Sebut Imigran sebagai Awal Kehancuran Jerman, Menantu Donald Trump Dikecam

Jumat, 26 April 2019 16:21 Reporter : Hari Ariyanti
Sebut Imigran sebagai Awal Kehancuran Jerman, Menantu Donald Trump Dikecam Lara Trump. ©2019 Business Insider

Merdeka.com - Selama krisis imigran tahun 2015 di Eropa, Kanselir Jerman Angela Merkel mengeluarkan kebijakan pintu terbuka untuk ratusan ribu imigran dari Timur Tengah dan Afrika yang datang ke Jerman. Kebijakan itu didiskusikan Lara Trump dan pembawa acara Fox Business Network, Stuart Varney, saat membahas kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terhadap migran Amerika Tengah.

Lara Trump adalah menantu Donald Trump. Lara adalah istri Eric Trump yang juga merupakan penasihat kampanye Trump saat Pilpres 2016 lalu. Dalam acara itu, Lara menyatakan kebijakan Merkel menerima imigran ke negaranya adalah salah satu hal buruk yang pernah terjadi di Jerman dan akan menjadi awal kehancuran negara itu.

Stuart Varney mengacu pada gelombang pencari suaka di Eropa saat berdiskusi dengan Lara Trump tentang gelombang imigran dari Amerika Latin, yang sedang dalam perjalanan menuju perbatasan AS dan yang juga baru-baru ini dirazia otoritas imigrasi Meksiko.

Menurut Lara Trump, mertuanya berupaya mencegah hal terburuk di AS, sebagaimana yang terjadi di Jerman akibat kebijakan Merkel. Menurutnya, Kongres harus melakukan hal yang tepat untuk warga Amerika.

Lara Trump juga mengacu pada situasi para imigran di Jerman yang disebutnya sebagai hal terburuk. Pernyataan Lara Trump ini pun menuai kecaman dan sindiran di Twitter.

"Cek Fakta: Tidak benar," tulis pemilik akun @xhorsechestnutx, dilansir dari laman Sputnik News, Jumat (26/4).

Sementara itu, pemilik akun @TheChrisSuprun menyindir Lara Trump bahwa cara pandangnya telah membuka ruang untuk berbagai kekejaman terhadap kemanusiaan.

"#BREAKING: @LaraLeaTrump berpendapat Merkel menerima migran 'salah satu hal terburuk yang pernah terjadi di Jerman'. Bukan Auschwitz. Bukan Dachau. Bukan pembunuhan massal. Kami katakan #TakAkanLupa. Kami katakan #JanganTerulangLagi, tapi ini adalah pola pikir yang mengizinkan berbagai kekejaman tersebut," cuitnya.

Di bawah kebijakan pintu terbuka yang dicanangkan Merkel, Jerman menjadi salah satu negara yang paling terdampak krisis migran di Eropa, sejak 2015. Negara ini menerima ratusan ribu migran, meskipun selama bertahun-tahun jumlah imigran menurun drastis.

Kebijakan pengungsi telah menjadi salah satu topik paling kontroversial bagi pemerintahan Merkel di tengah laporan kejahatan yang diduga dilakukan pengungsi dan pencari suaka, serta perdebatan tentang pendanaan sistem kesejahteraan bagi migran. Tahun lalu, sebuah studi Universitas Leipzig mengungkapkan, hampir seperempat responden di Jerman memiliki sikap negatif terhadap migran. Sebanyak 36 persen dari mereka yang ditanya setuju dengan pendapat bahwa orang asing hanya datang ke Jerman untuk mengambil keuntungan, sementara lebih dari seperempat responden setuju akan mengirim orang asing kembali ke negara asal mereka jika kesempatan kerja menjadi lebih langka.

Selain itu, 56 persen mendukung pernyataan bahwa mereka merasa seperti orang asing di negara mereka sendiri karena masuknya imigran. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini