Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik keras terhadap Presiden Israel Isaac Herzog.
Trump menyebut Herzog sebagai sosok yang lemah dan tidak berguna, serta menuduhnya berbohong terkait janji pemberian pengampunan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Dalam wawancara dengan Channel 14 Israel, Trump mengklaim Herzog beberapa kali mengatakan akan memberikan pengampunan kepada Netanyahu.
“Ia mengatakan kepada saya berkali-kali bahwa ia akan mengampuni Netanyahu, tapi itu tidak benar. Ia berbohong,” ujar Trump dikutip Middle East Monitor, Senin (23/3/2026).
Ia juga menambahkan bahwa Herzog “bukan seorang pemimpin”. Trump menilai proses hukum yang sedang dihadapi Netanyahu justru mengganggu fokus pemerintahan Israel di tengah konflik yang berlangsung.
“Bibi harus fokus pada perang, bukan hal-hal yang tidak penting,” katanya, merujuk pada panggilan akrab Netanyahu.
Advertisement
Sebelumnya, Trump juga pernah menyebut Herzog sebagai sosok yang “lemah dan tidak berguna”, serta menuding isu pengampunan digunakan sebagai alat politik.
Namun, seorang pejabat senior Israel membantah klaim tersebut. Ia menyatakan Herzog tidak pernah menjanjikan pengampunan kepada Netanyahu, dan hanya menyampaikan bahwa setiap permintaan akan dipertimbangkan sesuai prosedur hukum yang berlaku.
Netanyahu sendiri saat ini menghadapi sejumlah dakwaan korupsi yang telah berlangsung lama. Ia dituduh menerima berbagai keuntungan, termasuk hadiah dan dukungan, sebagai imbalan atas kebijakan regulasi, langkah legislasi, serta dukungan diplomatik kepada pengusaha dan pemilik media.
Terkait konflik dengan Iran, Trump tidak memberikan penjelasan rinci mengenai kemungkinan langkah militer selanjutnya. Ia enggan memastikan apakah pasukan AS akan menargetkan atau menguasai infrastruktur minyak dan gas Iran.
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sendiri telah berlangsung sejak 28 Februari. Serangan gabungan AS dan Israel dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Jordan, Iraq, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi fasilitas militer Amerika Serikat.