Sentilan Akun Militer Iran buat Warga Amerika: Presiden Kalian Pedofil

Nama Donald Trump disebut puluhan ribu kali dalam Epstein Files. Epstein sendiri merupakan miliader yang juga penjahat pelecehan seksual anak.

Magang
Oleh Magang - Reporter
Sentilan Akun Militer Iran buat Warga Amerika: Presiden Kalian Pedofil
Sentilan Akun Militer Iran buat Warga Amerika: Presiden Kalian Pedofil (Merdeka.com)

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat merambah ke media sosial dengan isu yang mengejutkan. Sebuah unggahan dari akun X (Twitter) bernama @iranmilitary24 mendadak viral karena melontarkan sindiran keras kepada publik Amerika Serikat terkait keterlibatan nama Donald Trump dalam skandal Jeffrey Epstein.

Dalam cuitannya yang diunggah baru-baru ini, akun yang mengidentifikasi diri sebagai Iran Military tersebut menuliskan kalimat singkat namun menohok dalam bahasa Inggris. "Dear Americans, Your president is a pedophile (Warga Amerika yang terhormat, presiden Anda adalah seorang pedofil)," tulis akun @iranmilitary24 dikutip merdeka.com, Jumat (6/2).

Unggahan tersebut sontak memancing reaksi beragam dari warganet global. Sindiran tajam ini muncul tak lama setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) merilis ribuan dokumen baru terkait kasus perdagangan seks yang melibatkan mendiang Jeffrey Epstein.

Ribuan Kali Nama Trump Disebut

Ledekan dari akun Iran tersebut bukan tanpa dasar, melainkan merujuk pada temuan dalam dokumen pengadilan yang baru dibuka ke publik. Dokumen tersebut menyoroti kedekatan masa lalu antara Donald Trump dan Jeffrey Epstein.

Berdasarkan laporan The New York Times, ditemukan lebih dari 38.000 referensi atau penyebutan yang berkaitan dengan Trump dalam puluhan ribu berkas yang dirilis.

Akun militer Iran Sentil Warga AS
Akun militer Iran Sentil Warga AS akun media sosial

Angka 38.000 tersebut mencakup penyebutan nama "Donald Trump", anggota keluarganya, hingga properti miliknya seperti Mar-a-Lago. Jumlah ini dinilai sangat fantastis dan mendominasi isi dokumen dibandingkan tokoh-tokoh lainnya.

Meski demikian, perlu dicatat bahwa tidak semua penyebutan tersebut mengindikasikan tindak pidana. Sebagian besar referensi tersebut berupa kliping berita, salinan artikel koran lama, serta foto-foto publik yang disimpan secara obsesif oleh Epstein semasa hidupnya. Trump sendiri dalam berbagai kesempatan telah membantah keterlibatannya dalam kejahatan seksual yang dilakukan Epstein.

Namun, fakta bahwa nama Presiden terpilih AS tersebut muncul ribuan kali dalam berkas predator seks, rupanya menjadi amunisi empuk bagi pihak Iran untuk melancarkan serangan psikologis di media sosial.

Rekomendasi