Dalam beberapa waktu terakhir, para aktivis iklim melakukan aksi protesnya dengan menyasar lukisan-lukisan para seninam dunia. Mereka berusaha mengotori lukisan ini dengan melemparkan berbagai barang atau makanan.
Sasaran terbaru yaitu lukisan Claude Monet yang ada di Museum Barberini di Postdam, Jerman. Dua aktivis dari Letzte Generation (Generasi Terakhir) melempar kentang tumbuk ke lukisan berjudul "Les Meules" tersebut pada Minggu, dikutip dari laman Al Arabiya.
Aksi tersebut mereka lakukan untuk memprotes pengerukan bahan bakar fosil. Namun menurut laporan, lukisan tersebut tidak mengalami kerusakan setelah dilempar, seperti dikonfirmasi pihak museum.
Selain melempar kentang tumbuk, dua aktivis itu juga menempelkan diri ke tembok di bawah lukisan. Setelah beraksi, para aktivis ini juga mengunggah video mereka di Twitter.
Lukisan Monet tersebut merupakan target terbaru. Sebelumnya, aksi serupa juga menyasar lukisan dari beberapa seniman dunia berikut:
Advertisement
Lukisan "Bunga Matahari" karya Vincent Van Gogh yang dipamerkan di Galeri Nasional London, Inggris, dilempari sup tomat oleh pengunjuk rasa. Namun enam jam setelah insiden pelemparan tersebut, lukisan itu telah dibersihkan dan dipajang kembali, seperti disampaikan pihak Galeri Nasional.
Video menunjukkan, dua orang yang memakai kaos Just Stop Oil membuk kaleng sup dan melemparkan isinya ke lukisan tersebut sebelum menempelkan tangan mereka ke tembok. Dua orang itu kini telah ditangkap, dikutip dari BBC, Minggu (16/10).
Galeri Nasional sebelumnya mengatakan lukisan itu ditutupi kaca, oleh karena itu tidak rusak saat insiden tersebut.
"Tidak lama setelah pukul 11.00 pagi ini, dua orang memasuki Ruang 43 Galeri Nasional," jelas pernyataan Galeri Nasional.
"Pasangan itu tampak menempelkan diri mereka ke tembok di sebelah (lukisan) Bunga Matahari Van Gogh. Mereka juga melempar cairan merah yang tampaknya sup tomat ke lukisan tersebut."
Setelah insiden itu, ruangan itu ditutup untuk pengunjung dan pihak galeri menghubungi polisi.
"Ada kerusakan kecil bingkai (lukisan) tapi lukisannya tidak rusak," jelas pernyataan tersebut.
Video dari insiden itu menunjukkan seorang pengunjuk rasa berteriak: "Apa yang lebih berharga? Seni atau hidup? Apakah ia lebih berharga daripada makanan? Lebih berharga daripada keadilan? Apakah kalian lebih memperhatikan proteksi sebuah lukisan atau proteksi planet kita dan warganya?"
Advertisement
Dua aktivis iklim menempelkan tangan mereka ke kaca akrilik yang menutupi lukisan anti-perang karya Pablo Picasso berjudul "Massacre in Korea" (Pembantaian di Korea) yang disimpan di Galeri Nasional Victoria, Melbourne, Australia pada Minggu. Namun lukisan itu tidak mengalami kerusakan.
Dalam foto yang dibagikan gerakan Extinction Rebellion di media sosial, para aktivis berpakaian serba hitam itu menempelkan tangannya di atas lukisan tersebut. Seorang pria memakai kaos simbol Extinction Rebellion berdiri di samping kedua aktivis tersebut.
Di lantai di kaki mereka digelar sebuah spanduk hitam dengan tulisan "Climate Chaos = War + Famine" (Kekacauan Iklim = Perang + Kelaparan).
"Diyakini tiga pengunjuk rasa itu memasuki lantai dasar galeri sebelum seorang pria dan seorang perempuan menempelkan (tangan) mereka ke penutup pelindung sebuah lukisan Picasso," kata juru bicara Kepolisian Victoria, dikutip dari laman Al Arabiya, Senin (10/10).
Extinction Rebellion Victoria mengatakan di Facebook, lukisan Picasso tahun 1951 itu "menampilkan kengerian perang". Menurut mereka, masalah iklim akan memperparah konflik di seluruh dunia.
Lukisan itu dipamerkan pada hari terakhir pameran "The Picasso Century" yang berlangsung di galeri tersebut.