Suriah anggap AS dan Israel dalang gejolak di Iran

Selasa, 2 Januari 2018 17:13 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Suriah anggap AS dan Israel dalang gejolak di Iran Demo antipemerintah di Iran. ©REUTERS

Merdeka.com - Unjuk rasa besar-besaran sudah berlangsung selama enam hari di Iran membuat sekutunya, Suriah, bersimpati. Mereka menyatakan tetap mendukung rezim Presiden Hassan Rouhani, dan menuduh Israel serta Amerika Serikat ada di balik gejolak itu.

"Suriah yakin kepemimpinan, pemerintah, dan rakyat Iran bisa mengalahkan konspirasi," demikian pernyataan disampaikan Kementerian Luar Negeri Suriah, dilansir dari laman Associated Press, Selasa (2/1).

Pemerintah Suriah menyatakan kedaulatan Iran harus dihormati dan tidak boleh ada pihak asing ikut campur terkait urusan dalam negeri Iran.

Suriah merupakan sekutu paling kuat Iran di Jazirah Arab. Iran juga menjadi pendukung utama rezim Presiden Suriah, Basyar al-Assad, saat konflik meletup di negara itu pada 2011, dengan menggelontorkan bantuan uang jutaan dolar buat menopang ekonomi.

Pemerintah Iran juga menebar ancaman terhadap aksi unjuk rasa besar-besaran sudah terjadi sejak 28 Desember 2017. Mahkamah Revolusi Iran menggertak bakal menjerat demonstran dengan hukuman mati jika berkeras melanjutkan aksinya.

Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Mahkamah Revolusi Iran, Musa Ghazanfarabadi. Dia menyatakan para pengunjuk rasa bisa dijerat dengan delik memerangi agama.

"Jelas salah satu delik yang akan disangkakan terhadap para pengunjuk rasa adalah Muharabah. Yaitu memerangi agama dan Tuhan. Hukumannya mati," kata Ghazanfarabadi.

Menurut Ghazanfarabadi, sejumlah pengunjuk rasa tertangkap bakal segera diadili. Mereka dituduh membahayakan keamanan negara dan merusak fasilitas umum.

Kabarnya hingga saat ini aparat keamanan Iran sudah menangkap 450 orang pengunjuk rasa di Ibu Kota Tehran. Menurut Wakil Gubernur Tehran bidang keamanan, Ali Asghar Nasserbakht, aparat menangkap 350 pengunjuk rasa pada Sabtu dan Minggu pekan lalu. Kemudian seratus demonstran lain pada Senin kemarin juga ditangkap.

Aksi unjuk rasa besar-besaran di Iran terjadi sejak Kamis pekan lalu. Demonstrasi itu bermula di Kota Mashhad. Mulanya mereka menuntut perbaikan ekonomi. Namun, aspirasi diusung lantas berubah menjadi menentang pemerintah. Aksi itu lantas menyebar ke sejumlah kota lain, hingga Ibu Kota Tehran.

Para pengunjuk rasa mengusung sejumlah permasalahan dan aspirasi. Mereka mengkritik kepemimpinan Rouhani yang tetap bersikap represif terhadap lawan politik, perilaku korupsi, ekonomi, hingga kebijakan luar negeri Iran. Insiden serupa pernah terjadi pada 2009 lalu, ketika masa pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Pemerintah Iran juga menutup akses Internet, membuat sejumlah media sosial tidak beroperasi. Ternyata pidato Presiden Hassan Rouhani belum mampu meredam gejolak aksi unjuk rasa di Iran. Massa demonstran terus berada di jalan menuntut aspirasi mereka didengar.

Aksi unjuk rasa terjadi di sejumlah kota di Iran seperti Izah, Karmansyah, Kharramabad, Shahinshahr, dan Zanjan. Di Kota Takestan, pendemo justru membakar sebuah pesantren dan gedung pemerintah setempat. [ary]

Baca juga:
Iran menggertak bakal menghukum mati pengunjuk rasa
Iran menggertak bakal menghukum mati pengunjuk rasa
Netanyahu puji rakyat Iran yang berani turun ke jalan gelar demo
Menteri Israel doakan rakyat Iran 'sukses' gelar demo antipemerintah
Polisi Iran tewas ditembak di tengah demonstrasi antipemerintah
Alasan ekonomi dan politik di balik unjuk rasa besar di Iran

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini