Aku Membacakan Ayat Kursi dan Surat Yasin untuknya Lalu Menangis Diam-Diam

Seorang perempuan lansia di Gaza hanya sendirian menguburkan suaminya yang tewas dibunuh tentara Israel.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Aku Membacakan Ayat Kursi dan Surat Yasin untuknya Lalu Menangis Diam-Diam
aziza qishta dan cucunya (MEE/Ahmad Aziz)

Di sebuah ladang di selatan Gaza saat serangan Israel masih bertubi-tubi tanpa henti, Aziza Qishta menggali sebuah makam hanya dengan kedua tangannya.

Tanpa sehelai pun kain kafan, perempuan Palestina 65 tahun itu membungkus jasad suaminya dengan kain gorden dan menguburkannya sendirian.

Ibrahim Qishta, 70, tewas setelah terkena pecahan peluru tentara Zionis saat operasi militer Israel di Rafah awal tahun ini.

Ketika tetangga mereka mengungsi menyelamatkan diri, Ibrahim menolak dan istrinya juga tidak mau meninggalkannya.

Sejak Israel menghentikan gencatan senjata Maret lalu, tentara mereka sudah membunuh hampir 4.000 warga Palestina sehingga total korban jiwa sejak Oktober 2023 menjadi lebih dari 54.000.

Makan makanan kaleng

Ketika tentara Israel kembali menyerbu Rafah pada Maret dan menerapkan blokade sepenuhnya, seluruh anak Aziza mengungsi. Ibrahim, bagaimana pun, tetap menolak pergi.

"Dia buta, tidak bisa bergerak sendiri," kata Qishta kepada Middle East Eye.

"Dia bilang pada saya, 'Aku tidak akan meninggalkan rumah ini dan kau akan tetap bersamaku.'"

Jawaban Aziza tegas tanpa keraguan: "Tentu, aku tidak akan meninggalkanmu setelah 50 tahun bersama. Tidak akan pernah."

Selama dua bulan mereka tetap di rumah itu.

Dengan kondisi tidak bisa ke mana-mana dan persedian makanan terbatas, mereka bertahan dengan apa yang mereka simpan: makanan kaleng, kacang-kacangan, beras, bihun, selai, dan pasta.

Air diambil dari gedung terdekat bila situasi memungkinkan.

Tetap bersama

aziza qishta dan cucunya
aziza qishta dan cucunya MEE/Ahmad Aziz

"Siang malam kami dihujani tembakan, dari arah timur, utara, barat," kata dia. "Yang paling parah dari barat."

Mereka bisa mendengar deru pesawat jet, berondongan tembakan, dan tank di sekeliling mereka.

"Kami tak bisa bergerak," kata Aziza.

Bahkan ketika rumah putra mereka di samping rumah juga hancur dibom, mereka tetap bertahan.

"Suami saya kukuh ingin tinggal dan saya tetap bersamanya."

Sepupu Aziza berada di sebuah rumah tak jauh dari rumah mereka dan rumah itu dihantam bom.

"Mereka tertimpa bangunan rumah. Lebih dari 10 orang masih tertimbun di bawah reruntuhan hingga hari ini."

Lima jam masih berdarah

Lalu datanglah hari ketika sebuah ledakan menghantam gerbang rumah.

"Debu memenuhi rumah dan ketika pandangan sudah jelas, saya melihat rumah-rumah di sekeliling kami hancur," kata Qishta.

"Tiba-tiba saya melihat suami saya berdarah lehernya--dia terkena pecahan bom."

Ketika dia melihat luka itu, dia segera bergegas, merawat lukanya, mencuci wajah suaminya, mengoleskan antiseptik, dan membalutnya.

Meski suaminya cukup berat, dia menggendongnya di punggung.

"Tak ada orang yang bisa membantu. Kami bergerak pelan sekali. Saya akan berhenti biar dia bisa istirahat lalu kami berjalan lagi."

Selama lima jam Ibrahim masih terus berdarah.

"Kami hanya sendirian. Tak ada suara, tak ada cahaya."

Momen terakhir

tentara israel
tentara israel Press TV

Akhirnya mereka bisa sampai ke rumah sepupu dan membaringkan suaminya di sebuah kasur.

"Saya bilang:'Saya akan mencari makanan,' tapi dia menolak. "Dia hanya menelan sesendok madu dan meminta air minum. 'Siram kepalaku dengan air.'"

Aziza tetap berada di sampingnya.

"Saya membaringkannya lalu duduk di sampingnya, tak pernah meninggalkannya."

Aziza melihat tangan kiri suaminya gemetar dan dia menawrkan untuk memijatnya.

"Dia bilang:'Tidak usah, biarkan saja.' Lalu tiba-tiba tubuhnya lemas." Ketika Aziza melihat wajah suaminya, dia sudah mengembuskan napas terakhir.

"Tidak ada tentara di sekitar. Mereka datang, menjatuhkan bom dan pergi," kata dia.

Aziza kemudian mencari ladang dan menemukan sebuah lubang kecil di dekat sebuah pohon zaitun. Tanpa kain kafan, dia memakai gorden jendela untuk membungkus jasad suaminya dan mulai mendorongnya agar masuk ke lubang.

"Saya menaruh jasadnya di kantong plastik dan mulai menggulingkannya pelan-pelan. Butuh waktu dua jam untuk melakukan itu. Tapi Allah memberi saya kekuatan."

Dia menguburkan jasad suaminya sendirian, mula-mula menutupi jasadnya dengan lembaran seng, kemudian kayu, dan akhirnya tanah.

"Aku membacakan ayat kursi dan surat Yasin untuknya lalu menangis diam-diam."

Ibrahim tewas pada 10 Mei tapi Aziza tetap sendirian di rumah itu selama dua pekan sampai 24 Mei ketika makanan dan air habis.

Hari itu dia menduga kuburan suaminya dibom.

"Saya mendengar suara drone dan tembakan."

Hari berikutnya dia memeriksa kuburan itu. "Saya melihat lapisan seng itu bolong kena peluru dan kepala suami saya terlihat."

Dengan suara berat, dia mengenang: “Hati saya hancur. Saya mengambil kepalanya, rasanya ringan seperti sepotong roti, dan mengembalikannya ke dalam kuburan, menggali sedikit lebih dalam, menambahkan sepotong seng dan kayu baru, dan menguburnya lagi.”

Rekomendasi