Warga Palestina berkumpul di lokasi serangan udara Israel di sekolah Abu Oreiban yang dikelola oleh UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi) di Kamp Nuseirat pada Minggu (14/7/2024). Serangan tersebut terjadi di tengah konflik yang terus memanas antara Israel dan Hamas. Foto: REUTERS / Ramadan Abed
Advertisement
Sekolah Abu Oreiban telah dijadikan tempat pengungsian bagi ratusan warga Palestina yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat eskalasi kekerasan di Jalur Gaza. Foto: REUTERS / Ramadan Abed
Advertisement
Namun, tempat yang seharusnya menjadi perlindungan ini justru menjadi sasaran serangan udara yang mematikan. Foto: REUTERS / Ramadan Abed
Menurut keterangan yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Gaza, serangan udara terbaru dari Israel ini telah mengakibatkan 15 pengungsi Palestina tewas dan 70 orang lainnya terluka. Foto: REUTERS / Ramadan Abed
Advertisement
Direktur Rumah Sakit Al-Awda menambahkan bahwa 70 persen dari korban tewas terdiri dari anak-anak dan perempuan, menambah kedukaan yang mendalam bagi komunitas yang sudah sangat menderita. Foto: REUTERS / Ramadan Abed
Laporan juga menyebutkan bahwa serangan terhadap sekolah-sekolah di Gaza bukanlah hal yang baru.
Pada 10 Juli, tercatat bahwa ada empat sekolah yang ditargetkan oleh serangan Israel hanya dalam kurun waktu empat hari. Foto: REUTERS / Ramadan Abed
Kamp Nuseirat sendiri telah menjadi target utama serangan Israel dalam sebulan terakhir, dengan lebih dari 40 serangan dilakukan sejak 7 Oktober 2023, khususnya menyasar sekolah-sekolah yang menampung para pengungsi Palestina. Foto: REUTERS / Ramadan Abed
Serangan pada 7 Juli di sekolah UNRWA lainnya juga mengakibatkan kematian 16 orang dan melukai 50 lainnya, termasuk anak-anak. Foto: REUTERS / Ramadan Abed
Advertisement
Advertisement
Lebih jauh lagi, pada 8 Juni lalu, serangan besar-besaran Israel di Kamp Nuseirat menewaskan sedikitnya 274 warga Palestina, termasuk 64 anak-anak dan 57 perempuan, serta melukai hampir 700 orang. Foto: REUTERS / Ramadan Abed