Ada 3 Kali Pergantian PM Inggris dalam 7 Pekan, Begini Penjelasannya

Publik Inggris dalam tujuh pekan terakhir telah menyaksikan tiga kali pergantian Perdana Menteri (PM). Mulai dari Boris Johnson yang lengser karena berbagai skandalnya, kemudian Liz Truss yang mengundurkan diri karena berbagai masalah yang tidak dapat dihadapinya, hingga naiknya Rishi Sunak sebagai PM baru Inggris.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Ada 3 Kali Pergantian PM Inggris dalam 7 Pekan, Begini Penjelasannya
PM Inggris Rishi Sunak. ©REUTERS/Hannah McKay

Publik Inggris dalam tujuh pekan terakhir telah menyaksikan tiga kali pergantian Perdana Menteri (PM). Mulai dari Boris Johnson yang lengser karena berbagai skandalnya, kemudian Liz Truss yang mengundurkan diri karena berbagai masalah yang tidak dapat dihadapinya, hingga naiknya Rishi Sunak sebagai PM baru Inggris.

Di balik semuanya, terdapat peristiwa yang memantik pergantian-pergantian. Dikutip dari laman South China Morning Post, Rabu (26/10), berikut peristiwa-peristiwa di balik pergantian itu.

November – Desember 2021

Mundurnya Boris Johnson sebagai PM Inggris dimulai dari skandal pertamanya, yaitu skandal “party gate”. Kala itu Boris diketahui menyelenggarakan pertemuan dan pesta di kediaman resminya, Downing Street di saat Inggris sedang lockdown.

Tak lama setelah itu, juru bicara Downing Street Allegra Stratton tidak sengaja menceritakan tentang pesta yang diselenggarakan di kediaman Boris. Berbagai foto pesta yang diadakan di Downing Street pun mulai tersebar pada 14 Desember tahun lalu.

Dalam foto itu diketahui sekitar 100 pejabat pemerintah menghadiri pesta. Mereka pun melanggar peraturan lockdown Inggris.

Januari – April 2022

Sebuah surel milik sekretaris pribadi Boris, Martin Reynolds yang mengundang 100 orang ke pesta di Downing Street bocor. Mengetahui bocornya surel itu, Boris meminta maaf dan mengakui kesalahannya, namun dia tetap bersikukuh kegiatan yang diadakan di kediamannya hanyalah acara kerja.

Penyelidikan terkait “party gate” pun dilakukan Kepolisian Metropolitan London. Berdasarkan penyelidikan, Rishi Sunak terbukti menghadiri acara ulang tahun Boris pada Juni 2020.

Boris dan Sunak pun didenda oleh Kepolisian Metropolitan London karena mengadakan dan menghadiri acara ulang tahun di tengah lockdown.

Karena ketahuan, Boris mengajukan permintaan maaf penuh kepada publik Inggris. Meski telah mengajukan maaf, tetapi pihak oposisi Inggris memandang Boris sebagai PM pertama yang ketahuan melanggar hukum.

Boris juga ketahuan berbohong di depan seluruh anggota parlemen Inggris. Akhirnya Boris dihantui penyelidikan parlemen terhadap pesta yang diselenggarakannya.

Mei – Juli 2022

Sue Gray, sekretaris tetap kedua kantor kabinet Inggris mengeluarkan laporan penuh mengenai pesta yang diselenggarakan di Downing Street dan Whitehall. Dalam laporan itu, Sue menjelaskan kalau pesta itu diikuti banyak pejabat Inggris.

Pejabat-pejabat itu meminum banyak minuman, bernyanyi karaoke, saling bertengkar, dan memarahi petugas keamanan dan kebersihan.

Mengetahui terbitnya laporan pesta, Boris menyatakan kalau dia bertanggung jawab penuh atas skandal-skandal itu.

Berbagai staf Boris mulai mengundurkan diri, dimulai dari ketua anti-korupsi pemerintah, John Penrose pada 6 Juni. Penrose pun meminta agar Boris ikut mengundurkan diri karena telah melanggar kode kementerian.

Kemudian pada 30 Juni, Chris Pincher mengundurkan diri dari jabatan wakil kepala setelah dia diduga menyerang tamu di klub Carlton, klub yang dimiliki anggota partai Konservatif Inggris.

Awalnya Boris mengaku dia tidak mengetahui mengenai insiden Pincher. Tetapi nyatanya Boris mengetahui insiden itu, bahkan dari tahun 2019.

Boris pun terpaksa meminta maaf karena kelalaian dan skandal-skandal yang terjadi di bawah pemerintahannya. Di saat yang sama, pada 5 Juli, Sunak mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan. Menteri Kesehatan, Sajid Javid turut mengundurkan diri di tanggal yang sama.

Akhirnya pada 7 Juli, Boris Johnson menyatakan pengunduran dirinya dari jabatan sebagai PM Inggris. Kemunduran Boris sebagai PM diikuti setelah hampir 60 anggota parlemen mengundurkan diri dari jabatan mereka.

September – Oktober 2022

Melewati pertarungan internal melawan Rishi Sunak, Liz Truss berhasil mendapatkan suara terbanyak. Pada 6 September, Truss menggantikan Boris sebagai PM Inggris. Untuk membawa Inggris keluar dari masalah ekonomi, Truss memilih Kwasi Kwarteng sebagai Menteri Keuangan.

Sebagai langkah menyelamatkan ekonomi Inggris, Kwarteng memperkenalkan proposal pemotongan pajak. Dalam proposal itu, Kwarteng menetapkan penghapusan tarif pajak tertinggi, mengurangi bonus bankir, dan membatasi sistem kesejahteraan masyarakat.

Tetapi keputusan ini tidak membawa Inggris keluar dari masalah ekonominya. Bahkan keputusan ini membuat mata uang Inggris semakin melemah.

Truss sadar akan masalah yang terjadi akibat keputusan pemotongan pajaknya. Truss dan Kwarteng akhirnya meninggalkan keputusan pemotongan pajak. Posisi Menteri Keuangan pun diganti dan dijabat oleh Jeremy Hunt.

Tidak lama menjabat sebagai menteri, Hunt mengkritik keputusan Truss. Truss juga dikritik oleh mantan menteri Crispin Blunt. Blunt bahkan meminta agar Truss mengundurkan diri dari jabatan PM Inggris.

Lalu pada 19 Oktober, kepemimpinan Truss dipertanyakan di parlemen Inggris. Truss pun diminta berbagai pihak untuk mengundurkan diri karena gagal menjalankan tugasnya sebagai PM.

Akhirnya pada 20 Oktober, Truss menyatakan pengunduran dirinya. Dalam pidato pendek, Truss mengungkap kalau dia tidak dapat menjalankan mandat yang diberikan partai Konservatif.

Empat hari setelah Truss mengundurkan diri, tepatnya pada 24 Oktober, Sunak dipilih anggota partai Konservatif untuk mengisi kursi jabatan PM Inggris.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan

Rekomendasi