Rusia dan China Perluas Operasi Intelijen di Kuba Pantau Militer AS, Washington Siaga Penuh

Hal itu memicu kecemasan baru terkait aktivitas mata-mata asing yang berada dekat dengan wilayah AS.

Mardani
Oleh Mardani - Reporter
Rusia dan China Perluas Operasi Intelijen di Kuba Pantau Militer AS, Washington Siaga Penuh
Ilustrasi Rusia dan China Perluas Operasi Intelijen di Kuba Pantau Militer AS (chatgpt)

Pejabat Amerika Serikat mengungkap kekhawatiran atas meningkatnya aktivitas intelijen Rusia dan China di Kuba. Washington menilai kedua negara memperluas operasi pengawasan di pulau tersebut, sehingga memicu kecemasan baru terkait aktivitas mata-mata asing yang berada dekat dengan wilayah AS.

Laporan penilaian intelijen AS yang dikutip The Wall Street Journal menyebutkan Beijing dan Moskow memperkuat fasilitas pengawasan elektronik di Kuba serta menambah personel intelijen sejak 2023.

Pantau Aktivitas Militer AS

pangkalan militer as di jepang
pangkalan militer as di jepang US Air Force/Senior Airman Sean Campbell

Menurut para pejabat AS, fasilitas-fasilitas itu ditempatkan untuk memantau aktivitas militer Amerika di Florida, wilayah selatan AS. Pengawasan tersebut mencakup komunikasi yang berkaitan dengan Komando Pusat AS di Tampa dan Komando Selatan AS di dekat Miami.

Dalam penilaian itu, terdapat 18 lokasi intelijen sinyal yang telah teridentifikasi di Kuba. Demikian dikutip dari Anadolu, Senin (25/5/2026).

Pejabat AS menyebut China mengoperasikan tiga lokasi, sementara Rusia mengelola dua lokasi lainnya. Sejumlah fasilitas diyakini dijalankan bersama otoritas Kuba, sedangkan sisanya berada di bawah kendali pemerintah Kuba.

Washington memandang perkembangan ini sebagai bagian dari strategi yang lebih luas dari negara-negara pesaing AS untuk memperkuat pengaruh dan kehadiran mereka di Belahan Bumi Barat.

Pemerintahan Trump Perkeras Sikap terhadap Kuba

Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut menggunakan temuan intelijen tersebut untuk memperkuat alasan mengambil kebijakan yang lebih keras terhadap Havana. Pemerintah AS menilai Kuba kini menjadi platform operasi Rusia dan China yang berada sangat dekat dengan daratan Amerika.

Selain itu, aktivitas intelijen Kuba dilaporkan meningkat di sekitar Teluk Guantanamo, lokasi pangkalan angkatan laut AS di pesisir tenggara pulau tersebut.

Pejabat AS juga mengatakan Rusia dan China membagikan sebagian informasi intelijen kepada Kuba. Meski begitu, sebagian besar data yang dikumpulkan diyakini tetap digunakan untuk kepentingan kedua negara tersebut.

AS Tingkatkan Pengawasan

Donald Turmp pantau langsung serangan militer AS ke Houthi Yaman
Presiden AS Donald Trump menyaksikan serangan militer yang dilancarkan terhadap Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran atas serangan kelompok tersebut terhadap pengiriman barang di Laut Merah, di lokasi yang tidak disebutkan dalam gambar selebaran ini yang dirilis pada tanggal 15 Maret 2025. ©White House/Handout via REUTERS

Sebagai respons, AS memperketat pengawasan terhadap Kuba. Langkah itu dilakukan melalui penerbangan pesawat nirawak dan pemantauan satelit setelah adanya arahan dari Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard. Namun, kantor Gabbard menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut.

Di sisi lain, China membantah tuduhan Washington. Beijing menilai AS menyebarkan klaim palsu untuk menekan Kuba.

Rusia juga belum memberikan tanggapan resmi atas laporan itu. Meski demikian, Moskow secara terbuka terus mengkritik kebijakan AS terhadap Havana dan menegaskan dukungannya kepada Kuba.

Dinilai Bukan Ancaman Baru

Sejumlah mantan pejabat AS mempertanyakan apakah temuan terbaru tersebut benar-benar menunjukkan ancaman baru yang signifikan. Mereka menilai aktivitas intelijen Rusia dan China di Kuba sebenarnya telah berlangsung dan diketahui selama bertahun-tahun.

Para pengkritik juga menilai waktu munculnya peringatan tersebut kemungkinan berkaitan dengan upaya pemerintah AS membangun dukungan terhadap kebijakan yang lebih keras kepada Havana.

Rekomendasi