Tanpa Hukuman Fisik, Begini Cara 'Halus' Sekolah di Finlandia Tangani Siswa Nakal

Berbeda dengan banyak negara yang mengandalkan tindakan hukuman, sekolah di Finlandia gunakan cara yang lebih halus untuk mendisiplinkan siswa.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Tanpa Hukuman Fisik, Begini Cara 'Halus' Sekolah di Finlandia Tangani Siswa Nakal
Tanpa Hukuman Fisik, Begini Cara 'Halus' Sekolah di Finlandia Tangani Siswa Nakal (Merdeka.com)

Finlandia merupakan negara dengan kualitas pendidikan nomor satu di dunia karena pendidikan merupakan salah satu pilar bagi kesejahteraan masyarakat di sana. Sistem pendidikan Finlandia dikenal karena pendekatannya yang berpusat pada siswa, pengajaran berkualitas tinggi, serta penekanan pada kesetaraan. Namun, salah satu kekuatannya yang kurang terkenal adalah bagaimana cara sekola-sekolah Finlandia menangani disiplin manajemen perilaku siswa.

Tidak seperti banyak negara yang mengandalkan tindakan hukuman seperti skorsing, penahanan, atau aturan disiplin yang ketat, sekolah-sekolah di Finlandia menerapkan pendekatan berbasis pada kepercayaan, pemulihan, dan pencegahan dalam mengelola perilaku siswa.

Di Finlandia, otoritas pendidikan dan guru memandang disiplin sebagai kesempatan untuk belajar, bukan hukuman. Fokusnya adalah menciptakan iklim sekolah yang positif, menangani akar penyebab masalah, dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Budaya Kepercayaan

Guru, siswa, dan orang tua memiliki tingkat kepercayaan bersama yang mendalam. Hal tersebut memainkan peran penting dalam menjaga disiplin. Berbeda dengan sistem disiplin yang kaku, para pendidik Finlandia mengandalkan komunikasi dan bimbingan terbuka untuk membantu siswa mengatur perilaku mereka sendiri.

Misalnya, di sekolah dasar Finlandia, guru dapat mengizinkan siswa untuk beristirahat saat dibutuhkan daripada memaksakan keheningan di kelas. Cara ini membantu siswa mengembangkan disiplin diri dan tanggung jawab pribadi daripada merasa dikendalikan atau dibatasi. Pada beberapa sekolah, ruang kelas memiliki “Quiet Corners” atau sudut tenang, yang bertujuan sebagai tempat siswa menenangkan diri untuk kembali fokus.

Selain itu, tata letak dan lingkungan sekolah berkontribusi pada budaya kepercayaan. Banyak sekolah Finlandia memiliki ruang belajar terbuka daripada ruang kelas yang tertutup. Ruangan terbuka memungkinkan pengalaman belajar yang lebih fleksibel untuk siswa belajar. Tata letak seperti ini menumbuhkan rasa tanggung jawab dan rasa hormat bersama, karena siswa dipercaya untuk mengatur kecepatan belajar mereka sendiri sementara guru membimbing mereka.

Refleksi sebagai Pemulihan

Sekolah-sekolah Finlandia menekankan keadilan restoratif, sebuah pendekatan yang berfokus pada perbaikan hubungan daripada harus menghukum siswa. Alih-alih mengisolasi atau menegur siswa, sekolah-sekolah menciptakan peluang untuk dialog, refleksi, dan rekonsiliasi.

Ketika terjadi konflik, guru mengadakan 'lingkaran pemulihan' untuk mendorong semua pihak mengungkapkan perasaan dan mencari solusi bersama. Selain itu, siswa yang lebih tua dilatih sebagai mediator untuk menyelesaikan perselisihan ringan, sementara siswa lain diajak merefleksikan kesalahan mereka melalui tugas tertulis.

Jika masalah lebih serius, sekolah mengadakan pertemuan antara siswa, guru, dan orang tua untuk mencari akar masalah. Beberapa sekolah juga mengajak siswa melakukan kegiatan sosial seperti membantu teman atau berkontribusi dalam acara sekolah sebagai bentuk tanggung jawab. Pendekatan seperti ini menciptakan lingkungan belajar yang menghargai tanggung jawab dan mencegah perilaku buruk berulang.

Cegah Kenakalan

Salah satu kekuatan utama sistem disiplin di Finlandia adalah intervensi dini. Guru dan konselor bekerja sama untuk mengidentifikasi siswa yang bermasalah dan memberikan dukungan sebelum masalah membesar. Fokus utamanya adalah pencegahan, maka guru yang proaktif dapat mengamati dan mendukung siswa melalui strategi yang membantu siswa untuk bisa mengatur dirinya sendiri dengan baik.

Dilansir Tech Class, sebuah sekolah di Espoo, Finlandia, berhasil menurunkan masalah perilaku siswa hingga 35 persen melalui program intervensi proaktif yang menekankan pada pengaturan diri dan pembelajaran sosial-emosional. Guru mendapatkan pelatihan khusus, sementara sekolah menyediakan 'zona tenang' bagi siswa yang merasa tertekan.

Hasilnya, tingkat stres siswa menurun drastis, fokus belajar meningkat, dan partisipasi di kelas pun membaik. Pendekatan preventif ini menunjukkan bahwa disiplin efektif tidak harus berbasis kontrol, melainkan bisa dibangun lewat bimbingan, empati, dan pemberdayaan siswa.

Reporter Magang: Devina Faliza Rey

Rekomendasi