Militer Sudan menggulingkan kekuasaan dari pemerintah transisi pada Senin. Pejabat Kementerian Kesehatan menyampaikan tujuh orang tewas karena tembakan dan 140 terluka dalam bentrokan tentara dan demonstran.
Pemimpin kudeta, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, membubarkan Dewan Kedaulatan militer-sipil yang dibentuk untuk memandu negara itu menuju demokrasi menyusul tergulingnya penguasa Omar al Bashir dalam pemberontakan dua tahun lalu.
Dikutip dari Reuters, Selasa (26/10), Burhan mengumumkan darurat nasional, mengatakan pasukan bersenjata perlu melindungi keselamatan dan keamanan. Dia berjanji untuk menggelar pemilu pada Juli 2021 dan menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan sipil terpilih nantinya.
“Apa yang sedang dihadapi negara saat ini ancaman dan bahaya nyata bagi mimpi-mimpi anak muda dan harapan bangsa,” jelasnya.
Kementerian Informasi Sudan, yang masih setia kepada Perdana Menteri Abdalla Hamdok yang digulingkan, mengatakan di halaman Facebooknya, konstitusi transisi memberikan tidak hanya perdana menteri hak untuk mendeklarasikan darurat keamanan dan tindakan militer itu merupakan sebuah kejahatan. Kementerian ini juga mengatakan Hamdok masih menjadi pemerintah transisi yang sah.
Menurut diplomat PBB, Dewan Keamanan PBB sepertinya akan membahas isu Sudan ini secara tertutup pada Selasa.
“Kami menolak tindakan militer dan menyerukan pembebasan segera perdana menteri dan lainnya yang ditempatkan dalam tahanan rumah,” ujar juru bicara Gedung Putih, Karine Jean-Pierre.
Anak-anak muda penentang kudeta menutup jalan-jalan dan bentrok dengan tentara. Koalisi oposisi utama, Pasukan Kebebasan dan Perubahan, yang mendorong penggulingan Bashir dan bernegosiasi dengan dewan militer-sipil, mengatakan di Twitter pihaknya menyerukan aksi damai di jalan-jalan untuk menentang kudeta militer termasuk melakukan demonstrasi, menutup jalan, dan pembangkangan sipil.
Hamdok ditangkap dan dibawa ke lokasi yang tidak diketahui setelah menolak menerbitkan pernyataan untuk mendukung penggulingan tersebut.
Kementerian Informasi juga mendesak perlawanan dan mengatakan puluhan ribu orang menentang kudeta turun ke jalan dan dihadapkan dengan tembakan dekat markas militer di Khartoum. Karyawan bank pusat mengumumkan mogok untuk menentang kudeta.
Tentara juga menangkap anggota sipil Dewan Kedaulatan dan tokoh pemerintah. Selain itu juga menangkap direktur televisi nasional.
“Burhan mengelabui kami. Ini kudeta militer,” kata seorang pemuda, Saleh.