China membuat terobosan baru dengan menyulap Gurun Taklamakan menjadi padang hijau pepohonan yang bertujuan untuk memperlambat perluasan gurun dan mengurangi badai pasir yang merusak.
Proyek hutan buatan ini dikenal sebagai Program Three-North Shelterbelt atau Inisiatif Tembok Hijau Besar. Proyek ini merupakan bagian dari upaya negara tersebut untuk memerangi proses penggurunan dan melindungi wilayah kering yang rentan.
Proyek penghijauan ini dimulai pertama kali pada tahun 1978, sejak saat itu para pekerja telah menanam lebih dari 30 juta hektar pohon. Praktik penanaman ini telah menciptakan “sabuk hijau” yang membentang sejauh 3.000 kilometer di sekitar gurun di wilayah Xinjiang Barat Laut.
Inisiatif penanaman pohon ini telah meningkatkan cakupan hutan di China secara signifikan. Proyek ini telah menutupi lebih dari 25% lahan di negara itu pada tahun 1949. Sementara itu, tutupan lahan telah tumbuh dari 1 persen menjadi 5 persen selama empat dekade terakhir.
Advertisement
Tantangan melawan penggurunan
Meski proyek tembok hijau ini telah mendapat banyak pujian atas meningkatnya jumlah tutupan lahan. Para kritikus menyebutkan bahwa banyak dari pohon yang ditanam mati dan gagal bertahan hidup.
Menanggapi hal tersebut, Zhu Lidong, pejabat kehutanan dari Xinjiang tetap mengupayakan proyek tersebut agar tetap berjalan. Ia mengusulkan untuk memulihkan hutan poplar tersebut dengan mengalihkan banjir.
Selain itu, para pejabat juga merencanakan jaringan hutan baru untuk melindungi lahan pertanian dan kebun buah di sepanjang tepi barat gurun untuk memperkuat pertahanan wilayah tersebut terhadap penggurunan.
Data resmi dari Biro China menunjukan 26,8% lahan di China masih tergolong gurun. Upaya ini merupakan penurunan kecil dari 27,2% yang tercatat satu dekade lalu.
Upaya China di Gurun Taklamakan memberikan gambaran sekilas tentang tantangan dan kemungkinan pemulihan lingkungan dalam skala besar. Lebih lanjut para ahli mengungkapkan penanaman pohon saja masih tidak cukup untuk memerangi penggurunan. Perlu adanya peningkatan pengelolaan lahan dan pemanfaatan teknik inovatif.
Reporter Magang: Elma Pinkan Yulianti