Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI, Johan Rosihan, menyatakan bahwa identitas budaya Tau Samawa merupakan bagian tidak terpisahkan dari kekayaan kebudayaan nasional. Pernyataan ini disampaikan dalam sarasehan kebudayaan bertema "Budaya dan Identitas Tau Samawa" di Mataram, Sabtu. Acara tersebut dihadiri oleh 150 peserta dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat, akademisi, budayawan, mahasiswa, serta pegiat budaya.
Menurut Johan Rosihan, MPR RI memandang kebudayaan sebagai elemen krusial dalam penguatan karakter bangsa. Ia menekankan pentingnya ruang dialog seperti sarasehan untuk mendokumentasikan nilai-nilai lokal. Hal ini dilakukan agar nilai-nilai tersebut dapat dikaji secara ilmiah dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Keberagaman budaya dianggap sebagai kekuatan utama bangsa Indonesia. MPR RI memiliki kepentingan agar nilai-nilai lokal, seperti yang dimiliki masyarakat Tau Samawa, terus hidup. Nilai-nilai ini diharapkan menjadi bagian integral dari pembangunan karakter kebangsaan.
Advertisement
Advertisement
MPR RI dan Penguatan Karakter Bangsa
Johan Rosihan, yang juga Anggota DPR RI dari Dapil NTB 1 Pulau Sumbawa, menegaskan komitmen MPR RI terhadap pelestarian budaya. Ia menjelaskan bahwa "tau" berasal dari bahasa Sumbawa yang berarti orang atau manusia, dan "samawa" adalah sebutan untuk daerah Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB). Sarasehan ini menjadi wadah penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk berdiskusi dan bertukar pikiran.
Pentingnya sarasehan kebudayaan ini terletak pada fungsinya sebagai ruang dialog yang berkelanjutan. Melalui dialog semacam ini, nilai-nilai lokal dapat didokumentasikan dengan baik. Proses ini memungkinkan kajian ilmiah yang mendalam terhadap kekayaan budaya daerah Tau Samawa.
Warisan budaya lokal diharapkan dapat terus diturunkan kepada generasi penerus. Ini sejalan dengan visi MPR RI untuk menjadikan nilai-nilai lokal sebagai fondasi karakter bangsa. Penguatan karakter ini menjadi vital dalam menghadapi berbagai tantangan globalisasi dan modernisasi.
Advertisement
Advertisement
Identitas Tau Samawa: Proses Sosial yang Dinamis
Akademisi Rusli Cahyadi memberikan perspektif mendalam mengenai identitas Tau Samawa. Ia menyatakan bahwa identitas ini bukanlah sesuatu yang bersifat statis ataupun semata-mata diwariskan karena kelahiran. Pandangan ini mengacu pada penelitian antropolog Peter R. Goethals mengenai Desa Rarak di Sumbawa.
Rusli menjelaskan bahwa identitas dipahami sebagai proses sosial yang terus dibangun secara berkelanjutan. Proses ini terjadi melalui keterlibatan aktif seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian Goethals mengidentifikasi sedikitnya dua belas indikator penting yang menunjukkan seseorang menjadi bagian dari komunitas.
Indikator tersebut mencakup hubungan kekerabatan, kepemilikan tanah, dan keterlibatan dalam pertanian. Selain itu, aktivitas keagamaan dan partisipasi dalam kewajiban sosial juga menjadi penentu. Contoh kewajiban sosial adalah ronda, pembayaran pajak, serta keterlibatan dalam kehidupan adat.
Advertisement
"Keseluruhan unsur tersebut menunjukkan bahwa identitas budaya lahir dari praktik hidup sehari-hari, bukan sekadar status administratif," tegas Rusli. Ia juga mengangkat konsep lokal "Satama Djiwa dalam Karang. Nyenan," yakni ungkapan yang menggambarkan seseorang telah "memasukkan jiwanya" ke dalam komunitas.
Konsep ini menunjukkan bahwa penerimaan sebagai bagian dari masyarakat diperoleh melalui pengabdian, keterlibatan, dan pengakuan sosial. Dengan demikian, identitas budaya merupakan sesuatu yang terus dinegosiasikan dalam kehidupan bersama.
Advertisement
Kebudayaan Tau Samawa sebagai Fondasi Masa Depan
Seniman Sumbawa, Iqbal Sanggo, turut memberikan pandangannya mengenai kebudayaan Tau Samawa. Ia menekankan bahwa budaya ini tidak boleh hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Sebaliknya, kebudayaan Tau Samawa harus menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan.
Inspirasi ini penting untuk membangun masa depan yang lebih baik dan berkarakter. Nilai gotong royong, penghormatan terhadap adat, religiusitas, dan solidaritas sosial sangat relevan. Nilai-nilai ini merupakan modal budaya yang harus diwariskan kepada generasi muda.
Modal budaya tersebut penting agar tetap relevan menghadapi tantangan globalisasi yang semakin kompleks. Iqbal mengingatkan bahwa modernisasi bukanlah alasan untuk meninggalkan identitas lokal. Sebaliknya, masyarakat perlu menjadikan kebudayaan sebagai fondasi.
Advertisement
Fondasi tersebut berfungsi dalam membangun karakter sekaligus memperkuat daya saing daerah di tengah perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat. Ini menunjukkan bahwa budaya memiliki peran strategis dalam pembangunan berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews