan untuk meninggalkan dunia politik dibuat berdasarkan sudut pandang hukum Islam dan memelihara reputasi yang dihormati bagi Sadr, terutama bagi dua syuhadawan Sadr, mengacu pada ayahnya dan seorang anggota keluarganya yang tewas selama kekuasaan Saddam Hussein.
Tindakan itu juga bertujuan untuk mengakhiri semua korupsi yang telah berlangsung atau yang kemungkinan akan terjadi, yang dapat merusak reputasi Sadr. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya