Krisis di Kuba Bikin Pecinta Hewan Kesulitan Penuhi Pakan Kucing dan Anjing Jalanan

Biaya untuk membeli kantong makanan anjing seberat 20 kg di Kuba bahkan melebihi gaji bulanan rata-rata penduduknya.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Krisis di Kuba Bikin Pecinta Hewan Kesulitan Penuhi Pakan Kucing dan Anjing Jalanan
Nelida Perez Gonzalez memberi makan kucing jalanan di Havana, Kuba, pada Kamis (24/8/2025). (Dok. AP/Ramon Espinosa) (© 2025 Liputan6.com)

Setiap sore, Nelida Perez yang berusia 81 tahun berjalan menyusuri jalanan berbatu di Kota Tua Havana, Kuba, diikuti oleh sekumpulan kucing yang kelaparan.

Selama bertahun-tahun, Nelida telah secara sukarela memberi makan kucing-kucing jalanan yang berkeliaran di area tersebut, yang juga merupakan salah satu destinasi wisata paling terkenal di ibu kota Kuba.

Awalnya, dia mengandalkan makanan yang dia miliki sendiri atau sumbangan dari restoran, tetapi dengan memburuknya kondisi ekonomi di pulau itu dan penurunan jumlah wisatawan, semakin sulit baginya untuk memberi makan kucing-kucing tersebut.

"Saya tidak pernah dalam hidup saya meminta makanan untuk memberi makan kucing-kucing itu," ungkap Nelida kepada The Associated Press.

"Sekarang saya dalam kesulitan karena pariwisata sepi dan ada krisis ekonomi," tambah dia.

Sejak tahun 2020, Kuba telah mengalami krisis ekonomi yang semakin parah, yang disebabkan oleh shutdown akibat COVID-19, sanksi dari Amerika Serikat (AS) yang lebih ketat, serta reformasi moneter internal yang memicu inflasi.

Meskipun pemerintah menyediakan vaksin, sterilisasi, dan beberapa klinik gratis, mereka tidak memiliki kapasitas untuk menyediakan tempat penampungan dan makanan bagi kucing dan anjing jalanan.

Walaupun data resmi tidak tersedia, para aktivis melaporkan bahwa banyak pecinta hewan telah mengubah rumah mereka—bahkan apartemen kecil—menjadi tempat penampungan, namun mereka kesulitan untuk memenuhi permintaan dan memberikan perawatan yang memadai.

"Jalanan akan membunuh mereka," kata Barbara Iglesias, seorang apoteker berusia 51 tahun yang telah mengadopsi lima anjing dan menyelamatkan serta menemukan rumah bagi belasan anjing lainnya.

Iglesias menjelaskan bahwa tantangan terbesar adalah mendapatkan makanan. Sebuah kantong makanan anjing seberat 20 kilo, yang cukup untuk satu anjing selama sekitar 45 hari, dijual dengan harga sekitar USD 80—jumlah yang tidak terjangkau bagi kebanyakan orang.

Situasi ini memaksa orang-orang untuk memberi makan hewan dengan jeroan babi, potongan ayam, atau daging cincang—yang juga sulit untuk didapatkan.

Di sisi lain, biaya vaksin tahunan mencapai sekitar USD 20, dan kunjungan ke dokter hewan memerlukan biaya tambahan USD 10, sementara gaji bulanan rata-rata di pulau ini hanya sekitar USD 12.

Jumlah hewan terlantar semakin bertambah

Menurut para pakar, meningkatnya jumlah hewan yang ditinggalkan di Kuba disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kenaikan harga pangan dan obat-obatan, migrasi ratusan ribu warga Kuba dalam lima tahun terakhir, serta tingginya angka kematian di kalangan orang dewasa lanjut usia.

"Orang-orang lebih fokus pada masalah mereka, yang sangat banyak: orang Kuba tidak punya air, tidak ada listrik, dan semakin sulit mendapatkan makanan," ungkap Annelie Gonzalez (36), salah satu pemimpin Proyek Aldameros, sebuah komunitas kucing yang berada di taman kawasan bersejarah Havana.

Annelie, yang bekerja sebagai manajer restoran, mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk merawat kucing-kucing tersebut.

"Memiliki hewan yang kita rawat berarti kita harus memberi makan dan merawatnya," ujarnya.

Bersama sekelompok sukarelawan kecil, ia mulai memberi makan 15 kucing di Taman Aldameros pada awal pandemi. Kini, mereka telah merawat lebih dari 150 kucing.

Melalui upaya mandiri dan beberapa sumbangan, mereka berhasil memasang pompa air dan kandang untuk kasus-kasus khusus, termasuk untuk anak-anak kucing.

Annelie juga menunjukkan angka yang menggambarkan skala masalah ini dengan sangat mencolok: pada awal dekade ini, sekitar tiga kucing yang ditelantarkan muncul di taman setiap minggu.

Namun, tahun ini, jumlah tersebut melonjak menjadi 15 kucing per hari. Sementara itu, di Kota Tua Havana, Nelida dengan penuh rasa sedih menceritakan bagaimana dia sering melihat orang-orang menyiksa, memukul, bahkan membunuh kucing-kucing jalanan.

"Selama saya masih hidup dan sehat dan orang-orang membantu saya," janji Nelida, "Saya akan selalu mencari makanan untuk mereka."

Rekomendasi