Saat gempa bumi dan tsunami melanda Semenanjung Kamchatka, Rusia, pada 30 Juli 2025 lalu, perhatian dunia langsung tertuju pada layar ponsel dan televisi.
Dari Tokyo hingga San Francisco, masyarakat memantau peringatan dini tsunami, laporan evakuasi, dan operasi penyelamatan secara real time.
Namun, di tengah hiruk pikuk kabar bencana, pengguna internet di China justru membanjiri media sosial dengan pencarian tak terduga: "Ramalan Gempa Kamchatka."
Ledakan pencarian itu dipicu oleh kembalinya perhatian publik pada sebuah manga Jepang yang terbit empat tahun silam.
Komik tersebut, karya ilustrator Jepang Ryo Tatsuki, disebut-sebut telah memprediksi secara akurat terjadinya gempa besar di bulan Juli 2025.
Dugaan ini memicu kepanikan baru di dunia maya, dan dalam waktu singkat, istilah “ramalan Tatsuki” menjadi trending di aplikasi Douyin (TikTok versi Tiongkok), dengan lebih dari 1,1 juta penayangan hanya dalam hitungan jam.
Salah satu artikel utama media Hong Kong bahkan mengangkat pertanyaan yang menggema luas: “Apakah ramalan Ryo Tatsuki benar-benar terjadi?” sebagaimana dikutip CNN, Senin (4/8).
Ketegangan ini bukan sesuatu yang baru. Sejak awal 2025, rumor soal potensi gempa besar di bulan Juli sudah beredar luas, sebagian besar dipicu oleh prediksi fiksi dalam manga tersebut.
Bahkan, sejumlah agen perjalanan di Tiongkok melaporkan peningkatan pembatalan liburan ke Jepang akibat kekhawatiran yang dipicu komik tersebut.Salah satunya dialami Andrea Wang, wisatawan berusia 25 tahun asal Shenzhen.
Ia mengaku sudah memesan tiket ke Tokyo sejak Januari, namun memutuskan untuk membatalkannya setelah membaca ulang isi manga itu.
"Saya tahu ini hanya fiksi, tapi setelah yang terjadi di Kamchatka, saya tidak ingin mengambil risiko," ujarnya.
Meski tsunami Kamchatka tidak menimbulkan kerusakan serius dan tidak berdampak langsung ke Jepang, rasa takut tetap menghantui.
Bahkan setelah tanggal 5 Juli yang dalam komik disebut sebagai “hari bencana besar” berlalu tanpa insiden, banyak orang masih memilih menunda perjalanan ke Jepang hingga akhir tahun.
Di sisi lain, sebagian masyarakat mulai merasa lega. Banyak wisatawan yang sempat membatalkan kunjungan kini kembali memesan ulang tiket, meski dengan kehati-hatian.
“Kami percaya pada sains, tapi trauma tsunami 2011 masih terasa,” ujar seorang agen perjalanan di Shanghai, merujuk pada bencana Tohoku yang menewaskan lebih dari 22.000 orang.
Fenomena ini menyoroti bagaimana karya fiksi bisa memengaruhi psikologi publik, terutama ketika dikaitkan dengan peristiwa nyata. Kombinasi antara narasi budaya pop dan bencana alam menciptakan efek bola salju di era media sosial sebuah dinamika yang mungkin semakin sering terjadi di masa depan.
Advertisement
Ramalan Tatsuki: Apakah Hanya Firasat atau Kebetulan?
Ryo Tatsuki terkenal melalui karyanya, The Future I Saw, sebuah manga yang menggambarkan pengalaman penglihatan dalam mimpinya, di mana beberapa di antaranya dianggap mencerminkan kejadian yang sebenarnya.
Cerita ini semakin menarik perhatian publik setelah banyak yang meyakini bahwa ia telah "meramalkan" gempa Tohoku pada tahun 2011 dalam edisi manga yang dirilis pada tahun 1999.
Namun, para skeptis berpendapat bahwa prediksi Tatsuki terlalu kabur untuk dianggap serius. Dalam sebuah wawancara, Tatsuki sendiri meminta agar masyarakat tidak terlalu terpengaruh oleh mimpinya.
Selain itu, para ahli seismologi juga sering mengingatkan bahwa gempa bumi tidak dapat diprediksi dengan akurat.
Meskipun demikian, kisah Tatsuki telah menjadi bagian dari imajinasi kolektif, terutama di negara-negara yang terletak di sepanjang Cincin Api Pasifik.
Di Jepang, di mana ancaman gempa dan tsunami sangat nyata, tidak mengherankan jika manga seperti ini mendapatkan perhatian khusus di kalangan publik.
Ketertarikan terhadap cerita-cerita semacam ini mencerminkan kekhawatiran dan ketidakpastian yang dirasakan oleh masyarakat yang hidup di daerah rawan bencana.
Hal ini menunjukkan bagaimana seni dapat menciptakan hubungan emosional yang mendalam dengan pengalaman nyata dan ketakutan yang dihadapi oleh banyak orang.